Home / Opini

Rabu, 30 Juni 2021 - 03:17 WIB

Penerapan Computational Thinking dalam Pembelajaran Abad 21

Kemajuan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah kehidupan manusia. Memasuki abad 21, hal tersebut telah memasuki berbagai bidang kehidupan termasuk dalam pembelajaran.

Pembelajaran abad 21 merupakan  proses belajar mengajar yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dengan menggunakan berbagai sumber belajar di mana siswa berperan aktif dalam meningkatkan kompetensi sikap, pengetahuan, keterampilan dan literasi serta kecakapan.

Pendekatan pembelajaran yang digunakan berpusat kepada siswa. Siswa tidak hanya mendengar dan menghafal pelajaran, namun berupaya membangun pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan tingkat perkembangan berpikirnya. Selain itu, pembelajaran juga diharapkan dapat memberikan dampak bagi kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Adapun tujuan pembelajaran abad 21 ini adalah untuk menghasilkan siswa yang memiliki keterampilan berpikir lebih tinggi  (Higher Order Thinking Skills) yang sangat diperlukan untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah; kemampuan kreativitas dan inovasi; kemampuan komunikasi; dan kemampuan kolaborasi. Kompetensi ini harus terintegrasi dengan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta penguasaan teknologi informasi dan komunikasi.

Selain keempat kompetensi di atas, kompetensi penting lain yang dibutuhkan dalam pembelajaran abad 21 adalah computational thinking atau kemampuan berpikir komputasi.

Jeannette M Wing dalam tulisannya yang berjudul Computational Thinking’s Influence on Research and Education for All (2017) menyatakan bahwa computational thinking merupakan proses berpikir yang terlibat dalam merumuskan masalah dan solusinya sehingga solusi tersebut direpresentasikan dalam bentuk yang dapat dilakukan secara efektif oleh agen pengolah informasi.

Baca Juga:  Kunci Keberhasilan Pelaksanaan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Dengan kata lain, computational thinking merupakan cara berpikir yang menguraikan suatu masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan sederhana. Kemudian menemukan pola dalam masalah dan menyusun langkah-langkah solusi menyelesaikan masalah tersebut.

Computational thinking ini dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, kemampuan ini melatih otak untuk terbiasa berpikir secara terstruktur, kritis, dan logis. Hal ini bukan berarti seseorang harus berpikir seperti komputer. Namun bagaimana seseorang mampu merumuskan suatu masalah dan menyusun solusi yang baik untuk memecahkan suatu masalah tersebut.

Computational thinking merupakan pendekatan yang biasa digunakan oleh para ilmuwan dalam mengembangkan aplikasi komputer. Namun prinsip computational thinking juga dapat digunakan untuk mendukung pemecahan masalah dalam semua disiplin ilmu.

Terdapat empat teknik dalam computational thinking yaitu, dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi dan perancangan algoritma.

Dekomposisi merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah kompleks menjadi masalah-masalah kecil yang lebih rinci. Pemecahan masalah menjadi lebih kecil bertujuan agar masalah tersebut lebih mudah untuk diselesaikan. Hasil pemecahan masalah-masalah menjadi lebih kecil ini yang akan digunakan untuk memecahkan masalah yang lebih kompleks. Menyelesaikan masalah secara dekomposisi juga berarti menyelesaikan masalah secara detail.

Pengenalan pola adalah kemampuan untuk mengenal kesamaan atau perbedaan umum pada masalah yang nantinya akan membantu dalam membuat prediksi. Dengan mengenali pola suatu masalah, penyelesaian masalah tersebut bisa dilakukan dengan lebih baik sesuai dengan pola yang sudah diketahui.

Baca Juga:  Tips & Trik Menjadi Guru Berprestasi di Era Digital

Abstraksi adalah kemampuan menyaring informasi yang tidak dibutuhkan dan menarik kesimpulan umum dari informasi yang dibutuhkan. Dengan melakukan abstraksi, kesimpulan umum yang diperoleh dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah serupa.

Dan perancangan algoritma adalah kemampuan untuk menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah secara terstruktur, logis dan kritis.

Dengan menerapkan computational thinking dalam pembelajaran, siswa bisa belajar lebih efektif dan efisien dalam menyelesaikan persoalan-persoalan karena terbiasa mencari solusi terbaik dan membentuk pola solusi. Computational thinking juga dapat melatih siswa untuk berpikir secara sistematis dan terstruktur dalam memecahkan masalah. Hal ini dapat diterapkan dalam banyak pemecahan masalah baik di dalam pembelajaran maupun di dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam pembelajaran, misalnya, computational thinking dapat disandingkan dengan model pembelajaran lain yang juga membutuhkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan logis. Hal ini akan memberikan kesempatan pada guru untuk menyajikan pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna. Hal ini juga mendorong siswa untuk dapat meningkatkan kompetensi-kompetensi pembelajaran lain yang dibutuhkan.

Computational thinking merupakan kompetensi yang penting untuk dikuasai oleh oleh siswa. Dengan menerapkan computational thinking dalam pembelajaran, guru dapat membantu siswa menjadi pribadi yang lebih tangguh dan siap dalam menghadapi tantangan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan dunia di masa mendatang.

Oleh : Roma Ade Putra, M.Pd

Share :

Baca Juga

Opini

Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa

Opini

Pendidikan Karakter Harus Tetap Diajarkan Meski secara Daring

Opini

Permasalahan Pendidikan Online di tengah Pandemi Covid-19

Opini

Membaca vs Menonton, Mana yang Lebih Populer?

Opini

Menjawab Tantangan Guru Kreatif Era 4.0 dengan e-Modul
metode belajar membaca anak sekolah dasar

Opini

Metode Card Sort: Meningkatkan Kemampuan Membaca Kelas I
ASUS ZenBook Flip S (UX371)

Opini

Berharap 2021 Jadi Lebih Mudah dengan Asus ZenBook Flip S UX371
penggunaan masker di tengah pembelajaran

Opini

Guru Rentan Terpapar Lupa Akibat Masker