Oleh Supar, S.Pd.SD.
Guru SD Negeri 2 Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah
Output pembelajaran dengan model pemecahan masalah (Problem Solving) tidak ditujukan untuk perolehan pengetahuan atau teori belaka, namun bagaimana caranya agar dari pengetahuan bidang studi yang dipelajari oleh siswa dapat dimanfaatkan untuk menghadapi hal-hal baru atau situasi baru di kehidupan sehari-hari.
Model Problem Solving ini sangat sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dalam Kurikulum 2013 yang terintegrasi ke dalam beberapa pembelajaran yang lain serta terintegrasi ke dalam cabang ilmu sosial dengan menyuguhkan permasalahan sehari-hari. Permasalahan dalam pembelajaran IPS sangatlah luas, permasalahan ini dapat mencakup beberapa hubungan di dalamnya seperti hubungan antar manusia dengan yang lain, hubungan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya, hubungan manusia dengan lembaga kelompok maupun antar bangsa.
Melihat keterkaitan prinsip model Problem Solving berorientasi Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan ciri-ciri, tujuan, dan ruang lingkup pembelajaran IPS di sekolah dasar, maka sebagai seorang guru tentunya dapat menerapkannya dan dikembangkan di kelas. Keterampilan pemecahan masalah ini dapat diasuh sejak dini melalui pembelajaran-pembelajaran dengan metode pemberian masalah sebagai inti pembelajaran IPS—bukan pembelajaran yang menekankan pada hafalan suatu materi atau konsep—yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan lingkungannya di mana membutuhkan pemikiran yang kritis, analitis, dan kreatif. Sehubungan dengan ini maka perlu adanya suatu model pembelajaran yang mendukung untuk ketercapaian tujuan pembelajaran IPS.
Di sinilah keterkaitan yang sangat terlihat IPS perlu dikemas dengan model Problem Solving berorientasi HOTS. Problem Solving yang selalu menggunakan masalah nyata dalam kehidupan (autentik) selaras dengan tujuan dari pembelajaran IPS itu sendiri. Model pembelajaran berbasis masalah ini dapat memberikan ruang pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, melatih menyelesaikan masalah secara berkelompok, dan melatih kerja sama. Tentunya tidak sembarang masalah yang bisa diangkat ke dalam pembelajaran di kelas. Pemilihan masalah dalam pembelajaran perlu disesuaikan dengan kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, dan materi pembelajaran.
Hubungan antara model Problem Solving yang berorientasi HOTS dengan pembelajaran IPS juga dapat diamati dari implementasi penerapan dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru perlu merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswanya dapat mengkonstruksi pemikiran sendiri untuk memecahkan permasalahan atau mencari solusi untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi sesuai dengan sintaks model pembelajaran Problem Solving.
Sebagai contoh, penulis pernah mengembangkan implementasi Problem Solving dalam pembelajaran dengan berorientasi HOTS dalam tema 1 subtema 3 pembelajaran 1 untuk kelas 6 berbasis Kurikulum 2013. Menurut Djamarah (2014) implementasinya dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
- Siswa dibagi ke dalam kelompok belajar menjadi 4 sampai 5 kelompok (Fase 1).
- Siswa mengingat kembali materi di subtema sebelumnya tentang negara-negara di Asia Tenggara dengan menempelkan plastisin di papan yang telah disediakan.
- Siswa bersama guru melakukan tanya jawab tentang ibu kota negara, bahasa negara, lagu kebangsaan, keadaan alam negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
- Guru menayangkan video tentang keadaan sosial dan geografis negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
- Siswa bersama guru melakukan tanya jawab tentang informasi yang didapat dari video.
- Guru membagikan LKPD dan menjelaskan langkah-langkah diskusi kelompok (Fase 2).
- Guru menyampaikan masalah sosial yang ada di kawasan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
- Setiap kelompok mendiskusikan permasalahan dengan pengetahuan dan keterampilan awal yang mereka miliki setelah melihat video (fase 3).
- Siswa mengerjakan LKPD yang berisi permasalahan-permasalahan yang dihadapi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Siswa juga didorong untuk menemukan sebuah konsep berdasarkan permasalahan.
- Siswa mengolah informasi secara kelompok dan mendiskusikan masalah dengan pengetahuan dan keterampilan awal yang dimiliki serta menyusun hipotesis (fase 4).
- Siswa menguji kebenaran jawaban dengan mengaitkan kembali permasalahan dan solusi pemecahan masalah (fase 5).
- Guru memantau kerja siswa dan mendorong siswa untuk memecahkan masalah dan menyimpulkan hasilnya (fase 6).
- Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas (fase 7).
- Guru serta siswa melakukan refleksi pembelajaran.
- Guru memberikan penguatan dan pesan moral sebelum menutup pembelajaran.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model Problem Solving berorientasi HOTS merupakan pembelajaran pemecahan masalah yang dikemas dalam bentuk kerja kelompok dan diskusi. Hal ini dapat melatih dan mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir lebih kritis dan kreatif, memecahkan permasalahan dengan realistis, dan dapat membiasakan para siswa untuk terampil dalam memecahkan masalah. Ini bisa dijadikan acuan bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran di kelas, pengemasan pembelajaran agar ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dapat tercapai secara seimbang.
Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!
Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.