Home / Opini

Senin, 23 Januari 2023 - 18:39 WIB

Refleksi dan Resolusi Guru Tahun 2023

Oleh Kustiyani, S.Pd.

Guru SMAN 1 Jekulo Kudus

 

Hari-hari di awal tahun 2023 menjadi momentum penting bagi guru untuk melakukan resolusi kompetensi guru. Setelah di akhir tahun 2022 melakukan refleksi pendidikan, maka awal tahun  2023 seyogyanya guru juga memiliki tekad memperbaiki kualitas kompetensinya baik kompetensi sosial, profesional, pedagogik, maupun  kepribadian. Harapannya, kualitas kinerja guru akan semakin meningkat yang berimbas pada peningkatan kualitas peserta didik.

Resolusi guru merupakan bagian dari resolusi pendidikan. Resolusi pendidikan sendiri sangat penting mengingat pendidikan adalah salah satu kebutuhan pokok bangsa Indonesia saat ini. Melalui pendidikan menjadi salah satu pilar untuk menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki visi mencerdaskan kehidupan rakyatnya. Tanpa pendidikan. Indonesia akan dipandang sebelah mata oleh negara lain. Dalam kaitan ini maka resolusi kinerja guru akan ikut menentukan hasil mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Refleksi Guru 2023

Apa saja yang menjadi  keputusan atau tekad guru untuk melakukan perbaikan? Semua itu kembali pada diri guru sendiri. Karena mereka lah  yang lebih tahu apa saja kekurangan, kelemahan, kelebihan, dan hal-hal baru yang harus dilakukan. 

Sebelum melakukan resolusi, guru merefleksi apa saja yang sudah dan yang akan dilakukan.  Guru merenungkan kembali apa yang telah terjadi dan yang dilakukan di tahun 2022 dan mungkin sebelumnya.

Tentunya refleksi ini harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan kejujuran. Dua aspek tersebut sangat penting karena akan membantu guru mendapatkan hasil refleksi kinerjanya yang berkualitas. Pertanyaan-pertanyaan mendasar misalnya adalah, “Apakah saya sudah menjadi guru seperti yang diamanatkan dalam UU Guru dan Dosen?” atau pada saat mendidik, apakah sudah sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantoro, bahwa mendidik yang sesungguhnya adalah  proses memusiakan manusia dalam arti memerdekakan manusia di segala aspek kehidupan baik secara fisik, jasmani, maupun mental atau rohani. 

Oleh karena mendidik itu proses memanusiakan manusia, maka dalam proses mendidik, guru harus mampu memenuhi kebutuhan atau hak-hak peserta didiknya. Di sinilah guru akan bertanya sama diri sendiri, apakah sudah memenuhi kebutuhan siswanya, mengetahui latar belakang dan karakteristik siswa yang beragam, mengetahui cara mendidik apakah guru sudah mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan peserta didiknya.   

Demikian pula pada saat mentransfer pengetahuan, apakah sudah dilakukan dengan mengaitkan dimensi Profil Pelajar Pancasila (PPP) yaitu beriman dan berakhlak mulia, mandiri, bergotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis dan kreatif. 

Pada saat melakukan penilaian dan evaluasi apakah sudah melakukan dengan benar: Apakah tugas-tugas yang diberikan mampu dikerjakan semua oleh siswanya.

Resolusi Guru 2023

Hasil perenungan tersebut akan menjadi dasar guru dalam melakukan resolusi yaitu keputusan atau tekad untuk melakukan perbaikan terhadap profesinya. Tentunya tujuan  guru melakukan resolusi adalah memiliki kekuatan baru yang menjadi rujukan dalam menjalankan tugasnya  sekarang ini dan ke depan.

Jika hasil refleksinya tidak atau belum sepenuhnya, maka mulailah saat ini untuk bertekad menjadi guru yang bisa memenuhi kebutuhan siswa, guru yang memiliki kinerja yang baik, guru yang mampu memenuhi empat kompetensi, guru yang pada saat melakukan transfer pengetahuan mampu mengaitkan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Muara dari itu semua adalah menjadikan kualitas peserta didik menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, pribadi yang mandiri, mampu bekerja sama pada saat dibutuhkan, bisa menghargai perbedaan, dan kritis serta kreatif dalam berfikir. 

Baca Juga:  Dongeng Orang Tua untuk Anak

Banyak jalan menuju Roma. Pepatah itu berlaku untuk upaya merealisasikan resolusi guru. Banyak cara yang bisa dilakukan guru agar tekad baiknya itu terealisasi, di antaranya mengubah pola pikir atau mindset bahwa guru bukan satu-satunya sumber belajar. Saat ini di luar guru, banyak yang dapat menjadi sumber belajar. Buku, instruktur, ahli, narasumber, tokoh masyarakat, film, gambar yang dirancang untuk pembelajaran, arca, candi, relief,  cerita, dan lain sebagainya. Bahkan lingkungan, alat peraga, dan komputer juga  merupakan sumber belajar. 

Oleh karena sumber belajar siswa  banyak, maka guru harus mampu memilih sumber belajar yang sesuai dengan materi pelajaran, tujuan pembelajaran, dan karakteristik peserta didik. Dalam konteks ini, guru harus bisa memfasilitasi kebutuhan peserta didiknya.  Tekad menjadi fasilitator yang baik dan mampu memenuhi kebutuhan peserta didik, inilah yang harus ada dalam diri seorang guru. 

Bagi sekolah yang sudah menggunakan Kurikulum Merdeka, maka sudah barang tentu gurunya  juga harus benar-benar melaksanakan kurikulum baru tersebut. Sebaliknya, sekolah yang belum memakai Kurikulum Merdeka, tidak perlu melakukan pelarangan bagi gurunya untuk belajar atau mencoba melaksanakan kurikulum baru tersebut.  

Saat ini, trend digital juga telah masuk dalam dunia pendidikan. Sehingga, selain WhatsApp, beragam aplikasi seperti Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube, Telegram, Line, juga dapat menjadi media pembelajaran sekaligus sumber belajar siswa. Bagi guru yang sebelumnya alergi terhadap aplikasi tersebut, maka mulailah mengenal dan menggunakan aplikasi tersebut. Mengingat sebagai media pembelajaran yang interaktif, aplikasi tersebut sangat disenangi siswa. 

Guru juga bisa menggunakan permainan, lagu, dan musik yang diisi dengan konten atau materi pembelajaran. Untuk membiasakan siswa melakukan literasi baca tulis, guru dapat mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran seperti memilih tema yang relevan dengan kehidupan siswa.

Di lembaran tahun baru ini, guru juga harus bertekad mengerjakan administrasinya secara tertib untuk menuju ke arah yang lebih baik. Guna meningkatkan kompetensinya, guru hendaknya bertekad mengikuti kegiatan pelatihan yang saat ini banyak jumlahnya. Apalagi pelatihan tersebut dapat dilakukan secara daring atau online. Semua tekad tersebut diharapkan dapat terealisasi dengan penuh kedisiplinan yang tinggi.  

Apabila guru mampu melakukan refleksi, maka akan membantu guru melakukan resolusi terhadap profesinya. Apabila resolusi guru sudah dibuat beserta cara atau strategi untuk merealisasikan tekad tersebut, maka dalam menjalankan perannya sebagai pendidik, guru akan membantu peserta didik mengaktualisasi diri dan menuntun untuk melahirkan potensi dasar dan kodrati yang dimilikinya. 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud

Share :

Baca Juga

Opini

Perlunya Melakukan Refleksi Pembelajaran 

Opini

Motivasi Belajar untuk Siswa
mendidik balita

Opini

Bolehkah Mendidik Balita dengan Gadget?

Opini

Belajar Online Kurang Menarik, Guru Perlu Disupervisi

Opini

Ketimpangan Pendidikan dan Kesejahteraan Guru Kita
literasi pada anak

Opini

Merdeka Belajar yang Sesungguhnya

Opini

Apa Itu Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Bagaimana Penerapnnya?

Opini

Siswa SMAN 8 Takengon Unggul Antusias Ikuti Kegiatan Dinul Islam di Bulan Ramadan