Home / Opini

Minggu, 22 Januari 2023 - 07:19 WIB

Mengenalkan Kembali Budaya Daerah pada Siswa melalui Pelajaran Muatan Lokal 

Oleh Yanuarista Satriana Hartini 

Guru di SMPN 5 Lembor Selatan, Manggarai Barat

 

Budaya adalah nilai-nilai yang dibudidaya oleh suatu masyarakat di daerah tertentu. Budaya ini memiliki perbedaan di setiap daerah.

Budaya terus berkembang seiring berjalannya waktu dan keberadaannya diakui oleh masyarakat setempat. Salah satu fungsi budaya adalah dapat  menunjukan identitas masyarakat yang akan membedakan kelompok masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. 

Konsep budaya memiliki beberapa unsur misalnya sistem religi, bahasa, sistem pengetahuan, peralatan hidup dan teknologi, sistem kemasyarakatan, sistem mata pencaharian dan kesenian. Oleh karena itu, budaya perlu diwariskan dari generasi ke generasi agar budaya tersebut keberadaannya tetap terjaga, kelestarian suatu budaya tidak terlepas dari generasi. 

Siswa memiliki peranan penting dalam menjaga keutuhan budaya dari pengaruh budaya asing agar budaya di lingkungannya tidak punah. Sayangnya, kepunahan budaya mulai tampak.  Yang terjadi sekarang  dapat ditinjau secara kasat mata di mana begitu banyak siswa yang kurang mengenal budaya daerah sendiri seperti kurang mengetahui tarian adat, kurang mengetahui istilah-istilah adat, bahkan ada yang tidak mengetahui simbol-simbol budaya dari daerahnya sendiri, tidak mengetahui makna peribahasa dari daerah setempat dan masih banyak lainnya. 

Salah satu penyebab masalah tersebut adalah pembelajaran muatan lokal yang masih samar-samar, seolah-olah mata pelajaran muatan lokal dinomorduakan. Kalaupun dilaksanakan, ada sebagian pembelajaran dilakukan hanya sekadar pemberian sebagian pengetahuan tentang budaya lingkungan setempat tanpa ada pengaplikasian dalam kehidupan nyata. Sehingga pemahaman siswa terkait budaya lingkungan setempat sangat minim sehingga banyak siswa yang tidak mengerti tentang banyak hal terkait budaya daerah sendiri. 

Contohnya di daerah Manggarai Raya meliputi Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di daerah-daerah tersebut sebenarnya memiliki begitu banyak keunikan-keunikan budaya seperti seni pertunjukan dan seni sastra. Seni pertunjukan misalnya beberapa tarian adat termasuk tarian caci, tarian songka sae, tarian ndundu ndake, dan masih banyak jenis tarian adat lainnya. Ini merupakan kesenian daerah yang seharusnya menjadi kebanggaan dan keberadaannya harus tetap terjaga. 

Namun pada kenyataannya, generasi sekarang masih banyak yang kurang mengetahui adat istiadat daerah; banyak para siswa sekarang yang tidak bisa mempraktikkan tarian adat daerahnya sendiri. 

Adapun keunikan budaya Manggarai lainnya adalah seni sastra torok. Torok merupakan doa asli masyarakat Manggarai yang berisi tentang ungkapan-ungkapan yang disusun dengan syair-syair indah  untuk menyatakan maksud yang ditujukan pada wujud tertinggi yaitu leluhur. 

Baca Juga:  Tepatkah Pelaksanaan Lomba untuk Anak PAUD?

Torok sering kali disampaikan dalam kegiatan upacara adat yang sakral. Jadi dapat dikatakan bahwa torok merupakan bagian yang sangat penting dalam budaya Manggarai. Hal ini, menunjukkan bahwa tradisi ini perlu dijaga keberadaanya. Namun faktanya, begitu banyak masyarakat Manggarai sendiri yang belum bisa menjadi penutur torok. Juga banyak masyarakat Manggarai yang kurang mengetahui tentang syair-syair yang digunakan dalam torok dan juga ada banyak hal-hal lainnya yang mengindikasikan bahwa masyarakat masih belum memahami budaya daerah. 

Hal ini tentunya sangat penting untuk menjadi sorotan oleh sistem pendidikan kita yang mana subyeknya adalah siswa. Para pelajar tersebut memiliki peranan penting dalam melestarikan kebudayaan daerahnya yang hampir punah. Salah satu yang mungkin menjadi solusi dari persoalan ini adalah dengan penekanan pembelajaran muatan lokal pada proses pembelajaran di sekolah sesuai dengan daerah masing-masing.

Pembelajaran muatan lokal sangat penting bagi siswa agar bisa mengenal budaya lingkungan sendiri. Karena pembelajaran muatan lokal merupakan media penyampaian dalam dunia pendidikan yang pembelajarannya dikaitkan dengan lingkungan alam, sosial, dan  budaya lingkungan daerah setempat. 

Dalam pembelajaran muatan lokal, pada siswa dikenalkan dengan potensi dan karya yang terdapat di lingkungan daerah masing-masing. Sehingga diharapkan akan menjadi karakteristik pada siswa sesuai daerahnya. 

Ada banyak tujuan pembelajaran muatan lokal, salah satunya yaitu dapat membuat siswa mengenal budaya sendiri. Mengingat hal tersebut, mengintegrasikan kekayaan budaya daerah ke dalam mata pelajaran lainnya perlu dilakukan.  Dalam pembelajaran Matematika, misalnya, dalam menyampaikan konsep bangun datar dapat dikaitkan dengan mbaru gendang yang merupakan istilah berkaitan dengan bentuk rumah adat Manggarai yang menyerupai bangun datar limas, roto (keranjang) yang menyerupai bangun datar tabung, dan masih banyak contoh lainnya. 

Harapannya, di tahun 2023 pembelajaran muatan lokal kembali diutamakan seperti pembelajaran lainnya agar siswa dapat belajar tentang potensi dan juga karya-karya yang dimiliki oleh daerah di mana siswa berada. Sehingga budaya di lingkungan daerah tersebut tetap terjaga keutuhannya. (*)

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud

Share :

Baca Juga

Opini

Hari Buruh dan Nasib Guru Honorer
set of coloring pencils forming heart

Opini

Menjadi Guru di Era Pandemi Harus Penuh “Cinta”
person holding container with seaweed

Opini

Meningkatkan Keterampilan Proses Siswa dalam PJJ melalui Metode Eksperimen
man in red and white plaid dress shirt and blue denim jeans walking on street during

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Antonius Padua Eka Wahyu Suryadi
photo of woman writing on blackboard

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Delvina Bidari

Opini

Sistem Zonasi Berdampak pada Jumlah Siswa Baru di SMPN 3 Satu Atap Sambirejo

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: I Dewa Gede Trinandita

Opini

Menjadi Guru Milenial, Siapa Takut?