Home / Opini

Senin, 25 Juli 2022 - 19:00 WIB

Praktik Baik Ari Nurwantini: Menumbuhkan Jiwa Bisnis pada Peserta Didik

Oleh Ari Nurwantini, SPd.SD. 

Guru di SDN Glagah, Kota Yogyakarta

 

Sejak terjadi pandemi Covid -19 dari  pertengahan tahun 2019 sampai  akhir  tahun 2021, para pelajar tidak bisa belajar secara tatap muka.  Dunia kerja pun demikian, dibatasi semua interaksi secara tatap muka.

Kondisi yang demikian, membuat banyak orang tua siswa bingung karena dari sisi ekonomi melemah;  banyak  yang  di-PHK  dan usaha yang dijalankan banyak yang bangkrut. Untuk bangkit dari kondisi tersebut sangat sulit karena dalam menjalani hidup sehari-hari harus mematuhi protokol kesehatan yang menghimpit, sosialisasi  antar manusia dibatasi.

Situasi  ini membuka  pemikiran baru untuk  mengubah  pola didik. Kami duduk bersama untuk memecahkan masalah di tengah pandemi yang berdampak pada ekonomi dan pembelajaran. Lalu  diputuskan  bersama bahwa pembelajaran di sekolah dilakukan  melalui Zoom dan video call. Guru bersama para wali murid  serta pihak  sekolah   memutuskan bersama  bahwa   setiap  pekan tiga kali akan dilakukan pertemuan virtual melalui Zoom, serta menonton  program televisi   pendidikan sesuai kelasnya  setiap  hari. 

Dalam pembelajaran online, pada pagi hari guru mengirimkan materi pembelajaran dalam bentuk video serta penjelasan agenda  harian,  tujuan  pelajaran  tiap  muatan. Adapun     kegiatan  siswa dimulai dari  pukul 07.00 WIB  sampai 13.00 WIB. Anak dituntut untuk bertanggung –jawab akan tugasnya  setiap  hari.

Setelah satu  bulan berlangsung  pembelajaran  daring ,   kami mengalami  kendala    secara  keuangan. Jika harus mengadakan pembelajaran via  Zoom dalam durasi tertentu tentu saja membutuhkan paket data yang harus dibeli secara mandiri. Akibatnya, dari sisi  ekonomi  harus  dibenahi agar pembelajaran online tetap dapat berlangsung. 

Anak-anak kami ajak  menanam sayuran dan tanaman obat untuk meringankan  keuangan  orang tua. Setiap anak  menanam  tanaman  sayuran dan  tanaman obat  dengan memakai  barang bekas untuk  potnya. Anak –anak ada  yang menanam sawi, slada, cabe, kenikir, katu, bayam, terong, tomat, seledri, kangkung, salam, serai.Tanaman obat yang ditanam berupa   kunyit, jahe, temu  lawak, temu  ireng, kencur, lengkuas.  Tiap anak memiliki   kebun  sayuran   sehingga keluarganya  tidak perlu beli  sayuran karena dapat memetik di  pekarangan sendiri.  Bisa juga hasil tanaman dijual di sekitar kampung  dengan sistem online sehingga menghasilkan   uang. Nah, uang tersebut kemudian dapat  digunakan untuk beli pulsa. Masalah ekonomi pun teratasi. 

Baca Juga:  5 Aplikasi yang Mendukung Proses Pembelajaran Daring Jadi Lebih Menyenangkan

Ketika pandemi Covid-19 sudah cukup mereda dan peserta didik mulai berangkat ke sekolah, kebiasan menanam ini terus dilakukan. Awal Januari  2022 lalu, anak-anak membawa   tanamannya masing-masing untuk diletakkan di kebun   kelas. Mereka bahagia melihat tanamannya hidup dan bisa dijual atau untuk dimasak  sendiri. 

Dengan pengalaman tersebut, anak-anak saling bercerita suka dukanya  menanam sayuran. Dan pembiasaan seperti ini dapat menanamkan rasa cinta lingkungan  dan  belajar  jualan   secara online bersama orang tuanya. 

Rupanya, berjualan   tanaman  secara online ini tetap dilanjutkan  sampai tahun 2022 oleh  anak-anak   bersama  orangtuanya. Tanaman yang  mereka jual  di antaranya sayuran  sawi, selada, bayam, kenikir, terong, seledri, loncang, cabe, dan tomat; Sedangkan   tanaman obat  terdiri dari  kunyit, jahe, lengkuas, daun  salam, kencur, temu lawak.  Dengan begini, mereka jadi  memiliki jiwa bisnis dan   mandiri, serta sayuran untuk masak sendiri tercukupi  dari kebun  sendiri.

Selain itu, bahkan   ada  yang   beternak  ikan nila dan lele  menggunakan  ember  besar. Hasilnya mereka jual juga untuk menambah  pendapatan orang tua. 

Pandemi ini telah  menuntun anak-anak jadi bisa bercocok tanam  dan berjualan  membantu ayah dan ibu mereka di sela belajar secara  daring. Pandemi ini telah   membentuk anak cinta tanaman dan  memupuk jiwa bisnis  untuk mempertahankan hidup.

Kini  28 peserta didik kami  telah meletakkan  satu-satu   tanaman di samping kelas  3   untuk dijadikan  taman   kelas,sehingga  udara   segar dan halaman kelas jadi  hijau. Kami mengizinkan  masyarakat umum untuk  mengambilnya  tapi  harus menggantinya dengan  tanaman  baru  agar SDN Glagah tetap segar.

Kegiatan bercocok tanam ini kemudian dijadikan  kegiatan  untuk setiap jenjang  kelas. Di   akhir  semester,  kami mengadakan  pameran   dan  kami  berjualan  tanaman di  acara Jumat Pon di tahun  ini. Semua wali murid dan masyarakat sekitar boleh beli dagangan kami. 

NOTE: Tulisan ini juga dipublikasikan dalam format buku antologi “Praktik Baik”—yang berisi kisah dan pengalaman terbaik para guru dalam mengatasi masalah yang dihadapi dalam proses mendidik siswa. 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

 

Share :

Baca Juga

model pembelajara generatif

Opini

Penerapan Pembelajaran Generatif Meningkatkan Hasil dan Minat Belajar

Opini

Kemerdekaan Mengajar dan Hal-Hal yang Perlu Dilakukan

Opini

Ketika Orang Tua Harus Menjadi Guru Profesional
sistem pembelajaran tatap muka

Opini

Sistem Pembelajaran Tatap Muka di Indonesia

Opini

Sanggar Tari MIN 17 Pidie Menghadapi Ujian Pandemi Covid-19

Opini

Pandemi Memaksa Guru Belajar Lagi
light city building bridge

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Nia Kurniati

Opini

Praktik Baik Medi Aminah: Mengatasi Kenakalan Ardan dan Halil di Masa PTM Terbatas