Home / Opini

Sabtu, 3 Juli 2021 - 03:19 WIB

Tantangan Mendidik Generasi Z dan Generasi Alpha

Generasi Z menjadi perbincangan hangat oleh para pendidik saat ini. Para guru tengah disibukkan menghadapi generasi tersebut. Demikian juga ketika harus mendidik generasi Alpha. Generasi Alpha ini sendiri adalah anak-anak yang dihadapi guru PAUD atau guru SD saat ini.

Dalam melakukan klasifikasi  generasi memiliki rentang waktu sekitar 10-20 tahun. Tiap generasi memiliki cerita sendiri. Tidaklah heran jika kemudian terdapat perbedaan cara pandang antara generasi. Misalnya, perbedaan pandangan antara anak dan ayah tentang suatu hal. Apalagi antara anak dengan kakek, perbedaannya akan semakin kentara.

Menurut teori Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, berikut ini adalah klasifikasi 6 generasi dan gambaran tentang kehidupan masing-masing generasi tersebut:

1.  Generasi Tradisional (1922-1945)

Adalah mereka orang-orang veteran yang terlahir dari masa kekurangan dan peperangan. Memiliki jiwa patriotisme, pengorbanan, dan kerjasama. Teknologi tercanggih adalah radio.

2.  Generasi Baby Boomers (1946 – 1964)

Generasi ini terlahir setelah masa perang. Mereka adalah generasi idealis dalam perubahan dunia. Generasi berorientasi karir demi kesejahteraan anak dan cucunya. Masyarakat saat itu mengandalkan aktivitas konvensional dan mereka sudah mengenal teknologi telepon genggam.

3.  Generasi X (1965 – 1980)

Generasi X ini lebih tertata dan seimbang antara pekerjaan, kehidupan pribadi dan keluarga. Banyak keluarga yang bekerja full time. Mereka sudah mulai mengenal komputer dan video game. Televisi, telepon, SMS, Voice Mail, satelit dan penjelajahan luar angkasa sudah berkembang pesat. Masyarakat sudah mulai mencari informasi melalui internet.

4.  Generasi Milenial (1981 – 1996)

Baca Juga:  Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa

Ini adalah generasi orang tua zaman sekarang. Mereka adalah generasi perubahan dari konvensional ke modern. Mereka masih merasakan budaya konvensional kemudian tumbuh dalam penggunaan teknologi.

Generasi milenial ini sudah akrab dengan gadget, laptop, games dan lain sebagainya. Dan pada generasi ini melahirkan orang-orang kreatif, cerdas, dan inovatif yang merupakan pijakan perkembangan untuk generasi berikutnya.

5.  Generasi Z (1995 – 2010)

Generasi Z ini lebih inovatif lagi. Mereka bisa mencari penghasilan melalui platform-platform yang populer seperti Facebook, Instagram, influencer, reviewer produk dan menjual barang  melalui online shop.

Generasi ini sudah tidak mengenal budaya seperti permainan tradisional atau lagu-lagu daerah. Generasi ini nyaris tidak dapat terpisahkan dengan gadget. Permainan menurut mereka adalah permainan yang terdapat pada gadget. Sehingga hal tersebut membuat mereka kurang bersosialisasi.

Generasi ini cenderung suka gaya hidup yang sederhana dan tidak mau ribet karena sudah terlahir dalam kondisi serba aman dan nyaman. Generasi ini sudah terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah.

Generasi Z merupakan generasi global pertama di mana batas negara bukan halangan lagi karena terdapat koneksi internet. Generasi ini adalah generasi yang ambisius, level pengetahuan teknis dan berbahasanya cukup tinggi.

6.  Generasi Alpha (2010 – 2025)

Merupakan generasi yang akan mempengaruhi kelanjutan masa depan. Generasi ini adalah generasi yang lahir di abad 21. Penggunaan teknologi, khususnya gadget, bukan hal yang istimewa lagi. Bahkan pada saat balita sudah terbiasa menonton tayangan lewat gadget.

Baca Juga:  Teori Kecerdasan Majemuk dalam Pembelajaran Matematika

Generasi ini adalah generasi yang tumbuh didampingi teknologi yang sudah dipenuhi dengan Artificial Intelligence. Mereka terbiasa dengan alat-alat teknologi canggih, misalnya jam yang terdapat kamera, GPS, alat komunikasi bahkan bisa memantau kesehatan.

Tantangan Masa Depan Generasi Z dan Alpha

Penerapan pada generasi Z dan Alpha memerlukan perubahan dalam pendekatan edukasi. Di zaman ini pendidikan perlu beradaptasi dan berubah secara cepat. Hal ini disebabkan perkembangan teknologi yang dapat terjadi dalam hitungan detik.

Apalagi ketika datang, virus Covid-19 yang menyebabkan generasi Z dan Alpha akan lebih banyak bersentuhan dengan gadget. Generasi ini ditentukan oleh teknologi. Mereka menganggap jarak bukanlah halangan untuk dapat berkomunikasi. Teman dan sosial tidak berarti terbatas teman di sekitar tapi orang di seluruh dunia bisa menjadi temannya. Menonton sebuah tayangan harus lewat televisi, menulis tidak lagi harus di kertas, membaca tidak lagi di buku,dan seterusnya.

Gadget yang berada dalam genggaman nyaris segala hal dapat dilakukan dengan mudah. Sebab, gadget bukan sekedar alat komunikasi tapi banyak hal yang dapat dilakukan melalui alat ini.

Menurut laporan Dell Technologies, 85% jenis pekerjaan pada tahun 2030 untuk generasi Z dan Alpha belum dapat digambarkan. 65% anak sekolah dasar pada hari ini mungkin akan bekerja pada jenis pekerjaan yang belum ada di zaman sekarang.

Melihat fakta tersebut, tantangan terbesar tengah berada di depan kita, khususnya bagi orang tua dan tenaga pendidik.

Ditulis oleh Muhammad Ariyansyah Noor, Guru SD Negeri 034 Kampung Bugis

Share :

Baca Juga

pendidikan karakter

Opini

Pendidikan Karakter bagi Penerus Bangsa
meningkatkan minat baca siswa

Opini

Meningkatkan Minat Membaca Materi Bahasa Inggris Melalui Liveworksheet

Opini

Lakukan Hal Positif sebagai Obat di tengah Kondisi yang Negatif!

Opini

Salam dan Salim: Kebiasaan Baik Siswa yang Hilang Akibat Pandemi
mengajar online

Opini

Implementasi Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Nadrita
pendidikan karakter

Opini

Membangun Karakter Positif sejak Usia Dini

Opini

Mengatur Strategi Pembelajaran Online di Masa Pandemi