Home / Opini

Kamis, 24 Maret 2022 - 15:58 WIB

Meniti Jalan Menjadi Guru: Nadrita

Oleh Nadrita, S.PdI 

Guru di MIN 17 Pidie

Terlahir dari keluarga yang perekonomiannya sangat kurang, ditambah kepergian Ayah di usia enam tahun, membuat mental dan jiwaku harus lebih kuat. Walau tak dapat dipungkiri kadang rasa sedih, kecewa, kerap menghinggapi. Namun  itu tidak pernah menyurutkan langkah untuk terus belajar dan berprestasi. 

Masalah perekonomian keluarga yang tidak memadai sempat menyurutkan tekad untuk meneruskan kuliah. Padahal prestasi akademik sangat bagus bahkan mendapat prioritas sebagai siswa yang mendapat undangan dari universitas.

Setelah lulus SMA,  karena tidak mempunyai kemampuan finansial, aku mencoba peruntungan mencari lowongan pekerjaan dan melupakan pendidikan. Dalam pikiranku kerja apa saja yang penting halal dan mendapat upah.

Suatu hari Ibu  kedatangan ponakannya  yang sudah menjadi guru di salah satu SMP. Beliau mempertanyakan kenapa aku tidak kuliah. Dengan berlinang air mata ibu menjawab, “Uang dari mana sedangkan mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sulit.” 

Akhirnya Ibu diajak ke rumahnya dan diberi pinjaman tiga mayam emas murni untuk biaya kuliahku karena beliau melihat ada bakat dan potensi dalam diriku. 

Sempat ada perdebatan antara aku dan Ibu tentang peminjaman emas tersebut. Sebab aku akan merasa bersalah kalau-kalau tidak dapat melunasi hutang tersebut. Tetapi Ibu mengatakan, “Tak mengapa, Nak, yang penting kita berusaha daripada tidak sama sekali.”  

Ibu tampaknya kasihan kepadaku karena melihat teman-teman seusiaku banyak yang melanjutkan pendidikannya ke luar kota. 

Bermodal niat yang tulus dan doa dari Ibu, akhirnya aku mendaftar Diploma II (D2) di kota tempat kami tinggal. Untuk meringankan biaya kuliah dan membantu perekonomian keluarga, setelah satu bulan kuliah, aku mencoba menerapkan ilmu di madrasah. Akhirnya  setelah datang langsung dan tes kemampuan mengajar, Kepala Madrasah menerimaku untuk mengajar. Akan tetapi honor tidak dapat dibayar.

Baca Juga:  Pembelajaran Blended Learning dan Kreativitas Seorang Guru

Kemudian kami sekeluarga membuat usaha keripik pisang dan dititipkan ke warung-warung. Saban ba’da subuh, aku selalu berangkat ke pasar untuk membeli beberapa tandan pisang untuk diolah oleh Ibu dan Kakak. Setelah itu aku bersiap untuk mengajar. Pulang mengajar, mengolah keripik, kemudian kuliah.Tak pernah sedikitpun aku mengeluh karena Ibu selalu menguatkan bahwa pelangi akan hadir setelah hujan. 

Di akhir semester empat, dibuka formasi CPNS untuk lulusan  D2 dan aku mendaftar.

Di hari tes CPNS, seorang teman baik membuat hati ini terluka. Teganya dia membohongi diriku yang miskin ini. Pagi itu rasanya ingin menangis sejadi-jadinya. Bayangkan waktu tes tinggal satu jam, ternyata ia membatalkan yang sudah berjanji akan menjemput.

Ketika bayangan gagal mengikuti ujian CPNS, air mata ini menggenangi pelupuk mata. Saat berpamitan, Ibu bertanya ke mana saya akan mengikuti tes CPNS. Kujawab dengan pilu, “ke mana saja kaki melangkah, Bu!” 

…tanpa berkata-kata lagi, segera aku berlari mengejar labi-labi (sebutan transportasi umum di daerah kami). Setelah menumpangi  transportasi kedua, air mata kembali membasahi pipi, keluar keringat dingin, ketakutan karena waktu ujian akan segera dimulai. 

Untuk menyingkat waktu agar segera sampai ke lokasi ujian, aku harus turun dari kendaraan dan berlari menempuh jarak yang cukup jauh. Tiba di ruang ujian dengan napas tersengal-sengal, untungnya oleh pengawas masih diizinkan masuk. Tanpa membuang waktu, segera kuraih lembar jawaban dan membaca soal satu per satu. Alhamdulilah semua soal ujian berhasil kujawab sampai sore hari.

Pada saat menunggu pengumuman hasil tes CPNS, daerah kami di Aceh mengalami bencana alam yang maha dahsyat: Tsunami, yang memakan banyak korban. Aku terpanggil menjadi relawan membantu masyarakat, mendatangi tempat pengungsian, mendata orang hilang, mempertemukan keluarga yang terpisah. Sungguh kebahagiaan yang tak terlukiskan saat tim kami dapat mempertemukan korban dengan keluarganya; mempertemukan anak kecil dengan Ayah dan Ibunya kembali setelah terseret ombak.

Baca Juga:  Menanamkan Sikap Saling Menghargai di Kelas Mendorong Siswa Berprestasi

Musibah besar itu membuat ingatan tentang pengumuman hasil tes CPNS sedikit terlupakan karena kesibukan bersama tim PMI. Kemudian di bulan Maret 2005, pengumuman yang sempat tertunda dipublikasi di koran lokal. Dan hasilnya, nomor ujian atas namaku tertera di sana. 

Segera kuberitahu Ibu dan keluarga tentang kabar bahagia ini. Sebuah senyum tersungging di wajah Ibu seraya mengucapkan takbir.

Setelah menerima gaji pertama, aku segera menunaikan pelunasan utang pinjaman emas yang pernah dipinjam Ibu untuk biaya kuliahku.  Namun Kakak Sepupu ternyata tidak mau menerima pelunasan tersebut jika aku belum ambil kuliah Strata I. Satu setengah tahun kemudian  kuliah S1 berhasil diselesaikan dan menunaikan pelunasan hutang pinjaman emas kepada keluarga dari pihak Ibu.

Kini 20 tahun sudah aku menjalani tugas sebagai guru, terhitung mulai sebagai honorer. Kisah perjalanan hidup ini selalu kuceritakan kepada anak didik supaya mereka yang memiliki keterbatasan perekonomian pantang menyerah untuk mencapai kesuksesan. 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

*Meniti Jalan Menjadi Guru (MJMG) adalah konten serial yang mengisahkan perjalanan dan pengalaman menjadi seorang guru yang ditulis sendiri oleh nama bersangkutan. Tayang eksklusif di NaikPangkat.com dan akan dibukukan dalam sebuah antologi dengan judul “Meniti Jalan Menjadi Guru”

Editor: Moh. Haris Suhud

Share :

Baca Juga

Opini

Membangun Personal Grooming di Kalangan Pendidik

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Bustamin

Opini

Ceritaku Mengikuti Program PPG 2021
light city building bridge

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Nia Kurniati

Opini

Menjadi Guru yang Ramah di Sekolah dan di Rumah

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Arifah Pratikayani

Opini

Studysaster: Membuat Pembelajaran di Masa Pandemi Jadi Lebih Berarti
kampung inggris pekalongan

Opini

Siapkah Guru Menghadapi Tantangan Pendidikan New Normal?