Penerapan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Pasca Vaksinasi, Sudah Siap?

- Editor

Jumat, 2 Juli 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbud Ristek), menyebutkan terkait rencana tatap muka terbatas. Aturan yang tercantum dalam surat keputusan bersama empat kementerian menyatakan tiap sekolah wajib memberikan layanan belajar tatap muka terbatas setelah seluruh pendidik dan tenaga kependidikan menerima vaksin Covid- 19 dan berada di wilayah bukan zona merah.

Tapi untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas, sekolah tetap memberi pilihan kepada orang tua untuk memilih apakah orang tua mengizinkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas tersebut.

Dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas ini masih harus disiplin dengan protokol kesehatan agar tidak terjadi cluster baru dalam penularan virus Covid- 19. Jika pihak sekolah tidak mampu memenuhi syarat tersebut harus tetap melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan metode daring.

Jika sekolah ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas harus bisa melaksanakan “kebiasaan baru” yang sebelumnya tidak pernah dilakukan dalam pembelajaran tatap muka sebelum pandemi.

Menerapkan kebiasaan baru tersebut tentu saja tidak mudah. Apalagi bagi anak-anak peserta didik di tingkat sekolah dasar, menjalankan kebiasaan baru tersebut pasti akan sulit.

Siapkah anak-anak kelas rendah di sekolah dasar, misalnya, benar-benar disiplin untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan rajin mencuci tangan dan selalu menjaga jarak dengan temannya? Sedangkan di kalangan anak-anak ini masih suka bermain secara bergerombol saat bertemu di sekolah. Nah, inilah yang membuat agak sulit penerapan jaga jarak dan tidak bersentuhan antara satu siswa dengan yang lainnya.

Selain itu, apakah anak-anak kelas rendah akan patuh selalu memakai masker? Selama ini masih sering dijumpai anak- anak tidak memakai masker dengan berbagai alasan. Mulai dari lupa membawa hingga alasan membuat susah untuk bernafas.

Dalam pembelajaran tatap muka terbatas, harus terdapat pembagian kelompok belajar di setiap jadwal pembelajaran. Jumlah maksimal siswa yang boleh mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas di satu kelas jumlahnya terbatas pada 18 siswa.

Kondisi kelas pun harus diatur dengan jarak antara siswa minimal 1,5 meter. Pembagian jadwal penjemputan siswa pun harus diatur sehingga tidak terjadi penumpukkan antrian orang tua saat menjemput anak.

Selain pengaturan jadwal, sekolah pun harus melakukan pengaturan kondisi kelas di mana kondisi kelas harus bersih dan sehat dengan minimal satu kali membersihkan kelas menggunakan cairan desinfektan. Selain itu,  semua warga sekolah harus dalam keadaan sehat. Jika ada warga sekolah yang kurang sehat pada saat melaksanakan tatap muka terbatas maka tidak boleh datang ke sekolah.

Sekolah pun harus siap  menyediakan sarana cuci tangan yang memadai sehingga ketika anak-anak melakukan cuci tangan tidak terjadi penumpukan di salah satu tempat. Karena jika terjadi kerumunan,  dapat berisiko bagi kesehatan anak-anak.

Dan untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas ini harus ada kerja sama yang baik antara warga masyarakat di sekitar sekolah, guru dan orang tua. Semua pihak tersebut, perlu mendukung dan mendidik anak-anak agar benar-benar siap dan bisa menerapkan disiplin  protokol kesehatan sehingga pembelajaran tatap muka terbatas bisa berjalan dengan baik.

Ditulis oleh Nur Ma’rifah, S.Pd.I, Guru UPT SDN 1 Sukamulya

Berita Terkait

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Keajaiban Kecerdasan Buatan (AI) yang Mampu Merevolusi Dunia Pendidikan
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:20 WIB

Keajaiban Kecerdasan Buatan (AI) yang Mampu Merevolusi Dunia Pendidikan

Berita Terbaru