Konsep Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara dalam Kurikulum Merdeka

- Editor

Jumat, 10 November 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Rismadamayanti

Guru di SMK Negeri 1 Bunyu

Tidak dapat dipungkiri, pendidikan memegang peran vital dalam kehidupan manusia. Pendidikan berpengaruh besar terhadap manusia agar mampu bertahan hidup dan tetap memiliki karakter baik ditengah gempuran arus globalisasi yang begitu kuat menyerang bangsa ini dari berbagai segi kehidupan. Selain itu, pendidikan memegang peranan yang sangat penting bagi kemajuan bangsa. Dimulai dari zaman perjuangan hingga saat ini, para pejuang kemerdekaan telah menyadari bahawa pendidikan adalah hal yang vital untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan kita dari cengkraman penjajah.

Pendidikan dijadikan alat untuk membentuk karakter serta peradaban bangsa yang kuat. Hal tersebut sesuai denganUndang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tercantum tujuan pendidikan nasional untukmengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokraris serta bertanggungjawab.

Menurut Ki Hadjar Dewantara arti kata pendidikan dan pengajaran berbeda dalam upaya memahami arti dan tujuan pendidikan. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakanproses melakukan pendidikan, dalam upaya memberi ilmu yang bermanfaat untuk meraih kecakapan hidup siswa baik lahirmaupun batin. Sedangkan yang disebut sebagai pendidikan (opvoeding) adalah, segala upaya dalam memberi tuntunanterhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak. Upaya ini diharapkan mampu memberikan siswa kekuatan dalamberusaha untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupunsebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009), “Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha  persiapan danpersediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam artiyang seluas-luasnya.”

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ki Hadjar Dewantara memilikikeyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utamauntuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapatditeruskan atau diwariskan. Maksud pengajaran dan  pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat). Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

Pendidikan menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir). Kekuatan diri (kodrat) yang dimiliki, menuntun murid menjadicakap  mengatur hidupnya dengan tanpa terperintah oleh orang lain (Dewantara, 2009). Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapaikeselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Olehsebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak- anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pesat memengaruhi perubahan cepat yang terjadi pada dunia pendidikan. Cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat dunia pendidikan harus terus ikut agar tidak tertinggal. Dari berbagai permasalahan yang muncul dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat memengaruhi dunia pendidikan salah satunya merosotnya karakter generasi muda (Asa, 2019). Sekolah tempat pelaksanaan pendidikan harus menjadi jalan dalam membangun karakter siswa sejak dini agar siswa mampu memiliki karakter baik hingga kelak ia tumbuh dewasa menjadi manusia yang berkarakter. Sukri (2016) mengatakan dalam bahasanpendidikan karakter, pendidikan harus bisa menghasilkan manusia utuh, karena pendidikan mempunyai fungsi sebagai sebuah proses pengingat kepada manusia sehingga mampu mengetahui, mengerti kenyataan hidup sehari-hari. Salahsatu kunci pendidikan adalah memanusiakan manusia.

Proses pendidikan harus dapat membentuk karakter siswa secara menyeluruh sebagai bekal kehidupannya. Dalampelaksanaannya, pendidikan harus mengintegrasikan antara kecerdasan kognitif dan kecerdasan karakter. Sekait dengan hal tersebut, dapat kita fahami bahwa integrasi kecerdasan kognitif dan kecerdasan karakter dapat mengantarkan siswa pada sikap yang bersesuaian dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam undang-undang.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah suatu proses mengajak manusia terhindar dari kebodohan. Pendidikan juga dikatakan sebagai usaha untuk memperbaiki budi pekerti, pikiran, dan jasmani agar dapat mewujudkan kesempurnaan hidup. Dengan kata lain proses pendidikan yang dilakukan dapat menghidupkan proses pendidikan siswadengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman dimana kehidupan siswa tinggal dalam masyarakat sehingga selaras dengan dunia siswa. Hal yang tidak luput dari perhatian dalam proses pendidikan adalah pembentukan karakter siswa. Pembentukan karakter siswa hanya bisa dilakukan melalui proses pendidikan karakter. Karakter merupakan ciri khas yang melekat pada diri seseorang sehingga karakter ini menjadi sangat penting bagi identitas seorang individu(Angga et al., 2022).

Menurut Ki Hadjar Dewantara, budi pekerti luhur siswa (karakter atau kekuatan batin), dan pikiran serta tubuh siswa tidak dapat dipisahkan karena hal tersebut merupakan kesatuan utuh yang harus berjalan selaras demi memajukan dan mewujudkan kesempurnaan hidup. Sekait dengan hal tersebut, pendidikan karakter merupakan bagian tak dapat dipisahkan dari pelaksanaan pendidikan Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya mencerdaskan manusia pada bagianintelektual saja namun juga harus dapat membangun kepribadian yang baik itulah sejatinya makna proses pendidikan.

Pendidikan karakter harus dilakukan sejak dini. Pendidikan karakter pertama dan utama adalah keluarga. sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa dimana pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan. Tugas guru di sekolah tidakhanya transfer ilmu pengetahuan semata melainkan guru harus mampu membentuk karakter siswa apalagi di sekolah dasar yang notabene merupakan sekolah formal pertama bagi siswa, (Lestari & Mustika, 2021). Hal tersebut dikarenakan kunci keberhasilan pendidikan Indonesia salah satunya adalah melalui pendidikan karakter, (Faiz et al., 2021). Begitu pentingnya pendidikan karakter di sekolah dasar menuntut guru untuk mampu melaksanakan pendidikan karakter dengan sebaik-baiknya.

Menurut pengertian Ki Hajar Dewantara, pendidikan nasional di Taman Siswa adalah pendidikan yang berpijak pada garis kehidupan bangsa, berorientasi pada kebutuhan hidup, yang dapat menjaga kondisi negara dan masyarakat, sehingga Indonesia dapat bekerja sama untuk kejayaan pria di seluruh dunia. Dengan demikian Ki Hajar Dewantara mengutamakan ajaran atau yang biasa disebut dengan tiga fatwa Ki Hajar Dewantara, yaitu:

Pertama, tetep, antep, mantep artinya pendidikan itu harus menciptakan ketabahan mental dan spiritual, jaminan kepercayaan diri dan stabilitas dalam prinsip-prinsip kehidupan. Istilah tetep di sini dapat diartikan dari segi prinsip, yaitu suatu keputusan (komitmen) agar sesuai dengan nilai-nilai sosial. Istilah antep menunjukkan bahwa didikan yang mengajarkan seseorang untuk menjadi “mandiri” dan berdikari berjalan lancar dengan siap dengan segala anugerahkebangsawanan sebagai seorang ksatria (moderat).

Kedua, ngandel, kandel, kendel dan bandel. Ngandel adalah Istilah Jawa yang berarti “berdiri”. Pendidikan harus mengantarkan manusia pada kondisi swasembada (to stand still). Orang yang benar adalah orang yang memiliki prinsip dalam hidup. Kendel merupakan term yang melambangkan keberanian. Pendidikan harus mampu mencetak individu menjadi pribadi yang kesatria, bermartabat, dan berani. Artinya orang berpendidikan adalah orang yang berani membelakebenaran dan yang mampu survive serta memiliki kematangan dan kedewasaan dalam menghadapi segala cobaan. Sementara itu, istilah keras kepala menunjukkan bahwa orang yang terpelajar adalah orang yang “bertahan dalam ujian”.

Ketiga, neng, ning, nung dan nang. Artinya, pada tataran yang mendalam hakikat pendidikan adalah religius.Pendidikan menciptakan perasaan senang (neng), hening (ning), tenang (nang), dan kontemplasi (nung). Dengan pendidikan, seseorang lebih jernih dan tenang.

Metode Pembelajaran Menurut Ki Hajar Dewantara

Meskipun menghabiskan banyak waktu untuk menempuh pendidikan di dunia barat, Ki Hajar Dewantara memiliki pandangan yang otentik terkai metode pembelajaran untuk orang Indonesia. Menurutnya, orang Indonesia tidak cocok dengan cara didik yang bersifat “memaksa” melainkan lebih ke pendekatan berdasar pada nilai-nilai tradisonal bangsa timur berupa cinta akan kedamain, kasih sayang, kehalusan rasa serta sopan dalam tutur kata dan tindakan. Penanamannilai tersebut sejak dini harus sudah dilakukan.

Metode yang berharap banyak pada kesadaran individu peserta didik menurut Ki Hajar merupakan caramengantarkan bangsa Indonesia pada kemerdekaan yang sejati. Ki Hajar Dewantara berpandangan bahwa kemerdekaanyang sejati adalah apabila lahir tidak didikte, batinya menyetir diri untuk tetap bertahan dengan prinsipinya sendiri (Aziz Q., Subandi dan Firmawati Nafi’ah 2018).

Adapun istilah metode yang ditawarkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah metode among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah, dan asuh. Metode ini secara tehnik pengajaran meliputi kepala, hati dan panca indera, Metode ini bertujuan untuk menghasilan independent personality, healthy physically, mentally, intelligentand become a useful member of society for his own happiness and the welfare of others (Sugiarta dkk. 2019).

Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa dalam pendidikan karakter merupakan usaha sistematis yang berkaitan dengan membangun kebudayaan dengan memberikan pengajaran dalam tumbuh kembangnya jiwa, raga anak dalamkodratnya sehingga lingkungan dapat membantu memberikan pengaruh positif terhadap kemajuan lahir bathin anak menuju ke arah adab kemanusiaan dalam kesempurnaan hidup (Mudana, 2019). Dapat kita fahami bahwa, bentuk usahayang dapat dilakukan dalam proses pendidikan karakter itu tentunya dimulai dari lingkungan keluarga sebagai pondasi awal penanaman karakter anak (Sugiarta et al., 2019). Selanjutnya sekolah merupakan bagian dari tripusat pendidikan(Amaliyah, 2021) menjadi tempat kedua dalam pengembangan karakter anak melalui berbagai pembiasaan danketeladanan, hingga pada akhirnya anak memiliki kekuatan karakter yang dapat memperkuat jiwanya jika suatu saatterjun pada lingkungan masyarakat. Setiap pengaruh buruk yang datang pada dirinya akan bisa dihalangi karena sudah memiliki pondasi kuat dari lingkungan keluarga ditambah pendidikan karakter di sekolah.

Konsep Kurikulum Merdeka

Pada Kurikulum Merdeka, peserta didik tidak lagi “dibebankan” untuk memahami pelajaran yang bukan minat atau prioritas bakat lahiriahnya. Melainkan mereka diberi kebebasan untuk memilih. Oleh karena itu strategi yang diutamakan pada kurikulum ini adalah pembelajaran berbasis proyek. Yaitu mengaplikasikan materi yang telah dipelajari melalui proyek dan studi kasus. Hal ini untuk menghindari pemahaman konsep secara parsial. Sebab pemahaman konsep yangparsial berimplikasi pada kegagalan memahami persoalan yang lebih mendasar (Swawikanti 2022).

Kurikulum Merdeka adalah sebuah kebijakan kurikulum terbaru, yang dikeluarkan oleh Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tujuan utama dalam pembentukan gerakan merdeka belajar, berkaitan dengan inovasi belajar di era 4.0. Di era Revolusi Industri 4.0, sistem dalam pendidikan dibentuk sebagai wadah untukmenciptakan peserta didik dengan keterampilan yang mumpuni yaitu memiliki pola fikir kritis dalam memecahkan masalah, kreatif dan inovatif serta keterampilan komunikasi dan kolaborasi (Ammas, 2021). Nadhiem Makarim berpendapat bahwa pembentukan konsep dari Kurikulum Merdeka adalah sebagai bentuk kebebasan dalam berpikirmaupun kebebasan otonomi yang diberikan kepada elemen pendidikan agar berfungsi untuk memberi ruang kepada peserta didik agar dapat mengoptimalkan perkembangan potensi yang ada di diri peserta didik.

Pendidikan yang memerdekakan menempatkan keaktifan peserta didik menjadi unsur amat penting dalam menentukan proses dan kesuksesan belajarnya. Sistem demokratis dalam belajar dapat diwujudkan dengan menggunakan strategi tersebut, proses pendemokrasian akan menunjukkan bahwa  sistem pembelajaran adalah atas prakarsa peserta didik. Demokrasi belajar menampilkan sisi dari hak- hak yang dimiliki peserta didik untuk dapat memperoleh suatu pembelajaran yang disesuaikan dengan   karakteristiknya (Kurniawan, 2020).

Kurikulum Merdeka mencoba mengembalikan paradigma pendidikan Indonesia sesuai dengan filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara. Filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menjunjung tinggi pemenuhan kebutuhan siswa sebagai tujuan utama dari pendidikan. Pemenuhan kebutuhan siswa dengan cara mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh siswa melalui sistem pamong dan among dilandasi oleh semboyan Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Tiga semboyan ini nantinya akan diimplementasikan dalam sistem Pamong dan Among dalam pembelajaran yang berbasis Student Centered sehingga nantinya tercipta keselarasan antara cipta, rasa karsa serta budi pekerti. Implementasinya filsafat Pendidikan Ki hajar Dewantara ini nampak jelas pada capaian pembelajaran padaPendidikan pada mata pelajaran umum maupun  kejuruan. Nampak jelas upaya pemerintah untuk menyiapkan siswa menjadi generasi masa depan yang mempunyai daya saing di era mendatang.

 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Penulis : Moh Haris Suhud

Editor : Rismadamayanti

Berita Terkait

Penerapan Teknologi Satelit sebagai Upaya Pencegahan Dampak Abrasi Pantai
Mengenal Affordability Energy, Serta Kaitannya dengan Kron’s Loss Equation dan Transmission Line Losses
Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali
Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Berita ini 339 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Juni 2024 - 19:50 WIB

Penerapan Teknologi Satelit sebagai Upaya Pencegahan Dampak Abrasi Pantai

Jumat, 21 Juni 2024 - 13:28 WIB

Mengenal Affordability Energy, Serta Kaitannya dengan Kron’s Loss Equation dan Transmission Line Losses

Sabtu, 15 Juni 2024 - 13:59 WIB

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Berita Terbaru