Home / Opini

Selasa, 2 Agustus 2022 - 20:20 WIB

Merdeka Belajar dan Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh Unu Nurahman

Guru Penggerak  SMAN 1 Leuwimunding & Dosen FIB Unsap Sumedang

 

 

Pada tahun 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengeluarkan kebijakan merdeka belajar untuk melakukan transformasi pendidikan demi terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul dan berprofil Pancasila. Merdeka belajar atau pendidikan yang memerdekakan pada hakikatnya pembelajaran berpihak atau berpusat kepada murid (student-centered learning) yang sudah dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara (KHD) sejak tahun 1922 di perguruan Taman Siswa. 

Dalam pembelajaran ini, murid memainkan peranan penting dengan bimbingan guru. minat, gaya, dan kesiapan belajar siswa ditempatkan sebagai prioritas sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning). Pengembangan karakter (budi pekerti) harus sesuai dengan perkembangan budaya bangsa sebagai sebuah kontinuitas menuju ke arah kesatuan kebudayaan dunia (konvergensi) dan tetap memiliki sifat kepribadian di dalam lingkungan kemanusiaan sedunia (konsentris). 

KHD menyatakan bahwa pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (uiterlijke vrijheid) yaitu kemiskinan dan kebodohan. Sedangkan pendidikan mengarah pada memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (innerlijke vrijheid) yaitu otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik. Pendidikan hendaknya disesuaikan dengan kodrat alam yang berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan anak berada serta kodrat zaman yang merupakan muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya di Indonesia.

Pembelajaran berdiferensiasi atau differentiated instructions merupakan manifestasi pembelajaran berpihak kepada murid yang dirancang, dilaksanakan dan dinilai untuk memenuhi kebutuhan individual murid dengan memperhatikan kesiapan belajar (readiness), minat belajar (learning interest), dan profil belajar (learning profiles). Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut.

Adapun strategi pembelajaran berdiferensiasi ada 3 yaitu: diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten berhubungan dengan materi atau apa yang diajarkan pada murid dengan mempertimbangkan pemetaan kebutuhan belajar murid baik itu dalam aspek kesiapan belajar, aspek minat murid dan aspek profil belajar murid atau kombinasi dari ketiganya.

Baca Juga:  Sistem Pembelajaran Jarak Jauh Belum Bisa Menggantikan Sekolah Tatap Muka

Diferensiasi proses menekankan pemahaman guru tentang proses belajar murid apakah secara berkelompok atau mandiri. Guru menetapkan jumlah bantuan yang akan diberikan pada murid-murid. Siapa sajakah murid yang membutuhkan bantuan dan siapa sajakah murid yang membutuhkan pertanyaan pemandu yang selanjutnya dapat belajar secara mandiri. Sedangkan, diferensiasi produk merupakan keberagaman dalam hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan pada guru bisa berbentuk karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dan sebagainya.

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan solusi bagi permasalahan terkait pembelajaran di kelas yang berpihak kepada kepentingan murid. Untuk itu guru harus mampu memetakan kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar muridnya yang mungkin tingkat kompleksitasnya berbeda di masing tingkatan. Sebagai contoh di sebuah SMA di mana jumlah muridnya 1000 orang, seorang guru mata pelajaran mungkin harus mengampu murid lebih dari 500 siswa. Untuk mengatasi masalah itu, guru mapel di SMA harus berkolaborasi dengan rekan sejawat, misal guru BP/BK, wali kelas  para Wakasek serta orang tua siswa.

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan guru dalam mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi. Pertama, berpusat pada siswa (student-centered learning) artinya pembelajaran direncanakan dengan cermat dan strategis dengan berdasar pada upaya memahami siswa secara utuh, serta menempatkan gaya, intelegensi, kemampuan awal, dan berbagai cara belajar siswa sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran. Kedua, berpusat pada kurikulum (curriculum-centered learning). Ketiga, diferensiasi materi pembelajaran (differentiated-content) di mana guru harus mampu menyeleksi materi pembelajaran sesuai dengan minat, pengetahuan awal, dan gaya belajar siswa.

Sebagai manifestasi pembelajaran yang berpihak kepada murid sesuai dengan konsepsi merdeka belajar, pembelajaran berdiferensiasi  tentunya memiliki tujuan untuk membantu semua siswa dalam belajar, meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, menjalin hubungan yang harmonis guru dan siswa, membantu siswa menjadi pelajar yang mandiri dan meningkatkan kreativitas guru.

Baca Juga:  Mengantar Anak Didik Menuju Kesuksesan

Perlu digarisbawahi, pembelajaran berdiferensiasi pada hakikatnya pembelajaran yang memandang bahwa siswa itu berbeda dan dinamis. Oleh karena itu, sekolah harus memiliki perencanaan tentang pembelajaran berdiferensiasi, yang terdiri dari mengkaji kurikulum saat ini yang sesuai dengan kekuatan dan kelemahan siswa, merancang perencanaan dan strategi sekolah yang sesuai dengan kurikulum dan metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan siswa, menjelaskan bentuk dukungan guru dalam memenuhi kebutuhan siswa dan mengkaji dan menilai pencapaian rencana sekolah secara berkala.

Pembelajaran berdiferensiasi bisa dilaksanakan jika terdapat komunikasi yang terstruktur dengan komite sekolah, guru, dan orang tua. Guru harus memperhatikan beberapa aspek dalam belajar dan pembelajaran. Ada enam (6) elemen yang berkontribusi terhadap belajar dan pembelajaran yaitu respon yang berdiferensiasi, asesmen dan evaluasi, strategi pembelajaran, materi pembelajaran, desain pembelajaran dan materi pembelajaran.

Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang masih dianggap baru tentunya tidak mudah dan penuh tantangan. Bagaimanapun, guru dituntut kerja ekstra untuk dapat menyiapkan konten materi, proses belajar serta tugas yang berbeda sesuai kebutuhan individual murid. Namun demikian, tidak ada salahnya para guru mencobanya untuk meningkatkan potensi dan hasil belajar anak didik. Seperti peribahasa “The root of education is bitter, but the fruit is sweet” akar pendidikan itu memang pahit akan tetapi buahnya manis. (*)

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

Share :

Baca Juga

guru menulis artikel populer

Opini

Manfaat Menulis bagi Seorang Guru
man in black hoodie sitting on brown couch

Opini

Mengadopsi Metode Jigsaw untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Bimbingan dan Konseling
guru senior

Opini

Tak Ada Kata Terlambat bagi Guru Senior untuk Belajar Teknologi
pembelajaran di masa pandemi

Opini

Menciptakan Suasana Belajar di Rumah yang Menyenangkan di Masa Pandemi
belajar di masa pandemi covid-19

Opini

Covid-19 Tak Boleh Membuat Siswa Berhenti Belajar
covid-19 dan pembelajaran jarak jauh

Opini

Covid-19 dan Sebuah Cerita dari SD Negeri 1 Galih Lunik

Opini

Kepercayaan Diri Anak Sangat Penting untuk Mencapai Hidup Bahagia dan Sukses

Opini

Syariat Islam dan Pencegahan Kekerasan Seksual