Home / Opini

Rabu, 2 Maret 2022 - 16:30 WIB

Meniti Jalan Menjadi Guru: Sumini

Oleh Sumini,S.Pd. 

Kepala Sekolah SDN 009 Nongsa, Kota Batam.

Namaku Sumini. Aku dilahirkan pada tanggal 30 Januari 1970 dari keluarga petani yang tinggal di sebuah dusun di Karangan, Kota Karanganyar, Jawa Tengah.  Aku anak paling kecil dari 12 bersaudara.  

Waktu kecil aku tak pernah punya cita-cita yang muluk-muluk. Aku hanya ingin menjadi seperti Bapakku, menjadi petani yang tangguh—berangkat ke sawah  setelah selesai sholat Subuh dan pulang menjelang Magrib.

Bapak sendiri lahir dan besar pada masa penjajahan Belanda sampai penjajahan Jepang. Di usia 10 tahun, Bapak sudah menjadi yatim karena ditinggal orang tua yang gugur sebagai pejuang tanpa gelar. Setelah itu, Bapak menjadi penerus orang tuanya sebagai  veteran yang ikut perang melawan penjajah dan pernah ikut kerja rodi serta menjadi tentara gerilya. 

Ketika masih kecil, aku paling senang ketika habis Magrib menemani Bapak minum teh.  Sementara itu Ibuku adalah penjual tempe. Sehingga dari kecil sampai sekarang, tempe goreng menjadi makanan favoritku.  

Ketika kami duduk berdua, Bapak seringkali bercerita tentang perang. Dan Bapak ingin sekali salah satu di antara anaknya ada yang menjadi guru.  Kata Bapak, guru itu adalah profesi yang mulia sama seperti tentara yang rela perang membela tanah air. Sedangkan guru adalah orang yang rela mendidik dan bisa menjadikan anak bangsa menjadi pintar supaya kelak tidak dijajah. 

Kata-kata Bapak  itu terpatri di dalam hatiku dan kelak aku ingin mewujudkan cita-cita tersebut.  Waktu itu aku masih sekolah SD.  Sedangkan hampir semua saudaraku sudah menikah dan punya kehidupan masing-masing. Itu artinya tinggal diriku yang dapat  mewujudkan cita-cita Bapak yang ingin punya anak jadi guru.

Seiring berjalannya waktu aku pun terus menempuh pendidikan tanpa memikirkan apakah benar aku bisa jadi seorang guru di kemudian hari. Setelah lulus SD, aku diterima di SMP Negeri  I Jumantono. Selesai SMP, aku  sempat berpikir ingin masuk STM karena aku senang dengan alat-alat kelistrikan.  Tapi keinginanku itu kandas setelah Bapak bertanya, “ Nduk, opo sampean ra seneng to yen sekolah SPG. Mumpung Bapak isih kuat, isih iso ragat?”  

Seandainya aku ikut kata hatiku, maka aku akan menjawab, “Kulo mboten seneng, Pak!”

 Tapi kalimat itu kutahan dan dengan menunduk kepala, aku menjawab: “ Ya, Pak! Aku seneng kok, sing penting sekolah, Pak! Dan semoga aku dapat mewujudkan cita-cita Bapak.” 

Begitu  mendengar  jawabanku,  Bapak kelihatan senang sekali.  

“Bapak doakan semoga cita-cita mulia itu terkabul ya, Nak. Bapak akan kerja keras buat biaya sekolahmu, Nak.”  Itu ucapan yang disampaikan Bapak waktu itu.

Tiga tahun kuselesaikan SPG dan jurusan yang kuambil adalah jurusan SD.  

Baca Juga:  Membentengi Generasi Muda dari Bahaya Internet

Waktu terus berjalan dan sistem pendidikan di  Indonesia juga mengalami perubahan. Ijazah SPG tak dapat lagi digunakan untuk melamar jadi guru. Itu artinya aku harus kuliah  supaya dapat menjadi guru. Di saat aku bingung soal kuliah di mana dan apakah orang tuaku sanggup membiayai aku kuliah, tiba-tiba ada peraturan baru dari pemerintah bahwa telah dibuka jurusan PGSD D2 angkatan pertama. Dan saat lulus nanti akan ada penempatan tanpa ikut ujian CPNS. Rasanya semangatku kembali berkobar. Allah memang Maha Adil. 

“Insya Allah, Bapak akan berusaha untuk membiayaimu sampai tamat. Kalau pun tak ada uang, Bapak akan jualkan sebagian ladang untuk biaya kuliahmu.” Kata Bapak memberikan semangat. 

Demi membahagiakan dan mewujudkan cita-cita orang tua, aku belajar makin giat. Hingga akhirnya aku dapat mengalahkan 70 juta pelamar dari seluruh Indonesia. Waktu itu yang lolos seleksi hanya diambil sebanyak 7 juta. Dan namaku ada di antara yang lolos seleksi berkat doa kedua orang tuaku. 

Aku  lulus dengan baik namun aku mendapat penempatan yang kurasa tidak semua orang sanggup menjalani. Aku ditempatkan di sebuah pulau yang di dalam peta pun tiada tampak. Namanya pulau Siantan di perairan  laut Cina Selatan.  

Tahun 1993 aku dan 34 kawan diberangkatkan ke sana. Di  setiap pulau pemberhentian, 5 orang diturunkan. Dan aku diturunkan di pulau kedua, yaitu di Pulau Tarempa. Sedangkan nama wilayah tempat tugasku adalah di Dusun Air Putih. 

12 tahun aku mengabdi di Pulau Siantan dengan berbagai cerita pahit yang penuh tantangan. Namun  kujalani semua itu dengan ikhlas. Aku pantang menyerah.   Aku tak peduli dengan kondisi alam yang ketika datang musim selatan gelombang laut bisa mencapai  6 sampai  7 meter. 

Banyak hal yang kupelajari. Bagaimana pengalaman berbaur dengan para nelayan yang berada di pedalaman; bagaimana aku harus menyesuaikan diri dengan kondisi mereka; bagaimana aku bisa memberikan ilmu pada anak-anak di sana. 

Menjadi guru di daerah pedalaman memang harus siap menghadapi apapun. Karena guru dianggap sebagai sosok yang serba bisa menyelesaikan berbagai masalah. Semua kunikmati dan aku ikhlas. 12 tahun perjuanganku tersebut tanpa tunjangan, tanpa ada sertifikasi, ataupun yang lainya. 

Akhirnya di  tahun 2008, aku pindah ke Kota Batam karena ikut suami. Di kota tersebut aku harus memulai dari awal.  Mula-mula aku mendapat tempat tugas yang baru yaitu di SDN 006 Batam Kota. Aku ingat sekali saat aku masuk sekolah itu untuk pertama kalinya ada guru yang berkata, “Hem… dapat tambahan guru dari Pulau!” Nadanya sinis dan sangat tidak enak didengar. Sangat perih di hati. 

Rasa pedih itu kuobati dengan terus belajar dan banyak bertanya di bawah bimbingan Kepala Sekolah (Pak Indar Wadi). Aku  banyak mendapat ilmu walau seringkali RPP yang kubuat selalu dicoret dan diperbaiki.  Beliau selalu memberi pekerjaan baru padaku dan aku dengan senang hati menerimanya.  Hal itu sekaligus aku gunakan sebagai bukti bahwa aku mampu bekerja dengan baik.

Baca Juga:  Menanamkan Sikap Saling Menghargai di Kelas Mendorong Siswa Berprestasi

Tahun 2015 aku dapat peluang untuk ikut seleksi Diklat Calon  Kepala Sekolah (CAKEP) dan Alhamdulillah aku lulus dengan predikat ‘Sangat Memuaskan’. Di tahun 2016 aku dilantik menjadi Kepala Sekolah SDN 007 Nongsa Kota Batam. Di SDN tersebut mengantarkan  karierku sebagai Finalis Kepala Sekolah Berprestasi  Tingkat Nasional pada tahun 2019. Untuk meraih prestasi itu tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan.  Banyak perjuangan yang harus kulalui, tentunya.

Tahun 2021,  aku ikut seleksi Pengajar Praktik Guru Penggerak angkatan 4 dan aku lulus setelah melewati tahapan seleksi mulai dari seleksi administrasi, esai, simulasi dan wawancara yang kemudian berlanjut diklat pembekalan hingga akhirnya sertifikat Pengajar Praktik CGP ada dalam genggamanku.  Jadi saat ini tugasku bertambah, selain menjadi Kepala Sekolah, aku juga jadi PPCGP. 

Kini aku sudah berhasil menjadi guru, berhasil mewujudkan cita-cita kedua orang tuaku. Terutama cita-cita Bapakku.  Aku ingin menunjukkan pada Bapak bahwa sekarang aku sudah pindah tugas ke kota,  meraih sejumlah prestasi, dan menjadi Kepala Sekolah. Tapi beliau sudah meninggalkanku untuk selamanya. Semoga Bapak dan Ibuku tersenyum di surga Allah. 

Bapak dan Ibu selalu mengajarkanku untuk selalu rendah hati, di manapun dan dalam posisi apapun. Satu kalimat penting yang selalu kuingat dan selalu kusampaikan juga kepada anak-anak, para guru, juga murid-murid di sekolah adalah:  

“Ingatlah di manapun kamu berada, jaga sikap santunmu pada siapapun. Sekalipun kepada orang yang lebih muda darimu, apalagi dengan yang lebih tua. Selalu lah minta maaf jika kamu melakukan kesalahan. Mengalahlah walau kamu benar ketika ada orang yang merasa lebih benar. Selalu berdoa dan jangan lupa sholat sesibuk apapun kamu, karena itu bekal hidup. Jika itu engkau laksanakan, Insya Allah kamu akan banyak kawan dan banyak yang sayang di manapun itu.“ 

Nasihat itu berulangkali disampaikan Bapakku kepadaku. Dan itu sangat benar, aku telah membuktikan sendiri.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

*Meniti Jalan Menjadi Guru (MJMG) adalah konten serial yang mengisahkan perjalanan dan pengalaman menjadi seorang guru yang ditulis sendiri oleh nama bersangkutan. Tayang eksklusif di NaikPangkat.com dan akan dibukukan dalam sebuah antologi dengan judul “Meniti Jalan Menjadi Guru”

Share :

Baca Juga

kecerdasan finansial bagi wanita

Opini

Perlunya Kecerdasan Finansial bagi Wanita
https://naikpangkat.com/terbaru-struktur-kurikulum-merdeka/

Opini

Praktik Baik Vuri Putri Yonatin: Cara Asyik Berliterasi

Opini

Menghindari Lost Generation di Tahun Ajaran Baru 2021

Opini

Menariknya Gadget sebagai Media Belajar Siswa SD pada Masa Pandemi

Opini

Sekolahku Bestari, Belajar Jadi Nyaman

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Hj. Maspa S. Puluhulawa

Opini

Keunggulan WhatsApp sebagai Media Pembelajaran Online

Opini

Memadukan Pembelajaran Online di Kelas Tatap Muka Percepat Pemahaman Belajar Prakarya