Home / Opini

Selasa, 27 Juli 2021 - 23:26 WIB

Kelahiran Putraku dan Kelahiranku sebagai Penulis

Penulis – Ketika pandemi Covid-19 terjadi, aku dalam  kondisi hamil tua. Virus ini cepat sekali mewabah. Berita terhadap orang yang terkena virus Korona semakin banyak dan marak diperbincangkan, karena bahayanya yang begitu besar hingga mengakibatkan kematian.

Saat aku melahirkan putraku, saat itu pula pemerintah mulai membatasi segala akses jalan dan menerapkan kewaspadaan kesehatan atau disebut protokol kesehatan.  Pemerintah menerapkan Program Sosial Berskala Besar atau PSBB. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus yang semakin cepat menular. 

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi,  dalam keterangan tertulisnya mengatakan PSBB mencakup pembatasan sejumlah kegiatan penduduk tertentu dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19. Semua interaksi dibatasi, banyak perkantoran yang diliburkan—kecuali perkantoran yang menangani hal-hal tertentu termasuk kantor yang mengurus korban Covid-19. 

Tidak hanya itu, tempat-tempat ibadah pun dibatasi bahkan diimbau untuk tutup sementara waktu. Acara-acara keagamaan, pernikahan, dan yang lainnya pun dibatasi. Adapun protokol kesehatan yang diberlakukan yaitu dengan menerapkan rajin cuci tangan, menjaga kebersihan diri, memakai masker, dan menjaga jarak. Semua orang wajib cek suhu tubuh serta memperbanyak makanan sehat guna menjaga kekebalan tubuh atau imun, baik dengan buah-buahan, sayuran, maupun suplemen vitamin lainnya.

Program pemerintah saat menjalankan PSBB mengakibatkan dunia pendidikan harus mencari  jalan lain agar pembelajaran tetap berjalan. Pembelajaran harus dilakukan di rumah masing-masing yaitu melalui Pembelajaran Jarak Jauh yang biasa disebut PJJ atau daring, artinya dilakukan secara online dengan memanfaatkan jaringan internet.

Baca Juga:  Mendongeng untuk Membentuk Kepribadian Anak

Hal itu sebenarnya sedikit menguntungkanku yang baru saja melahirkan putra tercinta. Karena dengan begitu, aku tetap bisa melaksanakan tugasku mengajar tanpa cuti melahirkan. Kami memanfaatkan telepon seluler sebagai media komunikasi dalam melaksanakan pembelajaran. 

Dengan diterapkannya pembelajaran jarak jauh metode pembelajaran pun semakin variatif.  Baik guru, siswa, ataupun orang tua dituntut untuk melek teknologi, terutama bagi guru. Beragam teknik penyampaian materi pembelajaran harus dapat tersampaikan selama pandemi berlangsung dan peserta didik diharapkan tetap bisa belajar walau dalam suasana pandemi.

Sebagai seorang guru aku harus dapat memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya untuk mendukung proses pembelajaran jarak jauh. Awalnya aku menggunakan WhatsApp sebagai media komunikasi dalam pembelajaran. Melalui aplikasi tersebut proses pembelajaran bisa dilaksanakan cukup baik.

Namun, Ketika Kemdikbud mengeluarkan program Guru Belajar aku mulai mengenal aplikasi Telegram. Karena dari program tersebut kami seluruh peserta pelatihan digabungkan dalam grup Telegram.

Setelah itu, aku mulai mencari informasi dan mengikuti berbagai kegiatan yang ada dalam grup WhatsApp ataupun Telegram. Dari grup tersebut kemudian  aku mengenal berbagai pelatihan yang diadakan oleh berbagai organisasi pendidikan yang dapat membantuku menambah literasi teknologi.

Satu per satu pelatihan aku ikuti.  Manfaat mengikuti pelatihan-pelatihan itu, selain mendapat ilmu yang bermanfaat juga bisa mendapatkan sertifikat sebagai bukti pengembangan diri.  Pelatihan-pelatihan itu membuatku semakin ingin tahu bagaimana menemukan cara terbaik dalam pembelajaran daring, bagaimana menerapkan berbagai aplikasi sebagai media pembelajaran daring. Ternyata banyak sekali media yang bisa digunakan dalam pembelajaran daring agar semakin variatif. Di antara pelatihan yang aku ikuti dan dapat aku terapkan di antaranya adalah pelatihan penggunaan Google Form, Quizizz, Kayzala, Canva, Microsoft Office 365, dan masih banyak lagi.

Baca Juga:  Teori Kecerdasan Majemuk dalam Pembelajaran Matematika

Tidak hanya pelatihan yang mendukung metode pembelajaran saja yang aku ikuti dan aku rasa perlu.  Sebagai guru, aku juga membutuhkan pelatihan untuk pengembangan diri lainnya seperti cara membuat media pembelajaran, PTK, best practise, jurnal, artikel dan lainnya.

Di antara pelatihan yang berkesan bagiku adalah pelatihan penulisan artikel.  Dari pelatihan itu, aku jadi mengenal berbagai jenis artikel di antaranya adalah artikel populer. Aku benar-benar mendapatkan pengalaman baru. Dan dari situlah, aku mulai memfokuskan diri bahwa aku harus benar-benar memahami ini.

Jiwa menulisku seakan terpanggil kembali, terbimbing, dan terarah. Hal ini mengingatkanku beberapa tahun lalu yang sempat berhenti menulis karena tulisanku hanya menjadi lembaran sampah yang akhirnya terbuang. Aku memang sadar tulisanku tidak sebagus kebanyakan orang, tapi jika aku berhenti menulis jiwaku bisa saja mati.

Mulai saat ini, aku harus berani menulis sebagai rasa syukurku yang telah dituntun sampai tahap ini.  Aku telah dipertemukan dengan orang-orang hebat dan pelatih yang luar biasa.

Yang terakhir, aku ingin sampaikan rasa syukurku karena aku telah dipertemukan dengan pelatih yang luar biasa  yaitu Bapak Moh. Haris Suhud, S.S. Beliaulah guru yang telah melahirkanku sebagai penulis.

Ditulis oleh  Iis Kurniasih, S.Pd. (UPT SDN Periuk Jaya Permai – Kota Tangerang)

Share :

Baca Juga

Opini

Meningkatkan Kompetensi Pendidik dalam Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Opini

Pembelajaran Daring di Daerah Terpencil pada Masa Pandemi

Opini

Sebuah Kajian dan Solusi Menghindari Konflik Menantu vs Mertua
pendidikan karakter

Opini

Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa

Opini

Tetap Belajar Meskipun Sudah Mengajar

Opini

Tradisi Unik Masyarakat Bugis Desa Soga di Bulan Muharram 

Opini

Hari Pertama Belajar Daring yang Menantang

Opini

Profesionalisme Praktik Pekerja Sosial