Pembelajaran Kontekstual Materi Panjang Busur, Luas Juring dan Luas Tembereng dengan Media Tutup Botol

- Editor

Selasa, 5 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh  Drs. Padiyo

Guru di SMPN 1 Klapanunggal, Kab. Bogor, Jawa Barat

Pada umumnya, sekolah – sekolah di Indonesia masih menggunakan pembelajaran yang konvensional. Masih banyak pembelajaran yang mengandung banyak kekurangan dan kelemahan, bahkan bertolak belakang  dengan pengembangan diri  dan kompetensi siswa. Seiring dengan kemajuan pendidikan di Indonesia saat ini, maka terjadilah perubahan dari pembelajaran yang konvensional menuju ke pembelajaran kontekstual.

Terobosan pembelajaran kontekstual ini, pada kenyataan  dilapangan masih banyak menghadapi kendala dikarenakan masih minimnya pemahaman dan kemampuan guru dalam strategi dan pendekatan model pembelajaran kontekstual. Oleh karena itu guru diharapkan dapat mengatasi kendala yang ada dan meningkatkan kemampuannya agar pembelajaran kontekstual dapat diterapkan di lapangan sehingga siswa tidak merasa bosan dan menjadikan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.

Munculnya pembelajaran kontekstual ini dilandasi pada kenyataan bahwa  mutu pendidikan di Indonesia masih rendah karena masih banyak siswa yang tidak mampu mengaitkan atau menghubungkan apa yang telah dipelajari di bangku sekolah dengan kenyataan kehidupan sehari-hari.

Belajar dari pengalaman selama pandemi Covid-19, mengajar di kelas sehari-hari  dengan pemberlakuan sistem pembelajaran tatap muka terbatas yaitu jumlah siswa yang hadir 50% dari jumlah yang ada dengan sistem bergiliran ditemukan begitu banyak siswa yang mudah lupa akan materi pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya. Hal ini menandakan bahwa proses belajar mengajar belum optimal. 

Sebenarnya jika siswa saat belajar merasa “mengalami” dengan apa yang sedang dipelajari, tidak hanya “mengetahui”maka belajar akan  lebih berkesan, menyenangkan, dan bermakna. Agar belajar lebih berkesan dan bermakna maka pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau CTL, adalah suatu model pembelajaran yang cocok untuk diterapkan, terlebih pada saat pandemi Covid-19. Karena  guru akan sangat terbantu dalam mengaitkan materi pelajaran dengan situasi lingkungan dan dunia nyata. 

Dalam pembelajaran kontekstual ini dapat meningkatkan rasa percaya diri pada siswa karena siswa  dapat mengaitkan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar atau dunia nyata. Proses pembelajaran mengalir secara alamiah karena  siswa bekerja, merasakan, dan mengalami.  Bukan hanya menerima  pengetahuan dari guru ke siswa.

Peranan guru dalam pembelajaran kontekstual adalah  membantu siswa mencapai tujuannya. Artinya  guru lebih banyak merencanakan, mengatur strategi dari pada memberi informasi maupun transfer pengetahuan. Selain itu,peranan guru adalah sebagai pengatur atau pengelola kelas sebagai tim yang dapat bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswanya.

Dalam pembelajaran kontekstual siswa ditekankan untuk menemukan sesuatu yang baru yaitu pengetahuan dan keterampilan  “yang ditemukan sendiri” bukan dari guru.  Peran siswa yang aktif merupakan ciri khas pembelajaran kontekstual agar siswa dapat membangun atau mengontruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Dan dalam pembelajaran kontekstual, siswa bukan belajar menghafal tetapi siswa belajar untuk mengalami.

Dari pengalaman pada proses belajar mengajar  di kelas sehari-hari, sering kita dapati masih banyak siswa–siswi yang masih bersifat pasif. Artinya siswa kita masih cenderung menerima pengetahuan  dari guru. Misalnya, dalam pembelajaran daring sejumlah siswa masih belum bisa mengalikan bilangan bulat secara bersusun. Ini semua karena siswa dalam pembelajarannya sebatas menerima bukan mengalami sehingga pembelajaran kurang berkesan dan kurang bermakna.

Tentunya sebagai seorang pendidik, kita harus mau introspeksi diri agar pembelajaran berjalan dengan baik dan tidak monoton sekaligus menyadari bahwa guru bukan satu-satunya sumber pembelajaran di era sekarang ini. Agar siswa kita tidak mudah lupa, maka guru harus berinovasi dengan model-model pembelajaran yang ada. Salah satunya adalah model pembelajaran kontekstual yang cocok diterapkan kepada siswa.

Berikut adalah 7 langkah dalam pembelajaran kontekstual di dalam kelas dengan materi panjang busur, luas juring dan luas tembereng dengan media tutup toples dan botol menurut Ditjen Dikdasmen (2003:10-19) diambil dari buku karangan Dr. Kokom Komalasari, M.Pd. 

1.     Konstruktivisme 

Pada fase ini, guru membentuk sejumlah siswa menjadi beberapa kelompok heterogen yang setiap  kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang. Kemudian meminta siswa menyiapkan media botol atau tutup toples. Setelah itu meminta setiap kelompok mengidentifikasi unsur-unsur lingkaran. Setiap kelompok wajib menuliskan hasil diskusinya

2.     Pemodelan

Pada fase pemodelan ini setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Guru dan siswa lainnya mengamati presentasi kelompok siswa.

Dalam hal ini pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu adalah model yang bisa ditiru oleh temannya. Pemodelan tidak harus dari siswa melainkan guru juga bisa menjadi model pembelajaran kontekstual.

3.     Inkuiri (menemukan)

Setelah siswa mengidentifikasi unsur-unsur lingkaran, diharapkan dapat menentukan rumus panjang busur, luas juring,  dan luas tembereng.

Fase inkuiri ini bagi siswa setingkat SMP masih memerlukan informasi tambahan dari gurunya. Misal sebelum siswa menentukan rumus, perlu diberi rangsangan terlebih dulu tentang materi perbandingan yaitu jika ada gambar seperti di bawah ini, siswa diminta untuk menulis perbandingan daerah yang diarsir terhadap daerah keseluruhan. 

Selain diminta menuliskan perbandingan daerah yang diberi warna dengan daerah keseluruhan, juga diberikan rangsangan perkalian silang, misal: 

Dengan diberikan stimulus atau rangsangan tersebut siswa dapat menentukan rumus panjang busur, luas juring, dan luas tembereng. Kemudian setiap kelompok menuliskan di papan tulis hasil diskusinya,

4.      Masyarakat belajar

Setelah kelompok menyelesaikan tugasnya menemukan rumus panjang busur, luas juring, dan luas tembereng maka diharapkan siswa dapat menerapkan dalam penyelesaian soal.

Di dalam memecahkan persoalan siswa harus berperan aktif di kelompoknya yang merasa sudah bisa mengajari siswa yang belum bisa. Dan yang merasa belum bisa mau bertanya kepada temannya atau dalam kelompok saat mengerjakan tugas dibagi peran masing-masing supaya semua anggota kelompok bekerja aktif tidak ada yang hanya mengandalkan temannya.

5.     Bertanya

Pada pembelajaran kontekstual bertanya menjadi sangat penting bagi siswa untuk membangun pengetahuannya karena dengan bertanya siswa akan dapat melakukan inkuiri, yaitu untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi dan menginformasikan apa yang sudah diketahuinya. Peran guru pada fase bertanya ini adalah membangkitkan atau mendorong siswa agar sebanyak mungkin bertanya. Dengan banyaknya siswa bertanya maka siswa akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

6.     Refleksi

Pada fase refleksi ini siswa atau kelompok menuliskan apa saja yang dirasakan atau dialami setelah melakukan pembelajaran kontekstual. Siswa diminta secara jujur untuk menuliskan apa saja keberhasilan ataupun kekurangan selama pembelajaran kontekstual.

Hasil refleksi ini digunakan untuk evaluasi diri sekaligus sebagai  perbaikan pembelajaran berikutnya. 

7.     Penilaian yang sebenarnya

Pada fase penilaian yang sebenarnya adalah hasil yang didapat siswa tidak hanya dilihat atau dinilai jawaban benar salah tetapi dinilai mulai dari prosesnya  dari pekerjaan siswa. Artinya siswa mendapat nilai tidak hanya karena jawabannya benar tapi jawaban akhir yang belum benar pun mendapatkan nilai berdasarkan proses yang dilakukan. 

Dalam pembelajaran kontekstual ini bisa menggunakan variasi penilaian, misalkan penilaian model portofolio,penilaian produk, dan lain sebagainya.

Keberhasilan dalam pembelajaran kontekstual ini tergantung dari guru dalam mengatur strategi karena guru di sini sifatnya adalah fasilitator bagi para siswanya.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

Berita Terkait

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Keajaiban Kecerdasan Buatan (AI) yang Mampu Merevolusi Dunia Pendidikan
Berita ini 240 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:20 WIB

Keajaiban Kecerdasan Buatan (AI) yang Mampu Merevolusi Dunia Pendidikan

Berita Terbaru