Home / Opini

Rabu, 28 Juli 2021 - 01:36 WIB

Suka Duka Pembelajaran Online di SMP Negeri 2 Andong Kabupaten Boyolali

Sejak bulan April 2020, Indonesia termasuk negara yang terkena dampak pandemi Covid-19.  Penyakit yang dikategorikan ke dalam jenis wabah yang menyebar secara global  ini telah memberi dampak di berbagai sendi kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Perubahan drastis terjadi di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Tatanan kehidupan baru membuat setiap orang dituntut untuk beradaptasi. 

Pandemi Covid-19 tak bisa dipungkiri menjadi faktor utama terhambatnya berbagai kegiatan masyarakat, salah satunya pada sektor pendidikan. Kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya dilaksanakan dengan tatap muka, saat ini sebagian besar beralih menjadi dalam jaringan atau daring. Perubahan yang drastis tersebut menyebabkan kesulitan tersendiri bagi guru di tingkat sekolah formal.

Belajar dari rumah secara daring atau online dilaksanakan sebagai salah satu bentuk solusi untuk menekan jumlah pasien yang terinfeksi Covid-19 dan agar proses mendidik tetap terselenggara.  Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim:  “Program Belajar dari Rumah merupakan bentuk upaya Kemendikbud membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan masyarakat di masa darurat COVID-19.” seperti dikutip dari laman Kemendikbud.

Di lingkungan pendidikan Kabupaten Boyolali, darurat penanganan wabah virus Covid-19 diperpanjang hingga 31 Juli 2021. Anjuran untuk menjaga jarak sosial, bekerja dari rumah, dan belajar dari rumah dengan sistem pembelajaran online untuk para siswa dan guru, tetap dilaksanakan dan semua ini membutuhkan adaptasi dan kerja lebih keras.

Baca Juga:  Keunggulan WhatsApp sebagai Media Pembelajaran Online

Ya, masa pandemi Covid-19 ini telah membuat pola pendidikan berubah yang telah berlangsung selama 2 tahun terakhir ini di mana proses belajar mengajar harus dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet. Hal ini tentu memberikan pengalaman baru bagi para siswa. Kini mereka harus belajar di rumah setiap harinya hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Perubahan apapun yang terjadi tentu memiliki dampak, entah itu positif ataupun negatif. Misalnya, di dalam pembelajaran masa pandemi ini banyak orang tua yang menjadi “Guru Dadakan”  yang bertugas mengawal proses mendidik anak di rumah hingga pandemi berakhir nanti. Dengan segala keterbatasan yang ada, tentu akan ditemui berbagai kendala

Belajar daring di satu sisi memberikan dampak positif namun ada juga sisi negatifnya. Positifnya, para guru, orang tua, dan siswa mampu mengimplementasikan kecanggihan teknologi kekinian dalam sebuah pembelajaran. Contohnya, penggunaan ponsel pintar untuk pembelajaran melalui aplikasi Zoom, Google Meeting, dan lainnya. Sebelumnya, gaya belajar seperti ini tidak dikenal sama sekali. Namun  kini menjadi kebiasaan dalam pembelajaran. Dan guru-guru mau tak mau harus meningkatkan kapasitas dan kualitasnya dalam pembelajaran berbasis teknologi tersebut.

Namun di sisi lain, pembelajaran di masa pandemi ini juga ada sisi negatifnya. Kejenuhan dan rasa malas kini dirasakan siswa. Para siswa harus menjalani kebiasaan baru dalam proses belajar. Mereka setiap hari dihadapkan dengan ponsel agar dapat hadir pada saat jam belajar. Selain itu, banyak siswa yang mengeluhkan banyaknya tugas yang diberikan oleh guru bahkan tugasnya bisa dua kali lipat lebih banyak dibandingkan saat pembelajaran secara tatap muka.

Baca Juga:  Tumbuhnya Literasi Digital di Kalangan Guru

Yang masih dirasakan sulit oleh para siswa  dan guru adalah adanya perubahan pola kegiatan belajar mengajar, dari tatap muka di kelas menjadi cara online baik melalui WhatsApp maupun aplikasi lainnya. Metode belajar online seperti ini memiliki kendala tersendiri baik dari siswa atau guru.

Bagi guru, memberikan materi belajar secara online dianggap lebih sulit daripada tatap muka di kelas. Di samping itu, guru sering merasa kesulitan mengajak para siswanya untuk aktif dan komunikatif.

Sementara untuk siswa,  kendala belajar melalui online membutuhkan daya tangkap yang lebih cepat serta butuh biaya yang lebih tinggi karena perlu alat ponsel pintar dan kuota internet. Selain itu, siswa juga kesulitan memahami materi yang dijelaskan guru secara online dan juga banyaknya tugas sehingga rasa bosan sering menghinggapi pikiran siswa.

Ditulis oleh Medi Aminah, S.Pd., Guru di SMP Negeri 2 Andong Kabupaten Boyolali

Share :

Baca Juga

pembelajaran online

Opini

Nasib Buruk Guru Honorer dari Dulu sampai Saat Ini

Opini

Kunci Keberhasilan Pelaksanaan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Opini

Moda Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Opini

Cara Mudah Membuktikan Rumus Pythagoras Menggunakan Geogebra dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Opini

Kini Tak Seindah Dulu dan Dulu Tak Seindah Kini

Opini

Apakah Guru Sekarang Harus Menguasai Penggunaan Teknologi dalam Mengajar?
bosan belajar online

Opini

Cara Mengatasi Bosan Belajar Online
pendidikan remaja

Opini

Remaja dan Pendidikan Keterampilan Hidup