Home / Opini

Sabtu, 4 September 2021 - 02:49 WIB

Menemukan ‘MUTIARA’ Literasi di tengah Ujian Pandemi

Dunia tak terkecuali Indonesia, sedang dalam ujian dilanda wabah Covid-19. Wabah ini merupakan wabah global yang dirasakan di seluruh penjuru dunia yang tidak pandang bangsa, agama, ras, dan warna kulit. Semua aspek kehidupan merasakan dampak dari wabah ini termasuk dunia pendidikan.

Di masa pandemi ini, proses pendidikan tidak dapat terlaksana di lembaga tertentu seperti sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan lainnya. Semua kegiatan seakan lumpuh, semua serba terbatas, dan berbagai pekerjaan dianjurkan dapat dilakukan di rumah.

Kebijakan belajar dari rumah memunculkan kesenjangan pendidikan antar daerah, di mana di daerah perkotaaan yang dilengkapi dengan fasilitas serta koneksi internet yang baik dapat melaksanakan pembelajaran dari rumah dengan baik. Sedangkan di daerah pelosok model pembelajaran dari rumah bisa menjadi masalah.

Sementara itu, kita yang menjalani profesi sebagai guru juga mengalami pelbagai masalah di saat pandemi. Model pembelajaran hanya dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai media seperti Google Classroom, Zoom, atau WhatsApp. Tapi semua itu kurang efektif dibandingkan dengan pembelajaran yang dilakukan dengan tatap muka di dalam kelas.

Di pihak siswa, masalah yang dihadapi tak kalah pelik. Ada siswa yang tidak memiliki ponsel untuk belajar online; ada yang punya ponsel tapi tidak punya paket data internet;  dan ada yang punya paket data internet tapi koneksi jaringan kurang bagus.

Dengan berbagai masalah tersebut, kami sebagai guru tidak pernah menyerah untuk mencerdaskan anak bangsa. Untuk itu, biasanya kami memberikan kesempatan kepada siswa yang tidak bisa belajar daring untuk datang ke sekolah mengambil tugas dan belajar dari rumah.

Kesempatan Meningkatkan Kompetensi

Di balik ujian seperti saat ini, pasti ada hikmah yang dapat dipetik.  Itu adalah kata bijak yang mungkin sudah sering kita dengar. Faktanya memang demikian, bahwa di masa ujian pandemi ini menjadi bisa kesempatan bagi kita para guru untuk meningkatkan kompetensi dan produktif berkarya.  

Di masa pandemi ini membuat kegiatan webinar dan diklat daring tumbuh seperti jamur di musim hujan. Sebelum pandemi, saya sendiri jarang mengikuti pelatihan. Dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun masa dinas, seingat saya baru dua kali mengikuti diklat. Akan tetapi dengan adanya pandemi, saya dapat mengikuti pelatihan secara daring yang digelar di berbagai tempat dari Sabang sampai Merauke.

Di antara diklat daring yang pernah saya ikuti adalah diklat yang digelar oleh Komunitas Guru Milenial (KGM). Saya mendapat kesempatan mengikuti diklat daring gratis dua kali dalam bulan. Selain itu, saya juga sempat bergabung dengan Guru Nusantara Berbagi (GNB) Kemenag RI Kabupaten Merauke dan MGMP Nasional untuk guru bahasa Inggris  Kemenag MTs/SMP.

Kuliah online via WhatsApp juga saya ikuti setiap hari Senin dan Kamis di grup MGM (Mengajar Gaya Motivator). Dalam diklat  daring tersebut kami mengikuti kegiatan melalui Zoom pada hari pertama lalu lanjut mengerjakan tugas dengan mengikuti tutorial yang dibagikan melalui grup.

Rata-rata diklat daring dilaksanakan selama lima hari sampai satu minggu. Dalam kurun waktu tersebut, jika pihak panitia menilai tugas yang dikumpulkan peserta sudah sesuai dengan tutorial yang diberikan, maka kami pun dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan sertifikat sesuai jumlah jam pelatihan. Ada pelatihan dengan nilai 32 JP, ada pula yang 48 JP, bahkan ada yang 64 JP.

Selain mengajar daring dan membimbing siswa secara luring, itulah kesibukan saya di masa pandemi. Itu semua akan bermanfaat untuk menambah ilmu dan meningkatkan mutu sumber daya, kompetensi, dan skill. Mengikuti diklat tersebut terbukti bisa membuat saya lebih produktif sehingga dari sebuah diklat dengan tema ‘Satu Guru Satu Buku (SAGUSABU)’, saya bisa menghasilkan dua buah buku  dengan judul “Kumpulan Narrative Text dan Recount Text dalam Pembelajaran Bahasa Inggris.” dan buku “ Kumpulan  Teks Descriptive, Report dan Procedure  dalam Pembelajaran Bahasa Inggris.“   

Satu lagi, dengan mengikuti diklat daring dengan tema ‘Mengubah KTI Jadi Buku’ saya kembali menghasilkan buku yang ketiga dengan judul “Pembelajaran Bahasa Inggris pada Lembaga Pendidikan Islam.”

Dengan menghasilkan beberapa buku cetak maupun buku digital, membuat saya masuk menjadi anggota guru “PENGGERAK LITERASI INDONESIA” di mana saya menjadi duta literasi Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam kegiatan tersebut saya ikut ambil bagian dalam pemecahan Rekor Muri 2000 buku di mana saya mengirimkan tiga buah buku pada acara yang dilaksanakan pada bulan Desember 2020 tersebut.

Dalam kegiatan itu pula pihak panitia meminjam buku dari peserta yang nantinya akan dikembalikan setelah acara selesai atau disumbangkan ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Selanjutnya, peserta mendapatkan satu sertifikat penghargaan sebagai penulis ditambah dengan sertifikat sebagai penggerak literasi serta sebagai peserta pemecahan rekor Muri.

Bagi saya pribadi, kondisi pandemi ini telah mengajarkan kepada saya untuk lebih bersabar menghadapi berbagai kesulitan. Namun jika kita ikhlas menjalaninya, pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Sebab semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur.

Ditulis oleh Hj Marsidah (Seorang Guru di MTsN 1 Muna,  Sulawesi Tenggara)

Share :

Baca Juga

Opini

Peran Orang Tua Menanamkan Pemikiran Pembelajaran Menyenangkan bagi Anak
bosan belajar online

Opini

Cara Mengatasi Bosan Belajar Online

Opini

Urgensi Perpustakaan Digital untuk Mendukung Pendidikan di Masa Pandemi

Opini

Serunya Bermain Ular Naga untuk Anak Usia Dini

Opini

Menghilangkan Persepsi Buruk pada Matematika dari Pikiran Siswa

Opini

Kisah Inspiratif: Guru SD yang Jadi Wasit Badminton di Olimpiade Tokyo 2020

Opini

Motivasi Belajar dan Asa Menghadapi Pandemi

Opini

Meningkatkan Kompetensi Pendidik dalam Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)