Bersama Membangun Lingkungan Belajar Positif Anti Kekerasan Melalui Media Visual

- Editor

Senin, 4 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Contoh hasil karya siswa media visual anti perundungan di MA. Persis Tarogong

Contoh hasil karya siswa media visual anti perundungan di MA. Persis Tarogong

Oleh Iis Latifah

Pengajar di MA. Persis Tarogong, Garut

 

Banyak sekolah saat ini menghadapi tantangan, khususnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan positif. Lingkungan belajar yang nyaman niscaya dapat memberikan ruang yang  baik agar siswa bisa fokus pada kegiatan pembelajaran.  Jika dilihat dari sisi interaksi sosial, lingkungan yang aman dan nyaman akan membantu mereka mengembangkan keterampilan yang penting untuk masa depan mereka.

Salah satu permasalahan serius yang dapat merusak iklim sekolah adalah kekerasan dan intimidasi atau yang dikenal dengan istilah bullying atau perundungan. Masalah ini dapat menghambat perkembangan mental siswa dan mengganggu proses pembelajaran. Bentuk – bentuk perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah bervariasi dari yang ringan sampai yang berat. Perundungan yang ringan contohnya berupa penyebaran rumor yang tidak baik tentang siswa, mengucilkan salah satu siswa, saling mengejek, ancaman, dan lain sebagainya. Kasus yang terberat dapat berupa pengambilan barang secara paksa, menghancurkannya, sampai tindakan yang mengarah pada kekerasan fisik.

Berdasarkan data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang dikutip dari Republika, terdapat 16 kasus perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah pada periode Januari hingga Agustus 2023. Adapun kasus perundungan di lingkungan sekolah paling banyak terjadi di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan proporsi 25% dari total kasus. Kemudian perundungan juga marak terjadi di lingkungan Sekolah Menengah Akhir (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang sama-sama mendapatkan persentase sebesar 18,75%. Sementara itu di lingkungan Madrasah Tsanawiyah dan pondok pesantren, masing-masing dengan persentase sebesar 6,25%.

 Melihat berbagai kondisi tersebut, tugas kita sebagai pendidik adalah berupaya meningkatkan kepekaan dan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya. Seperti  pernyataan dari Ki hadjar Dewantara “…perlulah anak-anak [Taman Siswa] kita dekatkan hidupnya kepada perikehidupan rakyat, agar supaya mereka tidak hanya memiliki ‘pengetahuan’ saja tentang hidup rakyatnya, akan tetapi juga dapat ‘mengalaminya’ sendiri , dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya.”

Bentuk implementasi dari pernyataan Ki Hajar Dewantara tersebut dapat diterapkan sesuai Kurikulum Merdeka yang saat ini berlaku berupa pelaksanaan proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5). Salah satu nilai P5 yang bisa dikembangkan untuk mengatasi masalah perundungan adalah dengan mengangkat tema berkebinekaan global. 

Hal tersebut telah dicoba untuk dilaksanakan di MA. Persis Tarogong di mana para pendidik mengajak siswa untuk merancang kampanye kesadaran tentang perundungan dengan pesan “Kita Semua Bersaudara” melalui media visual. Para siswa diberikan kebebasan untuk membuat media visual seperti poster atau video yang mengajak kepada gerakan anti perundungan. Melalui proyek ini para siswa diajak untuk memahami pentingnya persatuan, empati, dan penghentian perundungan dalam lingkungan sekolah dan masyarakat secara umum. 

Tahapan pelaksanaan proyek P5 di MA. Persis Tarogong yang dimaksud di atas diawali dengan sosialisasi kepada berbagai pihak yang akan terlibat, yaitu siswa dan guru.  Setiap kelas dapat mengirimkan dua produk berupa poster dan video dengan tema anti perundungan. Pengerjaannya bersifat kelompok di bawah pengawasan  wali kelas. Keterlibatan siswa dalam pembuatan produk akan berbeda-beda tergantung dari partisipasi dan kontribusi mereka dalam membuat produk. 

Waktu pengerjaan proyek ini berlangsung selama dua minggu. Hasil karya siswa tersebut kemudian dinilai dalam dua tahapan. Yang pertama penilaian dilakukan oleh wali kelas dengan poin penilaian pada sisi kerja sama, kreativitas, dan presentasi. Sedangkan penilaian kedua dilakukan tim juri yang bersifat independen dengan poin penilaian pada kreativitas dan kesesuaian hasil proyek dengan tema.

Dari hasil karya yang terkumpul ternyata sangat luar biasa. Mereka mendapatkan ruang untuk berkreasi dan mengekspresikan bakat mereka. Dan hasil karya mereka pada akhirnya menginspirasi banyak pihak. Pada akhirnya, proyek ini tidak hanya tentang menciptakan materi visual tetapi juga tentang pembelajaran aktif dan pemahaman mendalam tentang dampak bullying.

Salah satu hasil karya media visual siswa MA. Persis Tarogong untuk mencegah perundungan di lingkungan sekolah.
Salah satu hasil karya media visual siswa MA. Persis Tarogong untuk mencegah perundungan di lingkungan sekolah.

Ini adalah sebuah perjalanan emosional dan pencerahan yang diharapkan akan membawa perubahan yang signifikan dalam lingkungan sekolah. Proses kolaboratif ini juga diharapkan dapat membuka pintu dialog yang lebih terbuka dan jujur tentang realitas kekerasan di sekolah. Dengan menghadirkan isu ini secara visual, dapat mendorong setiap siswa untuk mengambil bagian dalam gerakan bersama anti perundungan ini. 

Sejatinya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan positif membutuhkan pembicaraan terbuka. Dan proyek ini dapat menjadi katalisator untuk perubahan tersebut. Suara siswa yang terwakili dalam media visual yang mereka buat memiliki kekuatan untuk menginspirasi perubahan sikap dan tindakan positif.

Penting untuk diingat bahwa harapan utama dari proyek ini bukan hanya penciptaan karya seni visual yang indah, tetapi juga penciptaan iklim sekolah yang mendukung dan menyenangkan. Harapannya adalah, bahwa karya yang telah dibuat oleh siswa tersebut akan menjadi pengingat yang konstan tentang nilai-nilai positif yang kita anut bersama dan mengingatkan setiap individu di sekolah tentang tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan yang aman dan ramah. 

 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Penulis : Iis Latifah

Editor : Moh. Haris Suhud

Berita Terkait

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Keajaiban Kecerdasan Buatan (AI) yang Mampu Merevolusi Dunia Pendidikan
Berita ini 115 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:20 WIB

Keajaiban Kecerdasan Buatan (AI) yang Mampu Merevolusi Dunia Pendidikan

Berita Terbaru