Home / Opini

Selasa, 15 Juni 2021 - 09:34 WIB

Tepatkah Pelaksanaan Lomba untuk Anak PAUD?

Menurut pakar pendidikan Maria Montessori bahwa anak belajar sesuai taraf kematangannya, dan anak akan mengembangkan kepercayaan pada dirinya bila berhasil melaksanakan tugas-tugas sederhana. Saat anak kalah, hal itu bisa berdampak kepada hilangnya rasa percaya diri pada anak, terlebih untuk anak usia dini.

Anak tidak bisa dibanding-bandingkan karena setiap anak itu unik. Perkembangan kematangan anak satu dengan yang lainnya tentu saja berbeda, sehingga dalam melaksanakan tugas-tugas sederhana anak akan menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya sesuai kemampuan atau kematangannya. Maka dalam melaksanakan tugas yang diberikan seharusnya anak mendapatkan pujian atau motivasi yang positif walaupun dia mengerjakan tugas dengan hasil apapun.

Hal ini akan dapat mengembangkan rasa percaya diri pada anak, karena bagi anak hasil karyanya adalah yang terbaik untuknya. Tetapi apabila anak dibanding-bandingkan bahkan ada unsur menang kalah—situasi ini yang belum bisa diterima anak—maka ia akan merasa paling mampu. Apalagi saat anak dinyatakan kalah, hal itu bisa saja berdampak kepada hilangnya rasa percaya diri, merasa tidak mampu, dan kemungkinan ia memiliki konsep diri yang negatif.

Karakter Anak Usia Dini

Anak usia dini (0-6 tahun ) merupakan masa di mana dia berada pada fase emas atau golden age. Anak akan berkembang dengan pesat di usia ini. Pada fase ini, anak akan menampilkan beberapa karakter yang mencerminkan dirinya, baik yang natural maupun dari apa yang dilihat atau dipelajari di lingkungan sekitarnya.

Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, yaitu memiliki rasa ingin tahu yang besar, memiliki pribadi yang unik, suka berfantasi dan berimajinasi, masa paling potensial untuk belajar, menunjukkan sikap egosentris, memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek dan mulai memiliki kesadaran sebagai makhluk sosial.

Baca Juga:  Pembelajaran yang Mendukung Keberhasilan Siswa dalam Penerapan Kurikulum Merdeka

Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang memiliki kemampuan untuk belajar yang luar biasa dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Jadi biarkan anak belajar secara natural sesuai karakteristik anak masing–masing tanpa adanya tekanan-tekanan yang justru membuat anak merasa tidak bisa bebas dan kurang leluasa untuk melakukan berbagai eksplorasi, karena harus memenuhi juknis, kriteria dan tuntutan- tuntutan yang terdapat dalam suatu perlombaan.

Berikan anak kebebasan dalam bereksplorasi, karena dunia anak adalah dunia yang penuh canda dan gembira yang tidak akan bisa terulang lagi dalam hidupnya. Sehingga kita sebagai orang dewasa berusaha saja untuk memberikan fasilitas anak yang dibutuhkan anak dalam melakukan berbagai eksplorasi.

Ajang Prestasi Anak Usia Dini

Saat ini lomba untuk anak usia dini masih marak dilaksanakan. Berbagai bentuk lomba diadakan dengan peserta anak usia dini. Misalnya, lomba mewarnai, lomba menyanyi, lomba gerak dan lagu, dan masih banyak lagi. Kegiatan ini selalu banyak pesertanya dan akan dihadiri bukan saja oleh peserta lomba tapi juga ayah, ibu, bahkan kakek, nenek atau keluarga terdekat anak, sehingga acara selalu meriah.

Tentu saja orang tua mengharapkan anaknya menjadi juara dalam lomba. Sehingga anak bisa menjadi korban ambisi orang tua, karena anak belum memahami bagaimana menerima makna menang dan kalah.

Kemampuan berpikir abstrak anak usia dini belum lengkap terbangun. Usia anak-anak masih pada tahapan berpikir konkret. Kemenangan adalah sesuatu yang tidak dapat dijangkau anak. Sementara itu, stimulasi yang harus dirasakan anak adalah emosi yang positif seperti senang, bahagia, percaya diri, bangga, dan emosi positif lainnya.

Baca Juga:  Imbauan Ditjen GTK dalam Tahapan Implementasi Kurikulum Merdeka yang Benar, Guru Harus Tahu!

Jikapun harus menggelar kegiatan yang berkaitan dengan penampilan bakat anak, lebih baik memakai istilah “Gebyar” atau “Festival” sebagai ajang prestasi anak usia dini. Anak harus mengikuti sesuai dengan bakat dan minatnya.

Dalam festival anak usia dini sebaiknya tidak dibatasi dengan berbagai petunjuk teknis dan kriteria yang bisa membatasi anak dalam bereksplorasi. Berikan kebebasan maksimal pada anak untuk bereksplorasi sehingga akan lebih menumbuhkan kreatifitas anak.

Setelah itu hasil kreativitas anak dipajang pada suatu tempat yang bisa dilihat oleh anak dan publik. Dan mereka dapat menyaksikan pemajangan hasil karyanya. Hal itu bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri pada anak. Dan semua anak yang mengikuti festival adalah pemenang, sehingga semua mendapatkan reward atau hadiah.

Jadi tujuan ajang prestasi anak usia dini yang tepat seharusnya bukan ajang untuk menang kalah tetapi untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.

Ditulis oleh Wahyu Ernawati, S.Pd. AUD*

* Wahyu Ernawati, S.Pd. AUD lahir di Salatiga, 16 Juni 1971. Sekarang aktif mengajar di TK Islam Tarbiyatul Banin 22 Salatiga. Menjadi Juara 1 Guru Berprestasi TK Tingkat Kota Salatiga tahun 2014 dan 2015. Juara 1 lomba penulisan PTK TK Tingkat Kota Salatiga tahun 2017. Juara 1 lomba penulisan artikel TK Tingkat Kota Salatiga. Juara 2 GON (Guru Olimpiade Nasional) Tingkat Kota Salatiga tahun 2018. Juara 3 Lomba Karya Inovasi dan Pembelajaran (INOBEL) Tingkat Kota Salatiga tahun 2019.

Share :

Baca Juga

Opini

Menjaga Silaturahmi Meskipun dari Jauh
shd

Opini

Memaksimalkan Hasil Belajar Siswa SD dengan Media Pembelajaran
gaya belajar

Opini

Pembelajaran Daring Menurut Pandangan Orang Tua Siswa

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Cut Arya Fariyanti  

Opini

Solusi Belajar Online Berbiaya Murah dengan e-Learning

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Henny Suci Herawati

Opini

Mendidik Karakter Anak sejak Dini Menciptakan Akhlak Mulia
https://naikpangkat.com/terbaru-struktur-kurikulum-merdeka/

Opini

Praktik Baik Vuri Putri Yonatin: Cara Asyik Berliterasi