Guru Ujung Tombak Pendidikan Melawan Dampak Pandemi Covid-19

- Editor

Kamis, 20 Januari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Agus Sri Mulyo,S.Pd

Guru Penjas SMA 1 Nalumsari, Jepara

Akibat Covid 19, hampir semua aspek kehidupan mengalami perubahan-perubahan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Dunia perekonomian semakin lemah, hubungan sosial semakin menurun yang menyebabkan kurangnya interaksi dan kepedulian terhadap sesama. Semuanya telah merasakan dampak dari virus Covid-19 ini, tak terkecuali dunia pendidikan. Kita harus siap menghadapi perubahan ini, karena cepat atau lambat pendidikan akan mengalami perubahan drastis akibat pandemi Covid-19.

Saat ini pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan,  salah satunya meliburkan aktivitas (tatap muka) di seluruh lembaga-lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan virus Corona atau Covid-19 ini. Hal ini tentunya berdampak besar pada perkembangan pendidikan anak. 

Sebagai alternatifnya, pembelajaran dilakukan secara daring. Pembelajaran daring atau online merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa tetapi pembelajaran dilakukan melalui jaringan internet. Hal ini merupakan tantangan besar bagi seorang guru, karena dalam kondisi seperti ini guru pun dituntut untuk bisa mengelola, mendesain  media pembelajaran sedemikian rupa guna untuk mencapai tujuan pembelajaran dan untuk mencegah atau mengantisipasi kebosanan siswa dalam pembelajaran model daring tersebut. 

Sayangnya, dalam belajar online ini, tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang dipicu oleh beberapa  faktor: 

Pertama, siswa yang belum memiliki gadget. Banyak juga siswa yang belum mengetahui banyak tentang penggunaan teknologi, kasus ini banyak terjadi pada siswa tingkat TK dan SD (Sekolah Dasar).  Selain itu, masalah utama yang dialami siswa  adalah jaringan yang tidak memadai. Hal ini merupakan tantangan besar bagi siswa dan tak terkecuali bagi orang tua karena orang tua lah yang dituntut untuk mendampingi siswa dalam proses belajar online tersebut. Realita yang ada tidak sedikit orang tua yang tidak paham mengenai penggunaan teknologi, jelas hal ini akan menghambat keaktifan siswa atau anak dalam proses belajar daring.

Kedua,  kurangnya interaksi fisik antara guru dan siswa karena dalam pembelajaran online siswa hanya diberikan tugas melalui media online, misalnya via WhatsApp.  Kebanyakan siswa kesulitan dalam mengerjakan tugas dikarenakan tidak ada penjelasan-penjelasan awal dari guru tentang tugas yang dibebankan tersebut. Peserta didik hanya dituntut untuk mengerjakan tanpa mendapatkan penjelasan terlebih dahulu. Akibatnya banyak siswa yang mengeluh dan tidak bersemangat lagi dalam mengerjakan tugas.

Ketiga, tugas yang diberikan guru banyak, sementara waktu yang diberikan sangat singkat. Bagaimana anak bisa belajar dengan baik dalam kondisi yang seperti ini.

Keempat, akibat kurangnya interaksi langsung antara guru dan siswa, otomatis berkuranglah internalisasi nilai-nilai karakter yang semestinya harus ditanamkan seorang guru ke dalam diri siswa. Ini akan mengakibatkan degradasi moral pada anak atau siswa. Padahal sebenarnya tugas seorang guru bukan hanya mengajar, mentransferkan ilmu pengetahuan (pelajaran) saja, tetapi seorang guru juga dituntut untuk mendidik (pembentukan akhlak dan karakter) siswa. 

Namun, semua itu tidak boleh mematahkan semangat guru dalam menjalankan tugasnya sebagai  pendidik, tidak boleh mematahkan semangat siswa dalam belajar. Pandemi Covid-19 ini tidak boleh mematahkan semangat dan harapan kita semua. 

Inilah momentum kita untuk beradaptasi dengan cara hidup baru sehingga dapat melewati pandemi yang telah menyebar secara global. Perubahan hidup memang menyakitkan dan seringkali membuat kita tidak nyaman karena perubahan ini berjalan dengan cepat dan mengagetkan. Namun masalah ini tentu harus kita sikapi dengan sabar, terus belajar, berpikir positif dan beradaptasi dengan perubahan. Kita terpilih untuk melalui episode hidup ini.

Perubahan perilaku setiap hari

Dunia memang mengalami goncangan dan risiko ketidakpastian semakin besar dan memunculkan perilaku dan kebiasaan baru. Belajar dan bekerja dilakukan di rumah . Kita tidak pernah membayangkan hari-hari akan dilalui dengan interaksi secara virtual. Anak-anak melakukan belajar secara online. 

Kita sekarang begitu familiar dan dipaksa untuk beradaptasi dengan rapat-rapat atau pelatihan yang dilakukan secara online. Bisa jadi hal ini akan memunculkan generasi virtual. Kita memahami saat ini untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar dilakukan melalui pemesanan secara online. 

Perilaku masyarakat telah berubah dengan menjaga jarak, mengurangi kontak fisik secara langsung. Namun tentu kita juga harus mulai berpikir untuk memulai kehidupan baru dengan cara-cara baru. Kita harus mulai melakukan perubahan dengan kreativitas dan kegigihan untuk membuat cara-cara yang dilakukan, relevan dengan perubahan yang terjadi. 

Kompetensi SDM yang harus dimiliki di abad 21 yang relevan untuk kita implementasi sehingga kita dapat survive dan melewati episode pandemi ini meliputi:

1. Critical Thinking and Problem Solving (Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah)

Di masa pandemi ini, kita dituntut untuk mampu memahami masalah yang saat ini sedang dialami dan memunculkan perspektif baru dengan kemampuan mengkoneksikan satu informasi dengan informasi lainnya dan menemukan solusi yang tepat untuk memulai “kehidupan baru”. Kita dituntut mampu memilah informasi yang ada terutama di era digital saat ini. Selanjutnya memahami dan membuat opsi-opsi, menganalisis dan menyelesaikan masalah yang saat ini kita hadapi. Untuk  itu kit sebagai guru dituntut supaya mampu memberikan pendidikan karakter kepada anak didik lewat media e-learning, Zoom, Google, Whatsapp, dll.

2. Creativity and Innovation (Kreativitas dan Inovasi)

Di kehidupan baru, guru dituntut mampu mengembangkan gagasan baru, bersikap responsif dan menerima secara terbuka terhadap perspektif yang baru dan berbeda.  Cara-cara lama sudah tidak relevan lagi untuk kita pertahankan, karena itu guru dituntut mewujudkan ide-ide baru dan inovasi baru. Perubahan mendasar telah dialami oleh semua siswa di era digital saat ini, maka inovasi yang terkait teknologi akan sangat berperan dalam memenuhi kebutuhan hidup setiap siswa dalam menghadapi era digital. Karena itu, wabah ini dapat menjadi pendorong munculnya ide-ide atau teknologi baru.

3. Collaboration (Kolaborasi)

Guru dituntut untuk mampu bersinergi, bekerja sama secara produktif dengan pihak lain, beradaptasi dalam berbagai tanggung jawab dan peran, menghormati perspektif yang berbeda serta menempatkan empati di saat melewati masa-masa sulit penuh tantangan ini. Kolaborasi ini akan memunculkan lebih banyak kelebihan yang dapat dikapitalisasi sehingga memunculkan keunggulan kompetitif. Bukan saatnya lagi kita saling mengalahkan atau menaklukkan, namun saatnya guru bekerjasama, kolaborasi dan sinergi, guna meraih tujuan bersama. Siswa dijadikan obyek vital untuk mengisi masa depan agar tetap kokoh dan berjuang memajukan bangsa.

4. Communication (Komunikasi)

Guru juga dituntut mampu mengkomunikasi informasi-informasi yang ada agar pesan guru dapat diterima dan dimengerti oleh Siswa. Di masa pandemi ini, komunikasi guru banyak yang dilakukan secara virtual dan tanpa komunikasi secara langsung. Guru tentu tidak mampu memahami secara jelas bahasa tubuh dari masing-masing Siswa. Guru tentu juga harus menunjukkan empati dalam berkomunikasi. Karena itu, dalam komunikasi sekarang ini harus jelas, transparan dan rinci sehingga dapat tersampaikan dengan baik dan tidak salah persepsi apa yang diterima oleh siswa.

Kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum pulih.  Obat atau vaksin spesifik juga belum tersedia; dan hal ini membutuhkan kesadaran setiap guru dan siswa untuk tetap waspada berupaya mengurangi risiko penularan; termasuk kesehatan diri sendiri dan kesehatan lingkungan belajar. 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Berita Terkait

Penerapan Teknologi Satelit sebagai Upaya Pencegahan Dampak Abrasi Pantai
Mengenal Affordability Energy, Serta Kaitannya dengan Kron’s Loss Equation dan Transmission Line Losses
Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali
Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Juni 2024 - 19:50 WIB

Penerapan Teknologi Satelit sebagai Upaya Pencegahan Dampak Abrasi Pantai

Jumat, 21 Juni 2024 - 13:28 WIB

Mengenal Affordability Energy, Serta Kaitannya dengan Kron’s Loss Equation dan Transmission Line Losses

Sabtu, 15 Juni 2024 - 13:59 WIB

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Berita Terbaru