Home / Opini

Jumat, 4 Juni 2021 - 23:55 WIB

Mengoptimalkan WhatsApp sebagai Media Pembelajaran Daring

Dengan adanya pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan aktivitas di berbagai  bidang, termasuk dalam dunia pendidikan. Pembelajaran yang pada umumnya dilakukan di kelas dengan tatap muka, sekarang berubah menjadi pembelajaran secara daring atau online yang dilakukan di rumah. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19.

Pembelajaran daring atau online merupakan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa yang pelaksanaannya melalui teknologi komunikasi dan informasi dengan menggunakan alat komunikasi yang dilakukan dari rumah. Pembelajaran daring dapat dilakukan dengan menggunakan komputer, laptop, atau handphone yang terhubung dengan internet.

Handphone Android atau smartphone menjadi pilihan utama untuk melakukan pembelajaran daring karena mampu menunjang dalam proses pembelajaran melalui aplikasi yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Di samping itu hampir semua guru dan siswa memilikinya.

Salah satu aplikasi yang sering digunakan dalam pembelajaran daring adalah WhatsApp. WhatsApp merupakan aplikasi pesan untuk smartphone yang memungkinkan untuk bertukar pesan tanpa pulsa reguler, karena menggunakan paket data internet. Dengan WhatsApp dapat melakukan obrolan daring atau chatting, bertukar foto, video, file dan lain-lain.

WhatsApp merupakan aplikasi buatan  dua orang mantan karyawan Yahoo yaitu Brian Acton dan Jan Koum pada tahun 2009. Saat ini, WhatsApp telah digunakan oleh 2 milyar orang di dunia. Menurut data digital report 2019 yang dikutip dari We Are Social dan Hootsuite, 83% pengguna internet di Indonesia telah menggunakan WhatsApp. Selain itu berdasarkan Status Literasi Digital Indonesia 2020, WhatsApp menjadi media sosial favorit masyarakat. Aplikasi tersebut dimiliki 98,9% responden.

Melihat banyaknya pengguna WhatsApp, maka tidak heran kalau WhatsApp menjadi aplikasi favorit pada pembelajaran daring. WhatsApp sudah sangat familiar di kalangan masyarakat dan mudah digunakan. Bahkan sebelum adanya tren pembelajaran daring, WhatsApp sudah digunakan untuk komunikasi guru, siswa, dan orang tua.

Ketika pembelajaran daring dimulai di tengah pandemi, banyak guru juga mulai mencari  cara yang cocok dan mudah digunakan. Dan WhatsApp dapat menjadi pilihan utama dalam pembelajaran daring.

Guru biasanya akan memberikan materi melalui grup kelas di WhatsApp dalam bentuk file pdf, power point atau word, video atau berupa pesan suara (voice note). Untuk membahas materi yang belum dipahami siswa, bisa dilakukan di forum diskusi lewat chat. Sedangkan untuk penugasan, guru biasanya menyuruh siswa untuk membuat rangkuman materi, laporan praktikum, dan mengerjakan soal latihan kemudian dikirim melalui WhatsApp.

Baca Juga:  Meningkatkan Rasa Empati di Lingkungan Sekolah di Masa Pandemi

Fitur-Fitur WhatsApp untuk Pembelajaran

Guru hendaknya bisa lebih mengoptimalkan penggunaan fitur WhatsApp agar dalam pembelajaran lebih sistematis, edukatif dan interaktif. Berikut beberapa fitur yang dapat digunakan agar penggunaan WhatsApp lebih optimal dalam pembelajaran yaitu voice note, attachment, description, notification, semat chat, search, favorite message, export chat, dan auto reply.

Fitur voice note atau pesan suara bisa digunakan untuk sesi tanya jawab. Guru bisa memanfaatkan voice note tersebut untuk menghadirkan interaksi dengan siswa sehingga membuat pembelajaran yang aktif. Sebagai contoh, guru melakukan sesi tanya jawab dengan siswa terkait materi lewat voice note. Cara ini lebih baik daripada mengetik pesan.

Guru juga dapat mengetahui sejauh mana materi yang sudah dicerna siswa, karena voice note dikirim secara langsung sehingga apa yang diutarakan siswa adalah sesuatu yang ada di kepala siswa. Dengan voice note ini juga meminimalisir kecurangan yang dilakukan siswa, karena pengirimannya yang langsung tanpa bisa diedit.

Fitur attachment atau lampiran dapat digunakan sebagai media belajar interaktif. Guru dapat menciptakan pembelajaran daring yang menyenangkan dengan media belajar yang interaktif seperti video, photo dan audio. Itu semua dapat dilakukan melalui fitur attachment atau lampiran pada WhatsApp. Guru dapat membuat kreasi bahan ajar dengan media-media tersebut sehingga siswa tidak merasa bosan.

Kolom description (deskripsi) pada WhatsApp dapat digunakan untuk pembaharuan jadwal. Guru dapat memperbaharui kolom deskripsi secara berkala sesuai jadwal pelajaran daring yang ditetapkan. Dengan adanya jadwal pada kolom deskripsi ini diharapkan tidak ada siswa yang tertinggal kelas online dengan alasan lupa jadwal.

Guru dan siswa dapat menyalakan fitur notification (notifikasi) agar tidak tertinggal info penting. Guru dan siswa juga dapat menggunakan fitur sematkan grup chat, sehingga dapat menemukan grup kelas dengan cepat. Dengan fitur ini membuat group chat berada di deret teratas, walaupun ada pesan masuk lainnya, di mana group chat tersebut tidak akan bertumpuk di bawah.

Baca Juga:  Dinamika Pembelajaran di SMP Negeri 3 Satu Atap Sambirejo pada Masa Pandemi Covid-19

Menandai materi penting dengan favorite message (pesan favorit) memungkinkan untuk menandai percakapan penting dalam suatu chat. Percakapan yang ditandai dengan favorite message terkumpul dalam suatu ruang sehingga kita bisa melihat percakapan apa saja yang sudah kita beri tanda berbentuk bintang tersebut tanpa perlu men-scroll chat. Kita dapat memanfaatkan fitur ini untuk menandai modul belajar sehingga memudahkan untuk melihat materi kembali.

Memasukkan kata kunci pada search (pencarian) untuk menemukan materi. Pada setiap topik materi, guru dapat membuat sebuah kata kunci. Kata kunci tersebut kemudian dapat diketikkan pada kolom search jika suatu saat ingin menemukan kembali percakapan yang sudah terlewatkan tersebut. Fitur ini juga bisa membantu siswa untuk menemukan materi yang dibutuhkan hanya dengan memasukkan kata kunci tersebut ke kolom pencarian.

Export chat untuk menyalin percakapan ke e-mail juga sangat bermanfaat. Export chat ini memungkinkan untuk menyalin percakapan ke e-mail. Hal ini sangat berguna jika guru mengadakan sesi tanya jawab dan ingin menyimpan isi percakapan tersebut di tempat lain tetapi ingin membersihkan riwayat obrolan di WhatsApp secara berkala agar memori ponsel tidak cepat habis.

Memanfaatkan fitur auto reply untuk melakukan ulangan harian. Guru bisa menggunakan fitur auto reply untuk membuat soal pilihan ganda untuk melakukan ulangan harian. Dengan fitur tersebut dapat mengevaluasi sejauh mana tingkat hasil belajar siswa karena jawaban siswa dapat langsung diketahui. Selain itu, fitur ini membuat siswa lebih interaktif dan seru karena jawaban siswa dapat langsung diketahui secara otomatis.

Mengunci grup WhatsApp setelah pembelajaran selesai. Hal ini mencegah adanya postingan di luar pembelajaran, juga mencegah menumpuknya pesan.

Setelah penulis evaluasi dengan mengoptimalkan fitur WhatsApp tersebut, maka pembelajaran daring dengan WhatsApp ternyata efektif. Hal itu dapat dilihat dari tingkat respon siswa dalam memberi tanggapan dalam waktu yang tidak terlalu lama dan dari tanggapan siswa dalam mengerjakan dan mengumpulkan tugas.

Ditulis oleh Agus Santoso, S.Kom, Guru SMK SAKTI Gemolong

Share :

Baca Juga

text on shelf

Opini

Media Pembelajaran Game Word Wall: Solusi Menciptakan Pembelajaran Interaktif di Masa Pandemi
dampak negatif game online pada pelajar

Opini

Dampak Negatif Kecanduan Main Game Online pada Pelajar
memaknai bencana

Opini

Memaknai Bencana dalam Kehidupan
guru sebagai ujung tombak literasi

Opini

Guru Sebagai Ujung Tombak Kegiatan Literasi Abad 21

Opini

Ice Breaking untuk Mengatasi Kejenuhan dalam Proses Pembelajaran Daring

Opini

Dunia Pendidikan Kita di tengah Badai Pandemi Covid-19

Opini

IJO NOL DEDORO: Mewujudkan Sekolah Bersih di Lombok Barat

Opini

Memperjuangkan Hak Sertifikasi Dosen yang ‘Disembunyikan’