Home / Opini

Sabtu, 12 Juni 2021 - 00:03 WIB

Kenali Tipe Kecerdasan Anak, Hindari Stereotype Si Bodoh dan Si Pintar

Sudah menjadi rahasia umum bahwa stereotype terhadap anak pintar adalah yang mampu mempelajari ilmu eksakta terutama pelajaran Matematika. Lalu bagaimana dengan anak yang ilmu eksaktanya tidak memenuhi harapan, tidak mencapai KKM atau lebih? Tentu saja kebanyakan dianggap bodoh. Stereotype seperti ini masih melekat dalam benak kebanyakan orang tua bahkan guru hingga sekarang.

Contoh kecil saja terkait stereotype terkait anak IPA vs IPS. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya masuk dalam kelas IPA karena dianggap memiliki masa depan cerah dibandingkan jika masuk dalam kelas IPS. Padahal sebenarnya semua ilmu itu bermanfaat dan setiap anak memiliki kemampuan dan minat di bidang lain. Inilah yang dinamakan kecerdasan majemuk di mana kecerdasan tidak hanya diukur berdasarkan ilmu eksakta saja.

Menurut seorang ahli pendidikan, Howard Gardner dalam buku berjudul Pengembangan Kecerdasan Majemuk (Musfiroh:2014) terdapat sembilan tipe kecerdasan yang dimiliki setiap manusia yakni Kecerdasan Verbal-Linguistik, Logis-Matematis, Visual-Spasial, Musikal, Kinestetik, Interpersonal, Naturalis, Intrapersonal, dan Eksistensial.

Kecerdasan Verbal-Linguistik

Anak dengan kecerdasan ini memiliki keterampilan dalam berkomunikasi secara verbal dan kemampuan berbahasa secara lisan dan tulis. Biasanya sangat suka berbicara, bercerita, mendengarkan orang berbicara, pandai bermain dengan kata-kata, huruf dan bisa mengekspresikan suatu hal dengan kata-kata yang dipilihnya dan sebagainya.

Kecerdasan Logis-Matematis

Anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya ditandai dengan kemampuan berpikirnya yang logis. Pola pikir yang seperti ini membantu untuk mengolah suatu pembahasan secara logis dan efektif. Selain itu, mereka memiliki ketertarikan dengan pengolahan angka, hal-hal yang bersifat strategi, permainan penuh dengan logika.

Kecerdasan Visual-Spasial

Kecerdasan tipe ini biasanya terdapat pada anak memiliki ketertarikan terhadap desain, ruang, arsitektur, apresiasi seni terutama seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi, dekorasi atau denah. Mereka juga dapat menginterpretasikan grafik, desain interior, kemampuan berimajinasi yang tinggi hingga detail terkecil dan dapat mempelajari navigasi dengan mudah.

Kecerdasan Musikal

Baca Juga:  Guru yang Tidak Menulis Akan Hilang dari Sejarah

Anak dengan kecerdasan ini memiliki kemampuan yang berhubungan dengan apresiasi seni musik. Mereka dapat dengan mudah tertarik maupun memahami irama, nada, melodi, menyanyi, menyusun lirik dan mengekspresikan berbagai hal secara musikal. Ada juga yang memiliki kepekaan tinggi terhadap nada ini biasa disebut perfect pitch. Misalkan, dia dapat menebak nada yang dia dengar dalam sebuah gesekan benda, suara klakson apakah itu do atau re dan sebagainya secara spontan.

Kecerdasan Kinestetik

Anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya ditandai dengan kemampuan gerak tubuh atau olahraga yang berhubungan dengan kegiatan fisik. Mereka juga memiliki kelincahan dalam mengontrol dan mengatur tubuh dan mengekspresikan sesuatu dengan bahasa tubuh. Ada yang memiliki tubuh atletik, pandai menari, fisik yang kuat atau tubuh yang lentur.

Kecerdasan Interpersonal

Ditandai dengan kemampuan mengolah, mencerna dan merespon secara tepat sesuai dengan suasana hati, emosi dan keadaan. Mereka biasanya memiliki sifat simpati dan empati, suka mengasuh atau mendidik, menjadi mediator konflik, menjadi pemimpin yang handal dalam sebuah kelompok, menyelesaikan masalah secara objektif dari berbagai sudut pandang dan mampu berlaku sesuai dengan situasi dan kondisi di sekitarnya.

Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan anak yang memiliki ketertarikan dengan lingkungan alam. Baik itu flora, fauna, manusia, makhluk hidup, pola alam, spesies dan lingkungannya. Biasanya mereka merupakan penyayang binatang atau tumbuhan, suka mengidentifikasi benda-benda alamiah maupun fenomena alam yang terjadi, dan mengoleksi miniatur, buku tentang binatang, tumbuhan, bunga dan lain-lain. Bisa juga mereka sangat suka berpetualang ke alam liar dan tidak takut serangga.

Kecerdasan Intrapersonal

Anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya memiliki kemampuan memahami dan mengenal dirinya sendiri. Mereka tahu bagaimana cara mengoptimalkan keahlian atau minat dan bakat dalam dirinya. Suka berpikir, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, mampu mengontrol perasaan dengan baik, menikmati kesendirian dan merenung, paham dengan kelebihan dan kekurangan, tahu cara memotivasi dan menentukan tujuan diri yang realistis.

Baca Juga:  Mengukur Efektivitas Pembelajaran Daring di Masa Pandemi sebagai Guru dan Orang Tua

Kecerdasan Eksistensial

Kecerdasan ini biasanya ditandai dengan cara berpikirnya yang kritis yang terkait dengan kehidupan, kematian, kebijaksanaan, kejahatan dan sebagainya. Mereka yang memiliki kecerdasan ini biasanya memiliki berbagai pertanyaan tentang hakikat kehidupan, perenungan berbagai peristiwa, memiliki pendapat dan memikirkan hikmah di setiap masalah, tindakan atau peristiwa. Mereka selalu menanyakan kebenaran tentang pernyataan atau kejadian, memperjuangkan kebenaran dengan pola pikirnya yang kritis dan luas serta mempertanyakan banyak hal secara mendasar; mengapa seperti ini, mengapa seperti itu, bagaimana jika, dan sebagainya.

Mengarahkan Masa Depan Anak

Kecerdasan majemuk ini dapat membantu guru atau orang tua untuk mengenali anaknya sendiri atau siswa serta mengarahkan bagaimana masa depannya akan berjalan. Salah satunya adalah dengan cara membaca nilai raport. Meskipun bisa saja nilai raportnya tidak sepenuhnya murni. Tetapi, bisa dijadikan salah satu patokan untuk mengetahui kecerdasan dan minat apa yang dimiliki sang anak. Sehingga guru atau orang tua mampu mengarahkan sang anak dalam berproses

Dengan mengetahui tentang beberapa kecerdasan yang dimiliki setiap orang berbeda, maka dari itu berhentilah mengatakan kepada anak bahwa dia bodoh ketika melihat hasil ulangan matematikanya jauh di bawah KKM atau rankingnya tidak masuk dalam 10 besar dalam kelas maupun paralel. Bisa saja dia memiliki kecerdasan di bidang bahasa ataupun di bidang olahraga. Karena setiap manusia memiliki kecerdasannya masing-masing yang tidak bisa disamaratakan seluruhnya.

Guru di sekolah bisa mengarahkan kepada orang tua bahwa anaknya selama proses pembelajaran di sekolah memiliki ketertarikan dan kemampuan lebih pada bidang tertentu. Pun didukung dengan perhatian orang tua ketika anak berada di rumah untuk memahami apa yang anak kuasai. Kerjasama orang tua dan guru ini tentu sangat bermanfaat untuk masa depan sang anak.

Ditulis oleh Putri Widya Pertiwi, S.Pd (Universitas Negeri Yogyakarta)

Share :

Baca Juga

Opini

Penyaluran Dana Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) dan Penggunaanya

Opini

Mengurangi Kejenuhan Siswa Belajar Daring dengan “Terapi”

Opini

Membangunkan Generasi Rebahan

Opini

Menjadi Guru Kreatif di Masa Pandemi Covid-19
light city building bridge

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Nia Kurniati
media gambar dalam pembelajaran

Opini

Meningkatkan Hasil Belajar Menggunakan Media Gambar

News

Bisa Dicontoh, Inilah Cara SDN 02 Jantiharjo Melakukan Sosialisasi Pencegahan Covid-19
solidaritas untuk palestina

Opini

Solidaritas Palestina dan Identitas Beragama