Oleh I Dewa Gede Trinandita, S. Pd.
Guru di SMP Negeri 2 Banjarangkan
Menjadi diri sendiri adalah sebuah penyadaran diri. Setiap individu di dunia ini tidak ada yang sama. Semua mempunyai kelebihan dan kekurangan, mempunyai bakat, minat, hobi, dan kesenangan yang berbeda.
Dalam diri setiap orang sudah pasti ada bakat yang dimiliki. Dengan menjadi diri sendiri, berarti kalian sudah mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Kuasa.
Menjadi diri sendiri berarti tidak selalu membandingkan kemampuan diri dengan orang lain. Tetapi memahami potensi yang ada pada diri. Menjadi diri sendiri mengajarkan kalian untuk bersikap terbuka pada perbedaan yang dimiliki setiap orang. Dengan demikian, kalian akan mampu bekerjasama dalam upaya mencapai suatu tujuan tertentu.
Oleh sebab itu, sudah semestinya kita kenali diri sendiri dengan baik. Mengenali diri ibarat memahami keberadaan diri hidup di muka bumi ini.
Salah satu cara untuk mengenali diri adalah dengan banyak belajar dan bertanya pada orang tua di rumah. Mintalah petuah dari orang tua tentang kehidupan ini. Orang tua bukan hanya ayah ibu saja. Kakek dan nenek pun bisa menjadi sumber pengetahuan. Begitu juga orang yang ada di sekitar kita. Mereka para orang tua niscaya mempunyai banyak pengalaman hidup yang bisa dijadikan guru dalam kehidupan ini.
Pernah pada suatu ketika saat di Kantor Samsat, saya bertemu dengan pensiunan guru. Saat itu saya banyak mendengar cerita perjalanan hidup beliau. Saya menghormati apa yang disampaikan. Walau sudah tua, namun beliau tetap tampak sehat dan rapi. Bicaranya tertata dan berwibawa. Dari percakapan tersebut, saya dapat pelajaran penting bahwa beliau selalu bersyukur dan selalu mengabdikan diri sebagai guru tanpa banyak menuntut imbalan.
Seorang filsuf Lao Tzu mengatakan, “Jaga pikiranmu karena akan menjadi kata-katamu; perhatikan kata-katamu, itu akan menjadi tindakanmu; perhatikan tindakanmu, itu akan menjadi kebiasaanmu; perhatikan kebiasaanmu, itu akan menjadi karaktermu; dan perhatikan karaktermu, itu akan menjadi takdirmu.”
Jika kita simak secara mendalam ungkapan di atas bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita ini berawal dari pikiran. Oleh sebab itu, kita harus mampu mengendalikan pikiran untuk diarahkan dan fokus pada suatu yang bernilai positif. Karena pikiranlah yang akan melahirkan kata-kata yang kita ucapkan, begitu selanjutnya hingga menjadi sebuah takdir.
Ia juga mengatakan, “Bentuk keputusasaan yang paling umum adalah tidak menjadi diri sendiri.”
Ini merupakan sebuah penyadaran bagi kita yang patut untuk disimak dan direnungkan. Sehingga kita sadar bahwa mengenali diri kita secara pribadi adalah sesuatu yang penting.
Tak perlu takut untuk menjadi diri sendiri. Masih menurut Lao Tzu yang mengatakan, “Saat Anda menerima diri Anda sendiri, seluruh dunia akan menerima Anda.”
Setiap orang adalah unik, yang mempunyai kelebihan masing-masing dan wajib dikembangkan sehingga akhirnya kita dapat menerima diri kita apa adanya dengan kelebihan dan kekurangannya.
Dalam perjalanan dalam kehidupan di dunia ini, menurut ajaran agama apapun, niscaya sudah disiapkan garis yang menjadi pedoman kehidupan. Menurut ajaran Hindu, tahap kehidupan ada empat. Pertama yaitu Brahmacari yang berarti tahap menuntut ilmu.
Kedua, Grehasta yaitu tahap masa berumah tangga yang diawali dengan upacara pawiwahan (pernikahan). Ketiga, tahap Wana Prasta yaitu masa menjauhi nafsu keduniawian dan masa memahami arti kehidupan sejati.
Dan tahap keempat adalah Sanyasin yaitu masa terlepas dari pengaruh duniawi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan bersembahyang di tempat-tempat suci untuk meningkatkan spiritualitas diri. Semua tahap kehidupan tersebut niscaya harus dijalani dengan baik manakala ingin hidup ini berguna yaitu moksartham jagadhita ya caiti dharma.
Anak-anak sekalian, dalam hidup kalian saat ini, sejatinya tugas utama kalian adalah belajar. Sebenarnya, ketika pertama lahir ke dunia ini, kalian pun sudah dihadapkan pada suasana belajar: yaitu belajar untuk bertahan hidup dengan minum air susu ibu selanjutnya belajar makan dan seterusnya. Hingga selanjutnya mulai belajar berbicara, merangkak, kemudian belajar berjalan.
Sungguh perjalanan untuk belajar tak boleh berhenti. Ketika sudah memasuki masa sekolah, kalian semakin banyak belajar. Begitu seterusnya sehingga dalam masa berumah tangga pun kalian masih tetap banyak belajar. Dan setiap pengalaman hidup adalah proses belajar.
Ingatlah pesan bijak yang mengatakan bahwa setiap orang yang kita jumpai adalah guru; setiap tempat dan keadaan adalah kelas tempat belajar. Ini adalah sebuah ungkapan yang memiliki makna yang mendalam yang dapat menyadarkan kita untuk selalu peka, peduli, dan perhatian pada setiap detik perjalanan hidup ini. Tidak ada satupun di hidup ini yang tidak bermanfaat sebagai sumber belajar.
Ketika bangun tidur, maka proses belajar sudah dimulai dan berakhir ketika mata terpejam kembali di malam hari. Begitu seterusnya sepanjang hayat. Tidak berlebihan jika kita sepakat bahwa waktu hidup adalah waktu untuk belajar.
Nasihat yang saya sampaikan ini adalah salah satu upaya untuk mendidik kalian agar berani untuk menjadi diri sendiri serta menjadi manusia yang bermoral Pancasila, bertanggung jawab, berbudi pekerti luhur, dapat dipercaya, mandiri, memiliki kepribadian yang baik serta berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. (*)