Home / Opini

Jumat, 18 Juni 2021 - 15:13 WIB

Mengukur Probabilitas Ganjar Pranowo Menjadi Presiden 2024

Pertemuan Puan Maharani dengan tokoh dan kader PDI Perjuangan (PDIP)  di Jawa Tengah beberapa  beberapa bulan lalu, tanpa menghadirkan Gubernur Jawa Tengah yang merupakan Kader PDIP Ganjar Pranowo, membuka mata masyarakat akan adanya persaingan kepemimpinan antara Ganjar Pranowo dengan putri sulung ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri.  Sekaligus juga membuka mata publik  adanya “persaingan” politik  tersembunyi di partai yang sedang berkuasa saat ini. “Persaingan politik “ ini juga membuka tirai bagi masyarakat Indonesia bahwa lobi-lobi politik menuju Pemilihan Presiden tahun 2024 yang akan datang sudah dimulai.

PDIP sebagai partai pemenang Pemilu  yang sedang berkuasa saat ini  memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk tetap berkuasa dan memenangi Pemilu dan Pil Presiden 2024 mendatang. Apalagi tahun 2024 jika tidak ada amandemen UUD 1945, Jokowi sebagai Presiden yang didukung PDI Perjuangan akan habis masa jabatannya. Sudah pasti kekosongan kepemimpinan ini tidak akan disia-siakan partai berlambang banteng moncong putih ini. PDIP akan tetap berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan meraih kursi presiden atau wakil presiden.

Ketua Umum PDIP Prof Dr (HC) Megawati Soekarnoputri sebagai seorang ibu, politisi kawakan dan tokoh nasional  yang pernah merasakan nikmatnya jadi Wakil Presiden dan Presiden,  sangat wajar jika tidak akan memberikan kursi kekuasaan kepada orang lain, apabila anak-anaknya dianggap sudah mampu menjadi memimpin bangsa dan negara ini.  Megawati sudah melatih dan men-training putri hasil pernikahannya dengan (Alm) Taufik Kiemas, Puan Maharani,  di bidang politik.  Mulai dari posisi ajudan pribadi (tahun 1999), lalu anggota DPR RI, Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), bahkan menjadi ketua DPR RI. Sudah sepantasnya Megawati memimpikan, putri sulungnya tersebut mengikuti jejaknya dengan menjadi Wapres bahkan Presiden sekalipun.

Namun di sisi lain, Megawati memiliki kader yang telah dibina dan didukung menjadi Gubernur Jawa Tengah,  Ganjar Pranowo. Kepemimpinan Ganjar di periode kedua kepemimpinannya sebagai gubernur, memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh  yang pantas diperhitungkan bertarung di Pilpres 2024 mendatang

Pujian dan ekspose media serta hasil survei  terhadap Ganjar Pranowo, menimbulkan analisa-analisa tertentu dari pihak Puan Maharani. Pihak Puan Maharani menjadi lebih berhati-hati terhadap Ganjar Pranowo. Ganjar bukan dianggap sebagai berlian atau permata yang akan semakin membuat PDI Perjuangan moncer di tahun 2024. Ganjar justru dianggap menjadi batu sandungan.

Pertanyaan yang muncul kemudian, pencitraan yang positif atas kinerja dan kepemimpinan Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, itu murni berdasarkan kinerja dan prestasi Ganjar Pranowo atau hasil rekayasa tim public relation-nya?

Kalau citra positif atas ketokohan dan kepemimpinan Ganjar dalam memimpin Jawa Tengah ternyata hasil polesan tim public relation, bukan berdasarkan kondisi riil di masyarakat dan daerah jawa tengah, maka sudah dapat dipastikan Ganjar memang  sedang dipersiapkan para pendukungnya  untuk maju menjadi Capres di tahun 2024. Sudah sepantasnya kubunya Puan Maharani mulai memagari dan menjaga jarak dengan Ganjar Pranowo.

Megawati Sukarnoputri yang sudah sangat mahir dengan dunia perpolitikan tanah air dan berkuasa atas  Parpol serta  massa tradisionalnya saat ini, dilihat dari analisa dan body language politiknya, dapat dipastikan tidak akan memberikan kursi Capres atau Cawapres kepada Ganjar Pranowo. Tetapi kepada Puan Maharani.

Apakah Ganjar harus kecewa dan tetap melanjutkan ambisinya menjadi pemimpin nasional? Kalau kecewa sudah pasti hal yang manusiawi. Sah saja.  Tapi Ganjar pranowo harus melihat dirinya saat ini dan sebelumnya? Ganjar Pranowo harus melihat realitas politik  yang ada saat ini.

Realitas yang ada, Ganjar Pranowo besar dan dibesarkan oleh PDIP. Tanpa dukungan penuh dari Megawati sebagai Ketua Umum PDI P,  Ganjar yang pada tahun 2012-2013 masih berusia sekitar 40 tahun berstatus anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, tidak akan sanggup menumbangkan gubernur Jawa Tengah yang sedang berkuasa (incumbent) saat itu, yaitu seorang purnawirawan jenderal bintang tiga Bibit Waluyo. Padahal Bibit Waluyo, pada pemilihan gubernur periode pertamanya juga dicalonkan atau didukung oleh PDI Perjuangan. Namun begitu dukungan PDI Perjuangan dialihkan ke Ganjar Pranowo sehingga ia yang terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah.

Baca Juga:  Tips Mengatasi Kejenuhan saat Mengajar

Haruskah Ganjar Pranowo tetap ngotot percaya diri untuk maju sebagai capres melalui parpol lainnya? Ganjar Pranowo harus mengukur potensi dan prestasi diri sekaligus menganalisis kondisi politik yang ada saat ini.

Berdasarkan berbagai survei yang diadakan lembaga survei politik yang relatif obyektif, tingkat elektabilitas Ganjar Pranowo secara nasional belum dapat mengalahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan atau Prabowo Subianto. Mungkin tingkat elektabilitas Ganjar masih setara dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau Menteri Sosial Tri Rismaharini.

Lalu adakah Parpol yang akan memberikan kursi gratis kepada dirinya untuk menjadi Capres atau Cawapres? Mari kita Analisa 10 Parpol besar berikut ini.  

PDIP, dapat dipastikan tidak akan mendukung Ganjar Pranowo. PDIP dengan percaya diri akan mencalonkan Puan Maharani atau bahkan Megawati Soekarnoputri sendiri. Pasangan idealnya adalah ketua Umum partai Gerindra, Jenderal (Purn) Prabowo Subianto

Bagaimana dengan Gerindra? Meski sudah 3 kali mencalonkan Prabowo jadi Capres, Gerindra tidak akan menyerahkan kursi Capres atau Cawapres kepada pihak lain selagi Prabowo Subianto masih sanggup. Meski usia Prabowo sudah berada di angka 70 tahun-an pada 2024. Lagi pula pengurus partai Gerindra dapat berkaca kepada pengalaman Amerika Serikat dan Malaysia. Di Amerika Serikat, Donald Trump menjadi Presiden di usia 70 tahun lebih. Demikian juga penerusnya Joe Biden yang saat ini berkuasa, usianya sudah lebih dari 70 tahun. Apalagi Malaysia, pensiunan perdana menteri Mahathir Muhammad meski berusia 90 tahun tetap masih gagah dan terpilih kembali menjadi perdana menteri pada tahun 2018 lalu.

Bagaimana kans Prabowo untuk bisa terpilih? Meski sudah 3 kali gagal menjadi presiden, pengurus dan kader setia Gerindra melihat, tahun 2024 ini adalah kesempatan emas Prabowo terpilih menjadi Presiden. Apalagi jika berpasangan dengan Cawapres dari PDIP Puan Maharani.

Bagaimana dengan Partai Demokrat?  Ketua Dewan Pembina yang juga ayah ketua umum Partai Demokrat,  Prof Dr  Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono, tidak akan memberikan kursi Capres atau Cawapres ke Ganjar Pranowo. Kursi itu diprioritaskan untuk putra mahkotanya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Apalagi AHY sudah teruji dalam dunia perpolitikan dengan menghadapi goyangan dari mantan kadernya yang tidak puas atas kepemimpinannya..

Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di bawah pimpinan Surya Paloh, apakah akan memberikan kursi kepada Ganjar Pranowo? Kita tahu 4 tahun belakangan ini, sejak Surya Paloh bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, hubungan Surya Paloh dengan Megawati sedang tidak baik. Tentunya Surya Paloh tidak ingin hubungannya menjadi lebih buruk dengan mengakomodasi Ganjar Pranowo sebagai Capres.

Partai Nasdem, yang menjadi pendukung Joko Widodo bersama PDIP dalam Pilpres tahun 2014 dan 2019, tetap memiliki hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh dan calon-calon pemimpin nasional yang masih muda atau seusia dengan Ganjar Pranowo. Misalnya, dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Meskipun tahun 2017 lalu Partai Nasdem mendukung lawan Anies, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok,   Kemungkinannya Nasdem akan mendukung Anies Baswedan atau Ridwan Kamil. Atau pasangan Capres dan Cawapres yang kans untuk menangnya paling besar.

Bagaimana dengan Partai Golkar? Partai Golkar selalu identik dengan kekuasaan. Meskipun dalam Pilpres tahun 2004, 2009,2014 gagal memenangi kursi presiden, partai berlambang pohon beringin ini selalu merapat pada penguasa dan menjadi bagian dari penguasa. Dalam Pilpres tahun 2024, diprediksikan Partai Golkar akan mencalonkan ketua umumnya, Airlangga Hartarto, baik berpasangan dengan Anies Baswedan apabila didukung Partai Nasdem atau berpasangan dengan Prabowo. Jika kansnya tertutup untuk mencalonkan ketua umumnya, Partai Golkar dapat dipastikan akan mendukung pasangan Prabowo – Puan Maharani yang jelas didukung partai Gerindra dan PDI Perjuangan.

Baca Juga:  Meniti Jalan Menjadi Guru: Muhtar Arifin

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) serta Partai Amanat Nasional (PAN) Sudah pasti untuk menaikan nilai jual yang tinggi dan sharing power yang lebih besar, kedua partai yang basis massanya adalah Nahdliyin dan kader Muhammadiyah, ini akan mencalonkan kadernya masing masing. Setelah itu akan merapat pada pasangan Capres dan Cawapres yang hembusan anginnya kuat untuk menang. Jika tidak merapat ke Prabowo – Puan, bisa merapat pada pasangan Anies Baswedan – Airlangga Hartarto.

Bagaimana dengan Partai Keadilan Sosial (PKS). PKS ini adalah partai kader dan partai dakwah. Partai yang di Pilpres paling berani berbeda pilihan dengan penguasa yang tidak bersahabat dengan Islam ini, diprediksi belum akan mencalonkan kadernya untuk maju jadi Capres. Kemungkinan besar PKS akan mendukung pasangan capres Anies Baswedan – Airlangga Hartarto. PKS tidak akan mendukung dan memberikan kursi Capres kepada Ganjar Pranowo.

Ganjar Pranowo bukanlah Jusuf Kalla yang berani mencalonkan diri jadi Wapres meski tidak didukung oleh partainya. Jusuf Kalla sudah merintis karier politik dan bisnis di wilayah Indonesia Timur sejak ayahnya masih memimpin perusahaan Haji Kalla Group. Memiliki banyak perusahaan dan karyawan di wilayah Indonesia Timur menjadi modal kuat bagi Jusuf Kalla untuk membangun kekuatan politik. Ditambah lagi pernah menjadi Menteri Perindustrian di masa Presiden Gus Dur. Jusuf Kalla adalah tokoh yang disegani bukan hanya di Indonesia bagian Tengah dan Timur. Tapi juga di partai Golkar.  Tak Aneh jika jenderal TNI (Purn) Dr Susilo Bambang Yudhoyono meminta Jusuf Kalla menjadi pasangannya dalam Pilpres tahun 2004, bertanding dengan presiden incumbent Megawati Soekarno Putri yang saat itu berdampingan dengan (Alm) KH. Hasyim Muzadi. Sebagai mantan Menko Polhukam, SBY memiliki data intelijen yang kuat akan pengaruh Jusuf Kalla. Baik dari segi keuangan maupun dukungan massa dan politiknya.

Ganjar Pranowo juga bisa mengaca pada seniornya di PDI Perjuangan, sebut saja Dimyati Hartono, Laksamana Sukardi, Roy BB Janis yang pada tahun 1999 dan 2004 memisahkan diri dari Megawati. Namanya tidak meroket tapi justru malah tenggelam. Yang justru tetap eksis saat ini adalah Megawati dan tokoh-tokoh yang didukung Megawati itu sendiri.

Saat ini kepemimpinan Ganjar Pranowo baru pada tahap lokal  atau daerah Jawa Tengah. Belum pada tingkat nasional. Apabila saat ini Ganjar pranowo namanya berkibar di berbagai survei politik, itu tidak mencerminkan Ganjar Pranowo memiliki modal yang kuat untuk melawan keinginan Megawati yang akan mencalonkan putri sulungnya, Puan Maharani.  Daripada Ganjar mengikuti jejak senior-seniornya yang terlalu percaya diri melawan Ketua Umum PDIP lalu tenggelam, lebih baik Ganjar Pranowo tetap setia kepada Megawati Soekarnoputri. Siapa tahu nanti diganjar kursi menteri. Hal ini menjadi modal yang kuat untuk bisa meraih kursi ketua umum PDIP.

Jika Ganjar Pranowo terpilih menjadi Ketua Umum PDI P itu adalah kesempatan emas untuk menjadi Capres di tahun 2029. Jika Ganjar Pranowo tidak berhasil menjadi ketua Umum PDIP mewarisi estafet kepemimpinan partai dari Megawati,  Ganjar akan lebih baik menjadi guru dan tokoh bangsa yang bijaksana. Namun demikian, Politik di Indonesia itu sangat dinamis. Terkadang penentuan siapa pasangan Capres dan Cawapres yang paling kuat untuk menang, baru terlihat tiga bulan sebelum pendaftaran pasangan Capres dan Cawapres dilakukan. 

Ditulis oleh Eman Sulaeman Nasim (Dosen  Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI Jakarta & Konsultan Politik)

Share :

Baca Juga

vaksinasi covid-19 pada guru

Opini

Guru Tak Perlu Takut Vaksinasi Covid-19
meningkatkan literasi sekolah

Opini

Meningkatkan Budaya Literasi di Sekolah

Opini

Solusi Belajar Online Berbiaya Murah dengan e-Learning
motivasi belajar anak

Opini

Membangun Lingkungan Belajar di Sekolah Ramah Anak
pendidikan remaja

Opini

Remaja dan Pendidikan Keterampilan Hidup
pohon kelapa

Opini

Mengenal Tumbuhan Kelapa yang Kaya Manfaat

Opini

Tantangan dan Perjuangan sebagai Pembina Kepramukaan di Sekolah
Prinsip-Prinsip Desain Grafis

Opini

Usir Kejenuhan Pembelajaran Jarak Jauh dengan Membuat LKPD di Liveworksheets