Mengatasi Problem Belajar Online bagi Siswa yang Tidak Terjangkau Teknologi

- Editor

Selasa, 31 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ada pepatah  yang mengatakan, siapapun bisa menjadi  guru dan di manapun bisa menjadi sekolah.

Sepertinya, pepatah tersebut sangat sesuai dengan kondisi pandemi sekarang ini. Saat murid tak lagi bisa belajar di kelas, rumah bisa menjadi tempat belajar dan orang tua atau orang-orang dewasa di rumah bisa menjadi guru.

Proses belajar dari rumah tentunya tidak mudah. Ada berbagai permasalahan yang muncul dari sistem belajar model baru ini. Hampir semua orang dituntut memiliki  kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi. Belum lagi ketika siswa tinggal di daerah yang belum terjangkau oleh akses jaringan internet. Kondisi seperti ini akan menjadi keluhan bagi para guru dan orang tua siswa yang seakan-akan tiada berkesudahan.

Saat pembelajaran dilakukan dari rumah, fasilitas belajar seperti gawai atau laptop harus dimiliki oleh siswa. Dan itu harus ditunjang dengan akses internet yang memadai, serta kemampuan biaya dalam menyiapkan paket data untuk belajar online.

Sementara itu, pihak guru perlu membentuk kelompok diskusi yang dapat menunjang proses pembelajaran ini, misalnya dengan membuat grup WhatsApp. Jika terdapat siswa yang mengalami kendala dalam pembelajaran jarak jauh, guru  harus menerapkan strategi yang lain  sehingga setiap siswa tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan. Terutama  bagi siswa yang tinggal di daerah yang tidak terjangkau sistem ini atau para siswa yang tidak memiliki kemampuan dalam mengadakan fasilitas penunjang dalam pembelajaran online.

Strategi Mengatasi Siswa yang Tidak Terjangkau Teknologi Informasi

Ada beberapa hal yang menyebabkan siswa tidak terjangkau teknologi informasi untuk pelaksanaan pembelajaran online.  Di antaranya adalah siswa tidak memiliki kemampuan finansial untuk menyediakan ponsel maupun laptop, serta kesulitan dalam menyediakan kuota untuk belajar online.

Selain itu juga bisa disebabkan karena lokasi yang tidak mendukung sehingga akses internet sulit dijangkau  karena tidak adanya jaringan sinyal yang stabil. Misalnya, daerah pedalaman, daerah dataran tinggi, daerah yang tidak memiliki menara repeater penangkap sinyal. Maka daerah-daerah tersebut menjadi lokasi yang sangat sulit dalam mengakses internet.

Melihat Kondisi di atas, guru harus menerapkan strategi yang tepat untuk memenuhi dan melayani kebutuhan anak akan pendidikan. Untuk itu dapat dilakukan dengan berbagai  cara di antaranya guru dapat membentuk kelompok-kelompok belajar bagi siswa yang berdekatan rumahnya, terdiri dari 4 sampai 5 anak di salah satu rumah siswa yang memungkinkan untuk belajar.  Tentunya semua itu harus tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat. Guru kemudian dapat mendatangi kelompok belajar tersebut untuk menjelaskan materi dan memberikan tugas secara berkala.

Selain itu juga bisa dilakukan penjadwalan  pengambilan tugas di sekolah.  Maka guru harus sudah menyiapkan LKPD yang telah disusun sesuai materi pembelajaran. Tugas tersebut dapat dikerjakan di rumah kemudian dikembalikan ke sekolah lagi untuk dikoreksi pada waktu yang telah ditentukan.

Namun, berdasarkan pengalaman, belajar dengan model seperti ini membuat sulit dalam menilai kompetensi siswa. Karena terkadang orang tua atau anggota keluarga lain yang mengerjakan tugas-tugas tersebut sedangkan anak tinggal menyalin apa yang telah dikerjakan oleh orang lain tersebut. Sehingga nilai dalam tugas ini kurang bisa mengukur kemampuan anak yang sebenarnya.

Alternatif lainnya adalah guru harus  standby di sekolah apabila sewaktu-waktu ada siswa maupun orang tua yang bertanya atau berkonsultasi tentang tugas maupun materi pelajaran. Segala sesuatu harus diatur.

Memang tidak mudah bagi kita semua sebagai pendidik dalam  menghadapi kondisi seperti ini. Akibat pandemi, berbagai sektor kehidupan mengalami perubahan. Namun kita tetap harus bertahan, mampu beradaptasi, dan semua harus dihadapi dengan semangat.

Belajar dari rumah adalah solusi yang tepat untuk saat ini. Demi kemajuan bangsa dan terpenuhinya hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Jangan sampai anak yang akan menjadi masa depan bangsa, pemegang kedaulatan bangsa di masa depan, menjadi lemah secara mental maupun intelektual.  

Ditulis oleh Cicilia Retnaningsih, S.Pd. (Guru di SD Negeri 6 Buntok)

Berita Terkait

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali
Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Berita ini 84 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 13:59 WIB

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Berita Terbaru