Home / Opini

Selasa, 17 Agustus 2021 - 00:36 WIB

Berkah di balik Pandemi: Kini Aku Jadi Produktif Menulis

Ada sebuah ungkapan bijak mengatakan ”Pasti ada hikmah di balik setiap musibah”. Barangkali  kalimat tersebut pas sekali dengan apa yang aku alami sekarang ini.

Wabah Covid-19 telah melanda hampir seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di negeri kita tercinta, Indonesia. Kurang lebih dua tahun sudah pandemi merenggut kebebasan kita semua dalam bergerak.

Pandemi tersebut telah mengubah kebiasaan kita semua. Dari hal yang semula tak biasa kini menjadi terbiasa. Sebelum pandemi, kita tidak terbiasa menghabiskan waktu di dalam rumah saja, namun sekarang hal itu harus kita lakukan; sebelumnya mungkin kita tidak terbiasa menggunakan masker ketika pergi ke mana-mana, sekarang menggunakan masker menjadi kewajiban; tak biasanya situasi jalanan lengang, dan hal itu sekarang sudah menjadi pemandangan yang biasa kita jumpai; dan lain sebagainya.

Dalam kondisi pandemi ini, di sisi lain aku merasa bersyukur. Namun bukan berarti aku bahagia dan tidak ingin pandemi ini berakhir. Aku merasa begitu karena banyak hal positif yang aku alami.

Aku tidak merasa pandemi ini sebagai musibah yang membuat hidupku rugi dan tidak berguna lagi. Seperti yang dikeluhkan oleh banyak orang selama ini, yaitu mereka yang tidak bisa melakukan apa-apa karena pembatasan yang terjadi selama pandemi.

Bahkan aku selalu optimis, seperti kata bijak yang pernah aku baca bahwa, ”Orang optimistis akan melihat adanya kesempatan dalam setiap musibah, sedangkan orang pesimistis melihat musibah dalam setiap kesempatan”.

Baca Juga:  Implementasi Pendidikan Karakter pada Anak Usia Dini

Sejak adanya pandemi ini, aku mulai banyak berubah khususnya dalam satu hal. Apa yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan—lebih tepatnya tidak berani aku lakukan—kini hampir setiap hari aku melakukannya. Menulis.

Ya, hampir setiap hari dan setiap waktu aku selalu semangat menulis. Apapun yang aku alami. apapun yang aku rasakan, aku tuangkan ke dalam sebuah tulisan. Tiada hari tanpa menulis. Seperti itulah aku menjalani hidupku saat ini. Berbagai media dan aplikasi aku manfaatkan sebagai sarana untuk menulis.

Semua ini berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Pada suatu ketika dengan niat hanya untuk mengisi waktu luang saat berdiam diri rumah, aku mengikuti sebuah kegiatan Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) yang diselenggarakan oleh e-Guru.id bagi profesi guru terkait pembelajaran online selama pandemi. Pikirku, ini penting juga mengingat kegiatan pembelajaran selama pandemi yang harus dilakukan secara online.

Aku mengikuti Diklat tersebut selama 5 hari berturut-turut dengan materi yang berbeda-beda. Salah satu materi dalam kegiatan tersebut berhasil mengubahku secara drastis. Materi tersebut adalah tentang “Menjadi Guru Produktif dengan Menulis Artikel Populer” yang disampaikan oleh Bapak Moh. Haris Suhud, S.S. 

Sebelumnya aku seorang guru yang malas untuk menulis, lebih suka menghabiskan waktu untuk bermain gadget atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang kurang bermanfaat. Ketika mengajar hanya mengandalkan media seadanya. Singkatnya, aku dapat dikatakan sebagai guru yang tidak kreatif dan tidak produktif sama sekali.

Baca Juga:  Memaknai Momen Bahagia Idul Fitri dengan Saling Memaafkan

Satu kalimat yang kemudian paling berkesan dan terkenang hingga saat ini, yang beliau sampaikan pada saat memberikan materi adalah kalimat yang dikutip dari seorang penulis hebat, Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Sejak saat itulah, aku mulai mengikuti berbagai kelas menulis,  termasuk beberapa kelas yang dibimbing oleh Pak Haris. Bahkan sampai sekarang ini pun, aku masih giat mengikuti beberapa kegiatan yang beliau gagas di antaranya adalah penerbitan sebuah buku antologi.

Di sini aku tidak mengatakan bahwa Pak Haris telah mengubah hidupku. Tetapi, aku ingin mengatakan bahwa Allah lah yang telah mengubah hidupku melalui perantara beliau.

Inilah sedikit pengalaman tentang hal-hal positif yang aku alami selama pandemi ini. Kita harus ingat bahwa Allah tidak akan pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan kita.

Dalam situasi apapun kita wajib pandai bersikap dan tetap berprasangka baik terhadap segala ketentuan Tuhan. Sebab tidak semua yang kita nilai buruk menjadi sebuah keburukan. Pandemi Covid-19 ini mungkin sering  kita anggap sebagai sebuah musibah, tapi ketika disikapi dengan benar justru dapat mendatangkan sebuah berkah tersendiri untuk kita.

Jadi, jangan menjadikan musibah wabah Corona ini sebagai alasan untuk selalu merasa terpuruk.

Ditulis oleh Hariyanti, S.Pd. (Guru di MTs Negeri 1 Mataram)

Ikuti Pendidikan dan Pelatihan “Menulis Artikel Populer” angkatan keempat yang diselenggarakan oleh e-Guru.id melalui link berikut ini:
DAFTAR DIKLAT
Dapatkan harga spesial untuk mengikuti diklat di atas serta gratis diklat setiap bulan dengan menjadi member e-Guru.id. Lakukan pendaftaran menjadi member dengan link berikut ini: 
DAFTAR MEMBER
Info lebih lanjut silakan menghubungi kontak berikut ini:
WhatsApp: 6285869433931

Share :

Baca Juga

pembelajaran tatap muka

Opini

Mendambakan Belajar Tatap Muka
motivasi belajar anak

Opini

Menanamkan Karakter Baik pada Anak Usia Dini Bahkan sebelum Masuk Kelas

Opini

Pendidikan Karakter Harus Tetap Diajarkan Meski secara Daring
pendidikan karakter

Opini

Pandemi Menghantam, Pendidikan Karakter Harus Terus Berjalan

Opini

Rahasia Cepat Naik Pangkat bagi Guru dengan Publikasi Ilmiah
penggunaan masker

Opini

Logika Keliru Penggunaan Masker di Masa Pandemi saat Berkendara
books on wooden shelves inside library

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Jan Laniengka
sekolah ramah anak

Opini

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak