Studysaster: Membuat Pembelajaran di Masa Pandemi Jadi Lebih Berarti

- Editor

Jumat, 11 Juni 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sudah lebih dari satu tahun lebih lamanya terhitung dari Maret 2020 hingga sekarang, kita hidup berdampingan dengan wabah yang sangat menggila ini. Wabah itu sering kita sebut dengan Covid -19 atau Coronavirus Disease Covid-19. Wabah ini telah menghentikan segala sendi-sendi kehidupan manusia saat ini, termasuk juga dalam dunia pendidikan. Entah sampai kapan wabah ini berakhir, semua tidak tahu pastinya. Bahkan Pemerintah melalui Kemendikbud telah memperpanjang sistem kerja melalui Work From Home (WFH). 

Sebagai antisipasi penularan Covid-19 dan mengikuti aturan pemerintah agar peserta didik tetap aktif belajar, pembelajaran daring merupakan salah satu solusi yang diterapkan oleh para pendidik. Adapun pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh tentunya tidak terlepas dari pemanfaatan media komunikasi, teknologi, dan informasi. Salah satu model pembelajaran yang relevan pada kondisi saat ini yaitu model pembelajaran “Studysaster”. 

Istilah studysaster diambil dari akronim “study” dan “disaster”. Dalam Bahasa Indonesia, “study” berarti belajar dan  “disaster” berarti bencana. Jadi secara garis besar studysaster adalah model pembelajaran yang dilakukan saat bencana. 

Dilansir dari laman guruberbagi.kemendikbud.go.id menyebutkan bahwa metode studysaster merupakan wujud kontribusi langsung dunia pendidikan dalam pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Metode ini mensinergikan pendidikan tentang bencana kesehatan dalam pembelajaran.

Model pembelajaran seperti ini disebut sebagai studysaster karena berperan efektif dalam mengedukasikan kepada siswa tentang Covid-19 melalui hasil karya pembelajaran seperti puisi, cerpen, video, foto, poster, komik atau yang lainnya. Edukasi siswa tersebut tentunya dibimbing secara daring oleh guru pengampu di setiap mata pelajaran.

Model pembelajaran studysaster didefinisikan sebagai tahapan pembelajaran yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk memaksimalkan pengintegrasian pendidikan kebencanaan (pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana) dalam kegiatan pembelajaran. Seperti ulasan Zakki Fitroni  di laman guruberbagi.kemendikbud,go.id menyebutkan studysaster mempunyai enam langkah pembelajaran, yakni identifikasi, mencari, merencanakan, mencipta, membagikan dan mempraktikkan.

Pada langkah identifikasi, peserta didik dan guru mempelajari dan berdiskusi tentang definisi dan jenis-jenis bencana dan penyebab terjadinya Covid-19. Pada tahap mencari, peserta didik melihat tugas pembelajaran tentang Covid-19 di internet atau sumber lain yang relevan, sambil terus berdiskusi melalui grup kelas via WhatsApp, Zoom, atau Google Classroom. Kegiatan tersebut akan memberikan stimulus dalam mencari dan memahami konsep memvisualkan dan menuliskan ide sehingga menjadi sebuah karya edukasi berupa poster, komik, video, musik, puisi, cerpen dan lain – lain.

Setelah menemukan ide dan rencana karya yang akan dikerjakan, maka peserta didik mulai memvisualkan atau menuliskan rancangan tersebut dalam media masing-masing. Langkah selanjutnya membagikan karya hasil pembelajarannya kepada orang lain secara konvensional atau online. Kemudian langkah terakhir karya pembelajaran tentang bencana Covid -19 tersebut wajib untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari–hari.

Model pembelajaran studysaster juga saya terapkan dalam Bahasa Indonesia di SMK Negeri 2 Adiwerna. Siswa diharapkan mampu mengedukasi dirinya sendiri maupun orang lain untuk berperan mencegah dan melawan wabah Covid-19. 

Model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai alternatif bagi sekolah yang melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada masa pandemi Covid-19. Mudah-mudahan dengan menerapkan model pembelajaran studysaster ini dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa. Sehingga pembelajaran di masa pandemi ini dapat menjadi solusi pembelajaran yang maksimal dan memiliki memiliki makna. 

Ditulis oleh Drs.Abdul Rokhman, Guru Bahasa Indonesia SMK Negeri 2 Adiwerna,  Kab.Tegal. 

Berita Terkait

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali
Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 13:59 WIB

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Berita Terbaru