Pesantren Menjadi Solusi Pendidikan Karakter di Masa Pandemi?

- Editor

Jumat, 2 Juli 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pandemi Covid-19 yang terjadi telah mengubah banyak tatanan dunia, mulai dari ekonomi, sosial, budaya hingga pendidikan. Jutaan anak di seluruh penjuru dunia karena ada pandemi ini tidak bisa mengikuti pendidikan sebagaimana mestinya.

Pembatasan aktivitas di sekolah-sekolah terpaksa dilakukan dan pembelajaran harus dilakukan secara daring. Hal ini tentu saja dapat mengubah perilaku dan kebiasaan siswa. 

Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka, tetapi menggunakan bantuan media teknologi yang sudah tersedia. Segala bentuk materi pelajaran didistribusikan secara online, komunikasi juga dilakukan secara online, demikian juga dengan tes dilaksanakan secara online. 

Sistem pembelajaran daring ini sangat terbantu dengan adanya beberapa aplikasi seperti WhatsApp, Google Classroom, Google Form, Google Meet, Edmodo, Zoom atau yang lainnya.

Kendala yang terjadi dalam pembelajaran daring bisa terjadi karena minimnya dukungan fasilitas, kesiapan pendidik, hingga terbatasnya kuota data untuk akses ke internet. 

Sulitnya anak untuk berkonsentrasi dalam pembelajaran secara daring juga bisa menjadi masalah tersendiri. Masalah ini membutuhkan peran aktif dari orang tua khususnya pada anak-anak usia pendidikan dasar dan menengah yang sedang belajar di rumah. Sementara itu tidak semua orang tua memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai untuk membimbing anak-anaknya dalam belajar dari rumah selama pembelajaran daring dilakukan.

Pembelajaran daring juga dapat menimbulkan beberapa dampak dan masalah serius yang harus segera diatasi dan ditemukan solusinya. Pembelajaran daring ini membuat pelajar cenderung lebih suka bermain ponsel, main game online, dan sejenisnya. Hal tersebut dapat berdampak negatif pada perkembangan perilaku anak dan pada kedisiplinan.  

Bukan hanya itu saja, pembelajaran daring ini juga dapat menimbulkan masalah di dalam keluarga dan meningkatkan kekerasan pada anak. Tuntutan tugas yang menumpuk sering membuat stres baik bagi anak maupun orang tua. Sehingga permasalahan-permasalahan dalam keluarga pun meningkat. Bahkan kekerasan verbal kepada anak juga sering dialami oleh pihak anak. Hal ini tentunya sangat berpengaruh buruk pada psikologis anak.

Di sisi lain, ketika kontrol dari orang tua pada anak tidak maksimal selama anak tidak pergi ke sekolah, dapat menyebabkan pergaulan anak menjadi kurang terarah. Hal ini seringkali akan memberikan pengaruh pada pembentukan karakter dan akhlak.

Sistem daring juga membuat guru mengalami kesulitan dalam mendidik peserta didik, membentuk karakter, dan melakukan pengawasan pada siswa. Padahal tujuan pendidikan nasional ini bukan hanya menekankan pada pelajaran akademik saja namun juga akhlak mulia. Ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Para ilmuwan dan pengamat memprediksi pandemi ini akan berlangsung bisa sampai 4-5 tahun ke depan. Ini tentu saja memerlukan sebuah inovasi dan kreatifitas serta kebijakan yang progresif. Bila tidak, bisa jadi bangsa ini akan mengalami “lost generation” karena anak tidak mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Pendidikan Berbasis Pesantren 

Dengan banyaknya kendala yang dihadapi baik dari pihak guru, orang tua, dan siswa, perlu sebuah solusi untuk menyelamatkan anak bangsa.  Salah satu yang bisa dilakukan adalah menerapkan pendidikan berbasis pesantren atau pendidikan berasrama (Boarding School).

Di era pandemi, pesantren dan sekolah berasrama masih bisa tetap berjalan sebagaimana biasa. Mereka belajar dari pagi hingga malam dengan program-program yang dapat membentuk karakter dan akhlak mulia peserta didik.

Dengan demikian, generasi pesantren dan sekolah berasrama diprediksi akan lebih unggul dibandingkan dengan sekolah umum biasa bila pemerintah tidak progresif dan inovatif dalam mendesain pembelajaran di saat pandemi ini.

Oleh karena itu, saatnya pemerintah memikirkan bagaimana caranya agar pendidikan generasi muda yang selama masa pandemi ini tetap terjaga dan tidak kehilangan karakter positif, baik untuk siswa yang belajar di  pesantren dan sekolah non-asrama.

Ditulis oleh Henik Al Husnawati, S.Pd.I, Guru di MTs. Putri Ma’arif Ponorogo

Berita Terkait

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Keajaiban Kecerdasan Buatan (AI) yang Mampu Merevolusi Dunia Pendidikan
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:20 WIB

Keajaiban Kecerdasan Buatan (AI) yang Mampu Merevolusi Dunia Pendidikan

Berita Terbaru