Home / Opini

Kamis, 29 April 2021 - 01:44 WIB

Guru yang Tidak Menulis Akan Hilang dari Sejarah

Menurut Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, namun bila dia tidak menulis dia akan hilang dari masyarakat dan sejarah,  menulis adalah pekerjaan untuk keabadian. Nah, jika seorang guru ingin hidupnya abadi dan tidak dilupakan maka harus menulis dan menciptakan karya yang bisa dikenang.

Di tengah masyarakat derajat guru sangat dihormati. Pekerjaan sebagai guru adalah profesi yang sangat terhormat. Jika guru ingin memberikan dampak yang lebih besar kepada masyarakat, maka guru harus dapat menulis agar tetap dikenang dan tidak dilupakan oleh sejarah.

Pada dasarnya, tugas seorang guru tentu saja mengajar, mentransfer ilmu, mendidik, dan mengevaluasi siswa-siswanya. Di sekolah, guru dapat menjadi orang tua bagi peserta didiknya. Semua tingkah guru menjadi teladan yang dapat dicontoh dan dipraktekkan oleh siswanya.

Sebagai seorang guru, kegiatan mentransfer ilmu adalah sebuah hal yang wajar.  Pekerjaan tersebut memang tidak mudah karena siswa dapat  berasal dari latar belakang yang berbeda.

Baca Juga:  Urgensi Video sebagai Media Pembelajaran Daring untuk Pelajaran Praktik

Kemampuan menulis akan menjadikan guru memiliki nilai tambah. Menulis merupakan pekerjaan untuk keabadian. Seorang yang menulis akan tetap hidup dalam sejarah. Kelak, orang-orang akan mengenangnya melalui tulisannya. Oleh sebab itu, guru sebagai sosok profesional juga harus bisa menulis, harus bisa menghasilkan karya agar tetap dikenang dan tidak dilupakan oleh sejarah.

Saat ini sudah banyak hasil karya guru dalam bentuk karya tulis. Jika kita berkunjung ke perpustakaan nasional kita bisa menjumpai buku-buku karya para guru yang sudah ber-ISBN.

Dengan demikian kita bisa  berkesimpulan bahwa saat ini sudah banyak guru yang mulai menulis. Bentuk tulisan yang bisa dihasilkan oleh guru tidak harus berupa buku tapi juga bisa dalam bentuk PTK, makalah, artikel yang diterbitkan di media lokal bahkan nasional.

Sungguh sangat pantas mendapat acungkan jempol bagi guru-guru yang sudah berusaha berkarya. Karena di sela-sela kesibukan sebagai pengajar, mereka masih bisa menghasilkan karya tulis.

Baca Juga:  Pendidikan Karakter Sejak Dini untuk Membangun Bangsa yang Beradab 

Untuk menyalurkan minat guru dalam menulis saat ini, sudah ada blog khusus guru yakni Gurusiana. Di halaman tersebut  berisi tulisan khusus yang dibuat oleh guru. Di Gurusiana kita bisa menjelajah nusantara dan membaca tulisan-tulisan guru dari seluruh Indonesia. Tulisan-tulisan yang sangat bagus. Ada tulisan berupa faksi,  cerita pendek, argumentasi, dan tulisan-tulisan deskriptif.

Sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa banyak sekali manfaat menulis bagi seorang guru. Selain melatih kemampuan menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, menulis juga sangat berguna untuk bahan kenaikan pangkat. Buku yang ber-ISBN, misalnya, dengan tema umum bisa bernilai 3. Jika buku tentang pendidikan dapat bernilai 4. Begitu juga tulisan tulisan lain, semua ada nilainya. Jadi dengan menulis, guru bisa naik pangkat. Dan yang paling penting adalah tetap hidup dalam sejarah karena tulisan.

Ditulis oleh: Gusmaletri, S.Pd.I, Guru di SDN 23 Talang Babungo

Share :

Baca Juga

peran orang tua dalam pendidikan anak

Opini

Dampak Buruk Pembelajaran Daring bagi Anak Usia Dini

Opini

Studysaster: Membuat Pembelajaran di Masa Pandemi Jadi Lebih Berarti
asesmen kompetensi minimum

Opini

Fenomena Kebijakan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)

Opini

Pemanfaatan Modul Pembelajaran dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Opini

Optimalisasi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar
sistem pembelajaran tatap muka

Opini

Sistem Pembelajaran Tatap Muka di Indonesia

Opini

5 Aplikasi yang Mendukung Proses Pembelajaran Daring Jadi Lebih Menyenangkan
covid-19 dan pembelajaran jarak jauh

Opini

Covid-19 dan Sebuah Cerita dari SD Negeri 1 Galih Lunik