Meniti Jalan Menjadi Guru: Medi Aminah 

- Editor

Selasa, 19 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Medi Aminah 

Guru SMP Negeri 2 Andong 

Aku terlahir sebagai anak tertua dari dua bersaudara. Ayahku, Soekamto adalah laki-laki hebat asal Sukoharjo yang sejak remaja merantau ke Manado. Di sana lah kemudian dipertemukan dengan seorang gadis bernama Marice Lucas yang akhirnya menjadi Ibuku. 

Aku lebih banyak diasuh oleh Ayah karena ibuku meninggal dunia ketika aku masih umur 3 tahun.

Tahun 1970, Ayahku pindah kerja ke Solo sebagai PNS dan praktis aku menyelesaikan pendidikan di Solo. Aku menempuh pendidikan di SDN Beskalan kemudian melanjutkan di SMPN 10 Surakarta. 

Cita-citaku sejak kecil menjadi bidan, karena termotivasi tetangga yang merupakan seorang bidan. Namanya Bu Murni, yang baik hati. Oleh sebab itu, ketika lulus SMP, aku ingin masuk ke SMA Negeri 4 Surakarta dan kuliah di jurusan kebidanan. 

Tapi ketika hal itu aku sampaikan ke Ayah, ternyata beliau ingin mendaftarkanku ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) supaya kelak menjadi guru. Di saat masa pendaftaran pun tiba, jam tiga pagi Ayah sudah mengantarkanku ke SPG Negeri supaya dapat nomer awal. 

Dalam hatiku ada rasa berontak karena memang aku tidak ingin jadi guru. Ketika Ayah pulang setelah mengantarkanku,  diam-diam aku jalan kaki untuk mendaftar di SMA Negeri 4 Surakarta, sekolah yang jadi tumpuan harapanku untuk mengantarkanku menjadi bidan.

Singkat cerita, usai lulus SMA, aku mendaftar ke UNS.  Di percobaan pertama, tidak lolos.  Akhirnya di tahun berikutnya, aku mendaftar lagi mengambil jurusan FKIP D2, dan ternyata lolos.  Pada saat itu saya sadar inilah persembahan untuk Ayahku yang menginginkan putrinya menjadi seorang guru.

Tahun 1987, aku jadi guru PNS di SMP Negeri 1 Kemusu, kota paling utara di Boyolali. Dengan suka cita, Ayah mengantarkan ketika pertama kali aku berangkat ke tempat kerja. Di sekolah ini, aku belajar semuanya untuk menjadi guru yang profesional. 

Awal jadi guru merupakan waktu yang sangat menyiksa karena menghadapi murid yang kurang sopan bahkan berani dengan gurunya; dan juga harus menghadapi teman guru senior yang kurang menerima kehadiran guru baru. Aku belajar untuk bisa meraih hati mereka dengan mempelajari apa yang diinginkan agar menerima kehadiranku ini. Akhirnya dengan semangat yang tinggi kupatahkan “rasa tidak suka” itu. 

Aku belajar menjadi orang disiplin, sabar menerima kata-kata yang tidak pantas didengar, melaksanakan tugas dengan tanggung jawab dan mengajar dengan hati. Akhirnya aku tumbuh menjadi guru yang tidak pernah mengeluh, apapun yang dibebankan kepadaku, pasti kukerjakan dengan baik. Dan murid-murid pun menjadi dekat walaupun aku terkenal dengan sebutan guru paling galak bagi siswa yang melanggar aturan.

Tahun 2019 adalah tahun kesedihan dan keberuntunganku. Mengapa demikian? Karena pada tahun itu aku dimutasi ke SMP Negeri 1 Simo, sekolah favorit yang levelnya jauh lebih tinggi dari sekolah yang lama. Aku anggap beruntung karena aku bisa mengajar di sekolah bagus dengan kualitas murid di atas rata-rata tingkat kecerdasannya. Namun di balik itu juga ada rasa sedih karena harus meninggalkan sekolah yang sudah menjadikanku sebagai guru tahan banting.

Ada rasa minder dan gamang ketika pertama kali menginjakkan kaki di halaman SMP Negeri 1 Simo. Dalam hatiku berkata apakah aku sanggup menjadi guru di sini? Kutepis rasa itu ketika aku ingat bahwa di sekolah ini banyak yang sudah aku kenal termasuk dari Kepala Sekolah dan guru-guru yang lain. 

Akhirnya tanpa terasa enam bulan aku mengabdi dengan senang hati, karena semuanya menerimaku dengan baik bahkan serasa sudah berkumpul bertahun-tahun lamanya. Rasa kekeluargaan terikat cukup tinggi di antara warga sekolah dan siswa-siswa yang begitu hebat menyayangiku sebagai guru baru. Berangkat pagi dan pulang sore adalah rutinitas yang kujalani dengan sangat bahagia. 

Takdir kemudian mempertemukanku dengan rekan MGMP. Pertemuan itu mengubah tujuanku selanjutnya, yaitu ingin pindah mengajar di sekolah yang lebih dekat dengan rumah. SMP Negeri 1 Andong yang kutuju. Namun ada beberapa halangan yang menahanku tidak bisa ke sana. 

“Tak ada rotan akar pun jadi”, solusinya adalah saling tukar tempat mengajar. Momen yang kutunggu pun tiba. 3 Januari 2020 mendapat panggilan mutasi ke  SMP Negeri 2 Andong. 8 Januari 2020 adalah pertama kali aku mengajar di SMP Negeri 2 Andong. Kebetulan sudah banyak yang kenal dengan guru-guru yang ada di sana.  Jadi, dengan mantap, aku melangkah dan percaya diri mampu untuk menjadi guru yang baik di sini. 

Tidak terasa sudah 2 tahun, aku telah mengabdi di sekolah ini. Suka dan duka silih berganti kurasakan namun masih dalam taraf yang tidak begitu menantang karena tertutup dengan kekeluargaan dan penerimaan siswa yang sangat baik terhadap diriku.

Terkadang ada rasa yang masih mengusik dalam pikiranku. Karena sejak awal, sebenarnya aku ingin mutasi ke sekolah yang bisa terjangkau kendaraan umum yaitu di SMP Negeri 1 Andong. Namun ada banyak hal yang menghalangi untuk dapat menuju ke sana. Sepertinya ini memang sudah menjadi takdir Tuhan yang mengharuskanku tetap di SMP Negeri 2 Andong sampai masa purna tugasku.

Terima kasih, Ayah. Restumu telah mengantarkanku menjadi guru sampai saat ini.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

*Meniti Jalan Menjadi Guru (MJMG) adalah konten serial yang mengisahkan perjalanan dan pengalaman menjadi seorang guru yang ditulis sendiri oleh nama bersangkutan. Tayang eksklusif di NaikPangkat.com  dan akan dibukukan dalam sebuah antologi dengan judul “Meniti Jalan Menjadi Guru”

Berita Terkait

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali
Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 13:59 WIB

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Berita Terbaru