Meniti Jalan Menjadi Guru: Arifah Pratikayani

- Editor

Jumat, 4 Maret 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Arifah Pratikayani

Guru di SMPN 3 Bungku Utara Satap

Sebuah awal perjalanan menjadi guru dimulai dari ketika memilih jurusan di perkuliahan. Dari sini saya mulai mengenal arti apa itu guru. Banyak yang saya pelajari, mulai penguasaan materi hingga penguasaan kelas yang nantinya akan menjadi bekal di kehidupan sekolah yang sesungguhnya. 

Kemudian perjalanan ini mengantarkan saya bertemu dengan anak-anak di tapal batas antara Indonesia dan Timor Leste. Bermula dari mengikuti sebuah program pemerintah bernama SM-3T yaitu mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Tepatnya di desa Netemnanu, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Saya tidak memilih. Memang daerah tersebut yang terpilih untuk saya kala itu. Tanpa mengetahui seluk beluk daerah tersebut, saya berangkat dengan beberapa teman. 

Daerah tersebut jauh dari kebisingan kota, akses transportasi kurang memadai. Perjalanan kami dimulai dari kota Kupang dengan mengendarai bus mini yang sesak dengan penumpang dan barang, bahkan sepeda motor pun turut mengisi ruangan di dalam bus umum tersebut. 

Dini hari kami berangkat dari kota Kupang. Jalan yang beraspal hanya setengah perjalanan, setelahnya kita temui jalanan yang rusak bahkan sungai tanpa jembatan. Sehingga bus harus menyusuri sungai tersebut di mana kanan dan kirinya terdapat jurang. Perjalanan kami tempuh sekitar 12 jam. Ketika di musim penghujan, bahkan perjalanan bisa memakan waktu hingga berhari-hari. Hanya ada satu kendaraan dari kota dan satu kendaraan dari desa. Tidak ada pilihan lain.

Setibanya di desa tersebut, kami disambut dengan baik. Warga berkerumun mendatangi kami yang baru saja turun dari bus. Anak-anak yang belum kami kenal turut membawakan barang-barang kami hingga ke tempat yang telah mereka siapkan untuk kami tinggali selama kurang lebih 1 tahun. 

Keadaan di sana gelap, tidak ada aliran listrik PLN, tanpa jaringan, tidak ada sumber air yang dekat. Penerangan hanya menggunakan PLTS yang dialirkan ke rumah-rumah dan lampu-lampu kecil untuk menerangi jalan. Jaringan ponsel hanya terdapat di lapangan sekolah yang hanya ada di satu titik yang ditandai dengan bambu. Jika ingin mendapatkan jaringan, harus menaruh HP di titik tersebut. Bergeser  sedikit, sinyal  hilang. Jika hendak menggunakan air, maka kita harus menggunakan ember untuk mengambil air dari sumber mata air ataupun penampungan air. Jaraknya sekitar 100 meter hingga 500 meter dari tempat tinggal. 

Meski demikian, kami tak pernah pernah merasa sedih dengan keadaan tersebut.  Anak-anak akan selalu siap membantu tanpa kita menyuruhnya. Setiap malam kami tak pernah merasakan sepi meskipun gelap. Akan selalu ada anak-anak atau guru setempat yang berbondong-bondong menginap di rumah kami secara silih berganti, dengan tujuan menemani kami agar tidak kesepian. Sebelum tidur, biasanya anak-anak akan belajar sebentar. Setelah itu bakar-bakar biji jambu mente di luar rumah. Keesokan harinya mereka pulang ke rumah masing-masing untuk membantu orang tua dan siap-siap ke sekolah. 

Di desa ini, baik warga maupun anak-anaknya sangat menghormati guru. Meskipun usia saya masih muda, mereka akan tetap menghormati saya. Setiap apa yang saya katakan, maka mereka akan mematuhinya tanpa ada rasa jengkel. Begitu pula setiap perilaku maupun gerak-gerik kita akan dijadikan contoh oleh anak-anak. Memang menjadi guru harus mampu menjadi teladan yang baik untuk anak-anak. 

Kebanyakan penduduk setempat beragama Kristen. Yang Muslim hanya 3 rumah saja di desa ini. Tetapi mereka tidak membeda-bedakan ketika berteman. Sering saya diajak untuk ikut kegiatan mereka. Misalnya acara pesta maupun acara besar lainnya di desa. Biasanya mereka akan memanggil saya untuk memotong ayam, kambing, maupun sapi untuk acara. Pernah saya bertanya kepada mereka, kenapa harus saya? Dan mereka pun menjawab dengan polos “Karena kami ingin Ibu juga ikut makan makanan yang disediakan.” Ini adalah cara mereka menghargai saya. 

Sebenarnya saya adalah guru Bahasa Inggris. Tetapi di sekolah, saya juga mendapat amanah untuk mengajar Pendidikan Agama Islam. Sebab selama ini ada anak Muslim justru belajar Protestan karena tidak ada guru yang mengajari. Setelah ada saya, kepala sekolah menunjuk saya untuk mengajari siswa sesuai agama mereka.  

Selain memberikan pelajaran agama di sekolah, setiap malam selesai sholat Isya’ anak-anak akan menjemput saya untuk mengajar ngaji. Uniknya bukan anak-anak Muslim yang menjemput saya.  Dengan senang hati mereka menemani saya saat berangkat dan mengantarkan saya pulang ke rumah. 

Cara wudhu, memakai sarung, sholat, membaca iqro’ adalah project belajar agama Islam yang saya terapkan selama setahun. Tentunya saya dibuat terharu dalam proses pembelajaran tersebut karena mereka tampak sangat antusias sekali. Karena sarana sangat terbatas, sampai-sampai mereka menggunakan toples sebagai penampungan air untuk wudhu. Kemudian  diberi selang kecil yang terbuat dari kulit kabel bekas. Dengan segala keterbatasan, saya mengajari rangkaian wudhu secara perlahan, mengajari syahadat yang benar, hingga belajar sholat dengan beralaskan terpal atau koran. Banyak anjing dan babi di desa tersebut, jadi harus berhati-hati dalam menentukan tempat sholat. 

Orang tua siswa tidak pernah membiarkan anak-anaknya sendirian, mereka selalu mendampingi di setiap kegiatan sekolah. Mereka akan menyiapkan makanan untuk anak-anaknya dan guru ketika ujian sekolah maupun ujian nasional tiba. Sungguh bentuk kerja sama yang luar biasa dan jarang ditemukan di tempat lain. 

Selesai masa kontrak saya, timbul rasa haru dan berat meninggalkan tempat tersebut karena dekatnya kebersamaan kami. Hingga akhirnya datang hari perpisahan, satu desa tersebut membeli sebuah kambing untuk disembelih dan membuat acara perpisahan untuk saya. Semua orang memberi hadiah untuk saya, ada yang berupa hasil tenun, selendang bertuliskan nama saya, sarung tenun, hingga kain selimut tenun. Semua tenunan tersebut buatan mereka sendiri. Sampai sekarang ketika saya menuliskan cerita ini, masih ada anak-anak, guru, maupun orang tua yang berkabar kepada saya. 

Sepulang dari Kupang ke kampung halaman saya sendiri yaitu di daerah Jawa Tengah, saya mendapat panggilan PPG sebagai bonus dari program SM-3T. Di masa penantian mendapat panggilan PPG tersebut, selama satu tahun saya gunakan untuk bekerja di Lembaga Psikologi ANAVA di bagian outbound. Di lapangan saya bertemu dengan peserta yang bermacam-macam, mulai dari anak usia PAUD hingga lansia. Sehingga saya dapat menambah ilmu untuk semakin matang dalam menghadapi orang dari berbagai usia dan karakter. 

Saya menempuh PPG di kampus UPI, Bandung. Selama 1 tahun pula kami ditempa di kampus tersebut untuk menjadi guru profesional.

Seusai PPG, saya mencari sekolah untuk menerapkan ilmu yang telah saya dapatkan. Ternyata tidak mudah. Dari satu sekolah ke sekolah yang lain saya datangi untuk memasukkan berkas lamaran saya. Namun tidak ada satupun yang menerima dengan alasan tidak boleh menerima guru honorer, atau sudah banyak guru honorer di tempat tersebut. 

Akhirnya ada satu sekolah kecil yang menerima saya untuk menggantikan sementara guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang sedang cuti melahirkan. Namun saya tetap bersyukur karena setidaknya ada yang menerima saya dan hanya satu rombel saja yang saya pegang. Selain itu saya diamanahi untuk mengajarkan Pramuka. 

Tidak lama, hanya kisaran 1 tahun,  saya mengajar di sekolah tersebut. Saya kemudian menikah dan ikut suami yang sudah lama bekerja menjadi guru di Sulawesi. 

Di Sulawesi, ketika ada pendaftaran CPNS, saya hanya iseng-iseng untuk mengikutinya. Lolos tetapi kemudian ditempatkan di pulau kecil, tepatnya di desa Matube, Morowali Utara, Sulawesi Tengah untuk melengkapi kekosongan guru Bahasa Inggris di daerah tersebut. Akses menuju desa tersebut membutuhkan sekitar 2 jam dari kabupaten dengan menumpangi perahu-perahu nelayan. Meskipun harus berjauhan dengan suami, saya tetap mencari kesempatan untuk dapat bertemu di kabupaten. 

Sudah hampir 3 tahun, saya menjadi guru di pulau ini. Tentu ada suka maupun dukanya. Selain mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, saya juga diamanahi memegang pelajaran PJOK dan IPA. Setelah semua ini saya jalani dengan ikhlas, ternyata banyak hikmah yang bisa saya petik. Saya bisa mendapatkan pelajaran dari polosnya anak-anak di pulau ini. Mengajar memang tidak boleh dengan hati yang setengah-setengah, tentunya harus sepenuh hati.  Maka kita akan menemukan bagaimana menjadi guru yang menyenangkan dan mengesankan di mata anak-anak. 

Memberikan nasihat-nasihat yang memacu semangat anak-anak terus saya lakukan. Khususnya di kelas VII sebagai kelas perwalian saya di tahun ajaran ini. Misalnya memberikan motivasi untuk tetap belajar meskipun minim fasilitas. 

Saya dapati di sekolah ini memang kurang akan fasilitas sekolah. Tetapi sebagai guru, kami harus bisa mengemas pelajaran dengan menyenangkan dan mengalihkan kekurangan fasilitas dengan hal-hal yang sederhana tapi bermakna. 

Meskipun tinggal di daerah tertinggal, cita-cita anak-anak di sini ternyata sangat tinggi. Ada yang ingin jadi dokter, guru, pilot, polwan, dan lain-lain. Ketika saya mengajak mereka menulis surat untuk Pak Nadiem Makarim, saya dapati banyak yang mereka sampaikan.  Mereka mengungkapkan cita-cita besarnya tetapi terkendala dengan keadaan. 

Kita sebagai guru harus memberikan atmosfir yang baik untuk mereka, sehingga mereka akan mengikuti apa yang kita sampaikan. Jadilah guru yang selalu menginspirasi dan memotivasi di manapun berada dengan kondisi dan situasi apapun. Tataplah mata anak-anak didik kita, karena ada harapan besar dari mereka yang bergantung dari seorang guru. 

Mendidiklah dengan setulus hati agar tercipta generasi mandiri, hebat, dan mumpuni. Dari seorang guru akan terlahir begitu banyak orang-orang hebat yang memimpin negeri ini. Jayalah Indonesia. Jayalah Pendidikan. Mari mencerdaskan Indonesia!

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

*Meniti Jalan Menjadi Guru (MJMG) adalah konten serial yang mengisahkan perjalanan dan pengalaman menjadi seorang guru yang ditulis sendiri oleh nama bersangkutan. Tayang eksklusif di NaikPangkat.com dan akan dibukukan dalam sebuah antologi dengan judul “Meniti Jalan Menjadi Guru”

Berita Terkait

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali
Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 13:59 WIB

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Berita Terbaru