Home / Sosok

Sabtu, 21 Januari 2023 - 01:10 WIB

Vuri Putri Yonatin: Tak Terbayang Bahwa Profesi Guru Ternyata Seindah Ini

Vuri Putri Yonatin, S.Pd., Guru di SD Negeri Banjarharjo

Vuri Putri Yonatin, S.Pd., Guru di SD Negeri Banjarharjo

Oleh Vuri Putri Yonatin, S.Pd.

Guru di SD Negeri Banjarharjo

 

Jujur saja, sebenarnya saya cukup takjub dengan diri sendiri saat ini karena sudah bertahan menjadi guru selama satu dasawarsa dan menikmati profesi ini.

Ketika kecil, seperti kebanyakan anak-anak lainnya, saya punya cita-cita yang umum dikatakan oleh anak-anak yaitu ingin menjadi dokter. Seiring berjalannya waktu, cita-cita saya berubah menjadi lebih realistis. Ketika duduk di bangku SMA, dari cita-cita yang semula ingin menjadi dokter berubah ingin menjadi jurnalis. Keinginan menjadi jurnalis terlintas karena seringnya saya menonton acara televisi bergenre petualangan yang dilakukan oleh sosok karakter jurnalis. Waktu itu saya merasa jurnalis cocok dengan jiwa petualang saya. 

Tahun kedua di SMA, saat guru meminta kami untuk menuliskan rencana masa depan, dengan penuh percaya diri saya menuliskan keinginan saya menjadi jurnalis. Saya pun sudah banyak mencari referensi bagaimana cara untuk menjadi jurnalis, jurusan apa yang harus saya ambil saat kuliah nanti, dan universitas mana yang tepat. Rencana saya menjadi jurnalis ketika itu sudah tersusun dengan matang dan tertata rapi dalam angan-angan.

Tahun terakhir di SMA, kami sibuk dengan pendaftaran SPMB untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Pulang sekolah, saya membawa formulir pendaftaraan SPMB dan menyerahkannya ke ibu. Dengan penuh antusias, saya mengatakan bahwa ingin mengambil jurusan komunikasi di Universitas Gadjah Mada. 

Ibu saya memberi jawaban yang benar-benar tidak terduga. Ibu hanya memberi dua pilihan: mendaftar jurusan PGSD atau tidak kuliah. Orang tua, khususnya ibu, memang menginginkan saya agar kuliah di jurusan keguruan, mungkin agar dapat mengikuti jejak ibu yang profesinya guru. 

Menjadi guru sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar impian saya sebelumnya. Apalagi mengetahui betapa berat pekerjaan ibu sebagai guru honorer yang tidak sepadan dengan gaji yang diterima. Di tahun 2007, gaji ibu saya sebagai guru honorer 50.000 per bulan. Itu yang membuat saya ragu untuk mendaftar kuliah di jurusan keguruan. Akan tetapi pilihan saya hanya itu, kuliah di keguruan atau tidak sama sekali. 

Jika tidak kuliah, lantas apa yang akan saya lakukan? Setelah lulus SMA tidak ada gambaran saya bisa bekerja apa dan di mana. 

Dengan berat hati, saya menuruti keinginan orang tua yaitu untuk kuliah di jurusan PGSD di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Awal semester di perguruan tinggi tersebut, saya jalani dengan setengah hati dan masih menyimpan harap untuk bisa menjadi jurnalis saat lulus nanti. 

Karena keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan, saya harus bekerja di sela-sela waktu libur kuliah untuk dapat menambah uang saku dan untuk membantu orang tua membayar biaya semester. Pekerjaan paruh waktu yang dapat saya lakukan saat itu adalah menjadi pengajar ekstrakurikuler Bahasa Inggris dan seni tari di sekolah dasar dekat rumah. Ini adalah awal saya masuk ke dunia pendidikan. 

Selama menjadi pengajar ekstrakurikuler, saya harus berinteraksi dengan anak-anak dengan berbagai karakter. Menjadi pengajar ternyata tidak mudah. Meskipun saya mempelajari berbagai macam teori pendidikan, tapi dalam mengaplikasikannya dalam dunia nyata tidak semudah yang dibayangkan. 

Ketika masuk semester lima, ada mata kuliah KKN-PPL yang wajib diambil oleh mahasiswa, yakni praktik mengajar secara langsung di sekolah dasar. Saya melaksanakan KKN-PPL di salah satu sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta. Berbekal teori yang didapatkan saat kuliah, saya percaya bahwa dalam praktik microteaching bersama teman dari kampus—apalagi saya juga punya pengalaman sebagai pengajar ekstrakurikuler—akan berjalan dengan mulus dan mudah. 

Faktanya, harapan tidak selalu sejalan dengan realita. Praktik mengajar langsung bersama siswa di dalam kelas benar-benar menguras energi, pikiran, dan emosi. Sebelum mengajar, saya sudah membuat persiapan yang apik namun semuanya tidak berfungsi karena ternyata kemampuan saya dalam mengkondisikan kelas masih nol besar. 

Kejadian tersebut membuat saya merasa tertantang. Jiwa petualang saya pun tertantang sehingga keinginan menjadi jurnalis dapat saya salurkan di sini di mana saya harus mampu mampu merencanakan kegiatan pembelajaran di kelas agar siswa dapat mengikuti skenario pembelajaran yang saya susun. Oleh karena itu, saya mulai belajar berbagai macam metode pembelajaran, membuat berbagai media dan alat peraga yang menarik minat dan perhatian siswa. 

Baca Juga:  Hasnah: Lebih Paham Kurikulum Merdeka karena e-Guru.id

Selama kegiatan KKN-PPL saya benar-benar fokus untuk kegiatan di sekolah. Semakin dalam menyelamati dunia mendidik ini, saya mulai menyadari bahwa menjadi guru itu ternyata asyik. Saya dapat menikmati interaksi dengan siswa dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan dunia siswa di sekolah. Kegiatan KKN-PPL ini pun menjadi salah satu masa yang berkesan selama saya menjalani masa kuliah di jurusan keguruan. 

Usai menjalani KKN-PPL, semester akhir adalah salah satu jalan berliku yang harus saya lalui. Saat seharusnya saya bisa fokus menyelesaikan skripsi, keadaan ekonomi keluarga kembali terpuruk yang menyebabkan muncul banyak masalah di rumah. Sembari mengerjakan skripsi, saya pun mengambil pekerjaan full time di salah satu sekolah dasar. Karena mengajar sebagai guru honorer tidak banyak, saya pun juga membuka bimbingan les untuk anak sekolah dasar. 

Di sekolah, saya mulai bekerja dari pukul 06.00 hingga 12.30. Tak lama setelah itu berangkat melakukan les privat dari rumah ke rumah. Dalam satu hari, saya bisa mengajar les privat sampai pukul 21.00. 

Rutinitas seperti itu berjalan hampir setiap hari menyebabkan kuliah saya menjadi keteteran. Progress skripsi saya tidak bergerak ke mana-mana. Satu semester berlalu berlanjut ke semester berikutnya, dan saya masih belum lulus. Ketika teman-teman satu angkatan sudah memakai toga dan berfoto wisuda dengan keluarganya, saya masih harus berjibaku mencari nafkah dan mengenyampingkan kuliah terlebih dahulu. Sempat terancam dropout, namun akhirnya saya bisa lulus di semester 14.  

Setelah lulus kuliah, saya mengikuti suami merantau ke luar pulau. Saya pun terpaksa mengundurkan diri dari sekolah. Ada keinginan menjadi guru di tanah rantau, tapi saat itu sulit bagi saya mengurus anak sambil bekerja. Dua tahun di pulau seberang, suami harus mutasi kerja lagi dan tidak bisa membawa anak istri. Akhirnya saya pulang ke kampung halaman di Jawa. 

Di rumah, hasrat untuk kembali menjadi guru kembali membuncah. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar sebagai guru honorer lagi. Tahun 2017, awal kembalinya saya sebagai guru. Selama masih menjadi guru honorer, saya harus sering berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain karena tergeser guru PNS. 

Di tahun 2019, saya harus pindah lagi ke sekolah di luar kabupaten. Kali ini  bukan karena tergeser oleh guru PNS, namun karena saya sendiri mendapatkan rezeki diangkat menjadi guru PNS. 

Dari perpindahan mengajar yang sering saya alami bukan hal yang buruk. Sebab dari dari situ saya bisa mempelajari banyak hal. Saya bisa bertemu dengan berbagai macam siswa dengan permasalahan yang berbeda-beda; bisa berkolaborasi dengan dengan rekan kerja yang unik; merasakan suka duka mengajar di sekolah negeri dan sekolah swasta; sehingga mampu berproses untuk menjadi guru yang lebih baik setiap harinya.  

Perjalanan saya menjadi guru masih sangat panjang. Sampai saat saya menulis artikel ini, saya belum mampu menciptakan karya luar biasa atau memberikan kontribusi besar untuk dunia pendidikan. Mendapatkan penghargaan sebagai guru terbaik pun belum pernah. Akan tetapi, selama menjadi guru saya menyadari bahwa tugas utama seorang guru bukan sekadar menciptakan manusia-manusia pintar, akan tetapi harus bisa mendampingi perjalan siswa untuk dapat mengenali potensi diri sehingga bisa menjadi versi terbaik dari diri mereka masing-masing. 

Saya sangat bersyukur telah berada di jalan ini sebagai guru. Saya sadar bahwa guru memang bukan cita-citaku, tapi mengajar dan mendidik sudah menjadi separuh jiwa yang menetap bersama diriku. 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud

Share :

Baca Juga

Sosok

Novie Istiaricha: Menjadi Guru adalah Anugerah 

Sosok

Indah Wulandari: Ibu Terbaik di Rumah, Pendidik Profesional di Sekolah

Sosok

Lilik Permatasari: Memilih Jadi Guru setelah Bekerja sebagai Pegawai Bank

Sosok

Sigit Mahendradata: Anak Pak Camat yang ‘Terjebak’ di Dunia Guru

Sosok

Mia Liliawati: Sempat Menyesal Jadi Guru, Namun Akhirnya Banyak Prestasi yang Dapat Diraih

Sosok

Maksimus Yovan: Menjadi Guru untuk Memenuhi Panggilan yang Mulia

Sosok

Zulhijjah: Guru Ahli Pengembangan Aplikasi Pembelajaran

Sosok

Lina Wijayanti: Guru Muda Kreatif yang Sukses di Bidang Pendidikan dan Bisnis