Home / Opini

Sabtu, 6 Agustus 2022 - 12:21 WIB

Praktik Baik Dewi Saraswati: Menanamkan Etika Baik pada Siswa

Oleh Dewi Saraswati, S.Pd.

Guru di SMK Negeri 1 Madiun 

 

Etika siswa merupakan cerminan dari apa yang diajarkan dan dicontohkan guru. Siswa yang baik terlahir dari guru yang baik. Dan guru yang baik adalah yang bisa mencontohkan sikap baik kepada siswa, ketika kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas.

Ada enam etika yang selalu saya ajarkan ke siswa yang sampai saat ini membekas di dalam diri semua anak didik saya. Dan betapa bahagia ketika saya bertemu siswa yang telah lulus, tetapi masih melekat perilaku baik tersebut. Lima hal tersebut adalah: 

  1.     Masuk ruangan mengucap salam
  2.     Berpenampilan rapi dengan kelengkapan atribut
  3.     Mengucapkan maaf dan terima kasih
  4.     Duduk di bangku depan jika masih ada yang kosong
  5.     Keluar ruangan kelas harus dengan meminta izin dulu
  6.     Tidak memotong kata atau berbicara lantang kepada guru

Ada makna yang besar dari keenam praktik di atas.  Jika dipraktikkan dalam keseharian  sikap tersebut juga dapat memudahkan saya sebagai seorang guru dalam melakukan aktivitas pembelajaran di dalam kelas. Apalagi saya  mengajar di sekolah kejuruan  SMK Negeri 1 Madiun, Program Keahlian Kendaraan Ringan Otomotif ( TKRO)  yang mayoritas siswanya adalah pria—yang pada umumnya sulit dikendalikan.

Di bawah ini, akan saya uraian tentang mengapa enam sikap di atas wajib kita ajarkan pada anak didik kita: 

1.     Masuk Ruangan Mengucap Salam

Ketika pelajaran sudah dimulai, ada kalanya siswa terlambat datang. Jika siswa masuk tidak mengucap salam, maka seorang guru yang ada di kelas itu wajib menegur dengan cara menyuruh keluar lagi dan masuk lagi dengan mengucap salam.

Praktik baik seperti ini akan membiasakan mereka di manapun mereka masuk ruangan selalu mengucap salam. Di sisi lain juga akan membentuk rasa percaya diri. Sebab dengan berani tampil/masuk di dalam kelas dan mengucap salam, otomatis membuat seluruh mata penghuni kelas melihat seorang yang datang. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri. 

Pada akhirnya, semua itu akan menumbuhkan kebiasaan mengucap salam kepada siapapun termasuk ketika bertemu guru, teman, atau orang lain.

2. Berpenampilan Rapi dengan Kelengkapan Atribut

Pantas diberikan reward (hadiah atau pujian) untuk siswa yang berpenampilan rapi dan memakai kelengkapan atribut termasuk ikat pinggang dan dasi. Jika ada yang bersikap seperti itu, akan  saya beri penambahan nilai sikap. Dan itu saya umumkan di papan tulis, yang kemudian saya bagian di media sosial melalui Grup WhatsApp Kelas dan Grup WhatsApp orang tua. Hal ini agar membuat siswa termotivasi selalu berpenampilan baik. Dan agar supaya orang tua juga ikut mengingatkan dan memperhatikan penampilan putra-putrinya saat berangkat ke sekolah.

Baca Juga:  Meningkatkan Pemahaman Matematika Murid dengan REMEDU

Tidak dibenarkan jika ada siswa mewarnai rambut ataupun memakai tato di badan dikarenakan masih menempuh pendidikan. Selama masih sekolah, diharuskan berpenampilan seperti siswa yang sewajarnya

Dengan berpenampilan yang rapi ini akan membentuk pribadi yang profesional terhadap pekerjaannya kelak.  Dan hal ini sangat diperlukan oleh siswa, apalagi kejuruan yang sebagian besar sudah terjun ke dunia pekerjaan setelah lulus. 

Untuk mewujudkan slogan “SMK Bisa”, maka perlu dimulai dari menata penampilan. Seperti yang kita tahu bahwa orang akan lebih percaya dengan kemampuan seseorang yang berpenampilan rapi daripada yang berpenampilan kurang rapi, sebut saja pada waktu tes atau wawancara pekerjaan.

3. Maaf dan Terima Kasih 

Dua kata yang sangat sederhana ini mampu menjadikan seorang siswa berkepribadian ramah dan tidak sombong. Siswa perlu diajarkan selalu menyisipkan antara dua kata tersebut di dalam bertutur. Dengan begitu, pasti akan menjadikan siswa disukai guru dan banyak teman. 

Penggunaan kata tersebut seperti di bawah ini: 

“Maaf, Bu, saya datang terlambat.”

“Maaf, Bu, saya belum mengerjakan tugas rumah.”

“Maaf, teman-teman, saya yang salah…”

“Terima kasih, Bu.”  (Dapat diucapkan saat guru meninggalkan kelas setelah mengajar)

4. Duduk di Bangku Depan Jika Masih Ada yang Kosong

Siswa yang duduk di bangku paling depan, biasanya hanya siswa yang sungguh-sungguh ingin belajar. Namun siapapun, perlu diberi kesempatan atau didorong untuk duduk di bangku depan. 

Hal ini selalu saya terapkan, jika masih ada bangku depan yang kosong, maka siswa yang duduk di bangku belakang harus pindah di bangku depan yang kosong. Atau siswa yang datang terlambat perlu mencoba duduk di bangku depan yang kosong. 

Dengan aturan seperti ini sebenarnya juga membuat anak lebih disiplin masuk kelas. Siswa akan datang lebih awal jika tidak ingin duduk di bangku paling depan. 

Baca Juga:  Bagaimana Mengatasi Kecemasan Orang Tua dalam Pembelajaran Online? 

5. Keluar Ruangan Kelas Wajib Minta Izin Guru

Siswa yang meninggalkan kelas tanpa izin perlu diberikan hukuman ringan. Misalnya, maju di depan kelas menghafalkan minimal 3 kalimat dalam materi yang sedang saya ajarkan.

Contoh:

Avometer adalah singkatan dari Ampere,Voltage dan Ohm.

Avometer berfungsi untuk mengukur arus listrik, tegangan listrik, dan tahanan listrik.

Avometer juga dapat digunakan untuk mengukur kondisi komponen elektronika seperti transistor, resistor,kapasitor, tafo, dll.

Sanksi ringan seperti ini dapat mengurangi kenakalan  siswa atau meminimalisir siswa membuat alasan-alasan untuk izin keluar kelas dengan maksud yang tidak pasti. Sikap ini juga melatih siswa untuk sabar menunggu jam pelajaran berakhir dan bertanggung jawab sebagai seorang siswa untuk tetap berada di dalam kelas mengikuti kegiatan pembelajaran.

6. Tidak Memotong Kata atau Berbicara Keras kepada Guru 

Ada rasa kesal ketika kita seorang guru berbicara dengan siswa, lalu di tengah pembicaraan tersebut siswa memotong. Untuk menghindari hal itu, saya ajarkan pada siswa agar ketika ada orang tua atau guru sedang berbicara, maka jangan dipotong; harus didengarkan sampai selesai, baru ditanggapi.

Sedangkan bicara keras, bukan hanya pada guru namun pada siapapun, akan menimbulkan kesan buruk. Jika kebiasaan tersebut terbawa di lapangan kerja pasti akan membuat citra buruk juga terhadap sekolah. Jika sebuah perusahaan sudah memandang buruk kepada sekolah maka akan sulit bagi siswa lainnya untuk mencari tempat Praktik Kerja Lapangan (PKL). 

Menjaga etika bicara di depan orang juga mengajarkan bahwa kita harus menghormati semua orang, apalagi kepada orang yang sudah tua dari kita.

Selain pengajaran etika di atas, tentunya masih banyak yang bisa guru tanamkan di dalam diri siswa. Pada akhirnya, guru akan memetik buah dari praktik baik yang diajarkan ke siswa tersebut. Dan siswa pun juga akan menjadi seorang pelajar yang dapat dibanggakan. 

 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

Share :

Baca Juga

pembelajaran tatap muka

Opini

Persiapan Belajar Tatap Muka di Masa Pandemi
motivasi belajar

Opini

Meningkatkan Semangat Belajar Siswa dalam Pembelajaran Tatap Muka di Masa COVID-19

Opini

Membangunkan Generasi Rebahan
motivasi siswa

Opini

Meningkatkan Motivasi Siswa dalam Belajar dari Rumah (BDR)
literasi membaca anak kelas rendah

Opini

Kognisi Berpengaruh pada Moralitas?

Opini

Tantangan Guru Masa Kini

Opini

Jangan Biarkan Pandemi Covid-19 Merenggut Kebiasaan Baik Siswa

Opini

Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa dengan Cara Sederhana