Meniti Jalan Menjadi Guru: Poninten

- Editor

Minggu, 20 Maret 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ditulis oleh  Poninten, S.Pd.

Guru SD Negeri 2 Keden, Pedan, Klaten, Jawa Tengah

 

Allah telah mengaruniakan nikmat yang tak ternilai harganya buat kehidupanku sepanjang masa, melalui pekerjaan yang  terhormat dan mengalir pahalanya walaupun telah tutup usia karena mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Ya, sebagai seorang guru

Untuk menjadi seorang  guru diperlukan pendidikan tinggi. Padahal saya adalah anak seorang pekerja buruh harian lepas. Ayahku setiap hari mondar-mandir mencari pekerjaan,  kadang tidak dapat.  Menapaki jalan dari  kampung ke kampung.  Kalau belum rezekinya, sekeras usaha apapun yang dilakukan pasti tidak akan menghasilkan pekerjaan apapun. Sering ayah tidak  pulang ke rumah  dan menginap di masjid demi mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga, khususnya untuk membiayai pendidikan saya.  

Karena Ayah terlalu sibuk kerja, sejak kecil  saya ikut Kakek dan Nenek yang juga hidup dengan kondisi ekonomi pas-pasan karena juga tak punya pekerjaan tetap.  Cuma buruh kalau ada yang menyuruh bekerja sebagai kuli banguan.

Sejak usia 5 tahun, saya disekolahkan Kakek dan Nenek di Taman Kanak-Kanak Aisyiah Bustanul Athfal (TK ABA) Troketon III, di Pedan, Klaten, Jawa Tengah, yang letaknya dekat dari rumah. Harapannya, cucunya mendapatkan bekal agama yang kuat sehingga berkepribadian yang sopan, santun, bersahaja, selalu mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan Allah. Serta selalu taat dan  berbakti kepada kedua orang tua meskipun tidak bisa mencukupi kebutuhan pendidikan anaknya sendiri.

Saya sekolah tidak pernah diberi uang saku. Kata Kakek dan Nenek kalau bawa uang saku nani tidak mau mikir pelajaran yang berakibat jadi kurang cerdas pikiran. Namun saya rasa itu hanya sebagai alasan karena Kakek dan Nenek tidak punya uang. Tetapi saya tetap sabar dan selalu berangkat ke sekolah  dengan rajin. Yang penting bisa sekolah  sudah bersyukur.

Kakek dan Nenek selalu berharap agar cucunya berilmu agama yang kuat. Kemudian saya disekolahkan di  MIM (Madrasah  Ibtidaiyah Muhammadiyah) yang masih satu lokasi dengan TK AB. Bersekolah  di MIM  ini ada nilai plusnya, di samping mendapatkan pelajaran agama yang kuat juga mendapat pelajaran umum yang tidak kalah dengan Sekolah Dasar Negeri. Dan biaya pendidikan di MIM ini lebih murah. 

Dengan bekal agama yang kuat, saya yang waktu itu masih kecil diharapkan tidak jadi anak nakal yang sering minta sesuatu atas maunya sendiri; serta menyadari bahwa orang tua hidup serba kekurangan. Namun demikian tetap diharapkan semangat belajar walaupun tidak diberi uang saku

Sekolah MIM berjalan selama 6 tahun dan lulus mendapatkan ijazah pada tahun 1983. Setelah itu ingin berlanjut sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yakni di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Namun Kakek dan Nenek sudah tua dan  tidak mampu membiayai untuk itu. Akhirnya putus sekolah.

Selama 3 bulan berdiam diri di rumah. Tiba-tiba datang Kepala Sekolah MIM berkunjung ke rumah saya, menasihati agar melanjutkan sekolah ke MTs Muhammadiyah, Pedan, Klaten, Jawa Tengah, yang baru saja berdiri selama satu tahun. Kabar baiknya, di MTs Muhammadiyah tersebut ada program beasiswa bagi siswa yang berprestasi dengan bebas SPP. Saya berharap bisa mendapatkannya.

Akhirnya saya mendaftarkan diri ke MTs Muhammadiyah dan alhamdulillah diterima walaupun sudah terlambat pendaftarannya. Namun saya kebingungan bagaimana saya harus membayar biaya pendidikan. Dan Allah memberi jalan dengan adanya tawaran menjadi tukang setrika pakaian  di rumah-rumah.  

Kemudian di samping  sekolah saya melihat sebuah usaha konveksi baju pengantin untuk disulami dengan bordir. Lalu saya mencoba memberanikan diri mau  ikut mengambil kerjaan untuk  dibawa pulang. Alhamdulillah diperbolehkan dan tiap  selesai menyulam satu baju pengantin dibayar Rp. 5.000. Dengan senang hati saya jalani belajar sambil bekerja. 

Tak lama setelah itu,  MTs Muhammadiyah menepati janjinya bahwa siswa yang berhasil mendapatkan prestasi rangking 2 kelas paralel akan mendapatkan beasiswa. Dan akhirnya saya bebas SPP selama 4 bulan  tiap satu semester. Jadi saya tinggal membayar SPP selama 2 bulan per semesternya sampai lulus di tahun 1986. 

Kakek dan Nenek sangat berharap agar cucunya bisa menjadi guru. Gayung bersambut dengan hadirnya kepala MIM yang tiba-tiba berkunjung lagi ke rumah, menyarankan supaya saya melanjutkan sekolah lagi ke PGAN Klaten.  Sama seperti di sekolah MTs Muhammadiyah di mana terdapat penghargaan bebas SPP bagi siswa-siswi yang berprestasi ranking kelas paralel yaitu masuk sebagai  5  besar. 

Saya kemudian mendaftar  ke PGAN Klaten, dengan tes seleksi masuk. Alhamdulillah, saya diterima. Tapi jarak yang harus saya tempuh cukup jauh, 20 km dari rumah yang harus dilalui dengan naik sepeda. Biasanya menghabiskan waktu satu setengah  jam. 

Tiap memasuki tahun ajaran baru, semua siswa harus membayar biaya senilai 100.000 untuk uang gedung. Karena tidak punya uang, saya harus memberanikan diri pinjam kepada Bu Titik, pemilik  konveksi baju pengantin tempat saya bekerja. Nanti pengembaliannya dengan sistem potong gaji. 

Setiap hari saya berangkat pukul 05.30 WIB dan baru selesai kegiatan pada pukul 17.00 WIB  karena saya ikut ekstrakurikuler PMR  dan Kepramukaan. Baru sampai di rumah sekitar pukul 18.30 WIB. Tiba di rumah istirahat sebentar kemudian mengerjakan  tugas-tugas sekolah. Setelah itu mempersiapkan buku  pelajaran untuk esok harinya. Setelah itu lanjut mengerjakan pekerjaan menyulam baju pengantin dari konveksi  Bu Titik. 

Begitulah kesibukan sehari-hari saya waktu itu, belajar sambil bekerja. Semua itu harus saya lakukan dengan tekun, tabah, dan ikhlas demi mencapai cita-cita yang saya dambakan.

Waktu itu teman seangkatan di PGAN ada 550 murid yang terbagi menjadi 11 kelas. 5 kelas khusus siswa pria, 5 kelas khusus siswa perempuan, dan ada satu kelas campuran. Saya sendiri berada di kelas campuran antara siswa laki-laki dan perempuan. Kelas saya tersebut merupakan kelas pilihan yang berisi para siswa dengan hasil tes ujian tertinggi saat ujian masuk PGAN Klaten. 

Saya sekolah di PGAN selama 3 tahun. Sebelum lulus terdapat ujian praktik micro teaching latihan mengajar. Waktu itu saya masih merasa takut berbicara di depan teman-teman sendiri  yang berperan sebagai murid. Akan tetapi lama-kelamaan jadi biasa. 

Kemudian saat tugas PPL, saya mendapatkan lokasi di MI Muhammadiyah Karanganom, Katen, satu lokasi dengan MAN I Klaten. Dalam praktik mengajar di sekolah tersebut, saya merasa senang karena murid-muridnya tekun dan rajin. Mereka juga sangat menghormati kepada guru-gurunya, bahkan kepada saya yang masih calon guru. Sehingga saya jadi lebih semangat dalam memberikan ilmu kepada para siswa. 

Setelah PPL selesai, akhirnya  sampai titik puncaknya yaitu ujian tertulis sekolah. Alhamdulilah sukses dan lancar dengan hasil nilai yang memuaskan. Ijazah dari PGAN Klaten ini dapat digunakan  untuk melamar pekerjaan menjadi guru.

Tak lama setelah itu, datang lagi Kepala Sekolah  MI Muhammadiyah Troketon. Beliau meminta saya agar melamar sebagai guru wiyata bhakti di MIM Troketon tersebut.

Pada awal-awal masuk di MIM Troketon, saya diberi tugas mengajar bidang studi  SBDP  kelas 1. Setelah berjalan beberapa bulan, saya diberi tugas untuk mengajar  kelas  2 dan mengajar  bahasa Arab untuk kelas 4, 5, dan 6. 

Belum genap mengajar satu tahun kemudian ada perekrutan CPNS formasi guru agama untuk sekolah dasar. Saya ikut tapi tidak lolos. Namun begitu, saya tetap  semangat mengajar di MIM Troketon, menularkan ilmu yang saya miliki kepada para peserta didik. 

Setelah 2 tahun, saya kembali melamar guru CPNS di Klaten.  Tetapi  kembali gagal. Kemudian ada aturan baru bahwa untuk  melamar guru CPNS  harus memiliki ijazah  minimal Diploma II jurusan PAI atau PGMI. 

Tahun 1997, saya mulai ambil  kuliah D2 Tarbiyah dan D2 PGMI. Lokasi perkuliahan D2 PGMI berada di gedung PGAN juga seperti  D2 Tarbiyah, akan tetapi pesertanya D2 PGMI lebih sedikit dibanding dengan D2 Tarbiyah. 

Akhir tahun 2004, saya  mendapatkan informasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten bahwa telah dibuka perekrutan guru bantu atau guru dengan perjanjian kontrak kerja. Kemudian saya ikut mendaftarkan diri menggunakan ijazah D2 PGMI. Alhamdulillah, saya dapat diterima sebagai guru bantu atau guru dengan perjanjian kontrak kerja di dinas Pendidikan Kabupaten Klaten terhitung mulai tanggal  01 Januari 2005 sampai 31 Desember 2007.

Habis masa  perjanjian kontrak, kemudian ada perekrutan guru CPNS untuk formasi guru kelas SD. Setelah sebelumnya gagal beberapa kali, alhamdulillah kali ini lolos dan sekarang bertugas sebagai guru kelas di SD Negeri 2 Keden, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten terhitung mulai tanggal 01 Januari 2008. Dan diangkat sebagai guru PNSD Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah terhitung mulai tanggal 01 Januari 2009.

Alhamdulillah. Setapak demi setapak, waktu demi waktu, hari demi hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun saya jalani semuanya dengan tulus ikhlas, tabah, dan tawakal kepada Allah dengan penuh keprihatinan. 

Kini akhirnya tercapai sudah cita-cita yang saya inginkan, yaitu menjadi guru. Ini semuanya berkat ikhtiar dan juga berkat do’a restu dari Bapak, Ibu, Kakek dan Nenek. 

Ada kesulitan pasti akan ada kemudahan. Jika ada kemauan pasti Allah akan selalu membukakan jalan untuk menuju keberhasilan. 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

*Meniti Jalan Menjadi Guru (MJMG) adalah konten serial yang mengisahkan perjalanan dan pengalaman menjadi seorang guru yang ditulis sendiri oleh nama bersangkutan. Tayang eksklusif di NaikPangkat.com dan akan dibukukan dalam sebuah antologi dengan judul “Meniti Jalan Menjadi Guru”

Berita Terkait

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali
Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 13:59 WIB

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Berita Terbaru