Home / Opini

Rabu, 15 September 2021 - 11:59 WIB

Sulitnya Melaksanakan Pembelajaran Online di Daerah Pedalaman

Saat ini dunia digemparkan oleh wabah virus Corona atau Covid-19, tak terkecuali Indonesia. Pemerintah Indonesia telah mengambil sejumlah kebijakan untuk memutus rantai penularan Covid-19. Kebijakan utamanya adalah memprioritaskan kesehatan dan keselamatan rakyat. Bekerja, beribadah, dan belajar dilakukan dari rumah. Dengan adanya kebijakan pembatasan sosial tersebut berdampak juga pada aktivitas pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Kegiatan pembelajaran yang biasa dilakukan di sekolah yang memungkinkan terjadinya interaksi antara guru dengan peserta didik secara langsung kali ini harus dilakukan secara jarak jauh menggunakan jaringan internet dari rumah masing-masing karena tidak diperbolehkan adanya kegiatan yang menimbulkan kerumunan.

Tidak hanya di kota-kota besar saja yang merasakan dampak tersebut namun di pedesaan juga menerapkan pembelajaran jarak jauh.  Bahkan sampai sekolah yang ada di daerah pedalaman pun harus mengikuti peraturan tersebut demi kesehatan dan keselamatan warga sekolah. Pelaksanaan pembelajaran yang mungkin terbilang baru di Indonesia ini memaksa guru harus secepat mungkin untuk beradaptasi dengan keadaan.

Pelaksanaan pembelajaran secara online merupakan salah satu solusi terbaik untuk meminimalisir interaksi antar individu di sekolah, dan mencegah penyebaran virus Corona tersebut. Agar tidak semakin meluas dan memakan banyak korban.

Secara teori skenario ini terlihat gampang, guru mengajar dari rumah dan peserta didik juga mengikuti pelajaran dari rumah. Yang malas bangun pagi ta harus berangkat pagi-pagi ke sekolah karena semuanya bisa dilakukan dari rumah. Guru dan siswa tinggal membuka smartphone, tablet, laptop untuk bisa mengikuti pelajaran. Tampaknya begitu mudah dan enak.

Kenyataannya tidak semudah dengan apa yang dibayangkan. Pelaksanaan pembelajaran online, khususnya di pedalaman,  ternyata sangat banyak sekali kendala yang harus dihadapi. Ini membuat guru harus berpikir lebih keras lagi guna mengatasi masalah tersebut.

Tentu kita sudah tahu jika penyebaran jaringan internet di Indonesia ini belum merata. Jangankan internet, listrik saja masih belum menjangkau daerah-daerah terluar Indonesia. Itulah kendala utama pembelajaran daring di pedalaman. Belum adanya jaringan internet, banyak guru yang gaptek, banyak peserta didik yang tidak memiliki smartphone atau laptop untuk pembelajaran daring.

Dari sini sudah jelas bahwa di pedalaman tidak bisa melaksanakan pembelajaran secara online atau daring karena perangkat pendukungnya tidak memadai. Sungguh ironis memang, melihat jomplangnya fasilitas antara sekolah di kota dan sekolah yang ada di pedalaman.

Dilema yang dirasakan guru-guru di pedalaman mungkin sama. Tidak bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka karena harus mengikuti peraturan pemerintah namun di sisi lain guru-guru juga tidak bisa melaksanakan pembelajaran secara online karena memang keadaan yang tidak mendukung.

Meskipun ada pengecualian yang menyatakan sekolah bisa melaksanakan tatap muka namun persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah juga tidak mudah dan tidak murah, apalagi bagi sekolah yang ada di pedalaman. Peralatan kesehatan dan perlengkapan yang diwajibkan dari gugus penanganan Covid-19 guna dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka sulit dipenuhi sekolah pedalaman.

Beberapa upaya dilakukan oleh sekolah untuk menyikapi permasalahan tersebut. Yang pertama guru mengunjungi langsung rumah-rumah peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kedua, guru menyuruh orang tua untuk mengambil tugas ataupun materi pelajaran di sekolah. Agar mudah dikondisikan, maka sekolah meminta orang tua saja yang mengambil tugas di sekolah. Itulah solusi yang bisa dilakukan untuk melaksanakan pembelajaran di daerah pedalaman ataupun daerah yang masih belum dijangkau oleh jaringan internet.

Pemerintah telah mengupayakan agar pembelajaran dari rumah bisa berjalan baik dan menarik dengan menghadirkan tayangan-tayangan edukasi di televisi. Melalui tayangan televisi tersebut diharapkan dapat membantu kegiatan belajar peserta didik di rumah.  Semuanya sudah terjadwal sedemikian rupa agar bisa diikuti dengan baik oleh peserta didik.

Tak hanya sampai di situ, pemerintah juga bekerjasama dengan provider telepon seluler memberikan kuota gratis bagi peserta didik dan pendidik agar bisa digunakan untuk pembelajaran online. Namun semua itu seakan percuma bagi guru dan peserta didik yang ada di pedalaman karena belum terjamah oleh jaringan internet dan juga listrik.

Walaupun yang dilakukan belum maksimal namun paling tidak guru-guru bisa melaksanakan kewajibannya sebagai pendidik. Sehingga semua itu menepis seperti apa yang dikatakan orang-orang bahwa guru makan gaji buta, karena tidak melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah selama pandemi.  

Mari kita sikapi pandemi ini dengan bijak, karena tidak ada seorangpun yang menginginkan adanya pandemi ini. Tetap jaga kesehatan, berusaha semaksimal mungkin dan jangan menyerah karena setiap masalah pasti disertai jalan keluar.

Ditulis oleh Mukhammad Catur Pambudi Utomo, S.Pd.I (Guru di SDN 1 MENJALIN)

Share :

Baca Juga

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Hendi Syahmadi
guru senior

Opini

Rindu Mengajar seperti Dulu
Pembelajaran PBL dan PjBL untuk Membekali Siswa Hadapi AKM

Opini

Pembelajaran PSL dan PjBL untuk Membekali Siswa Hadapi AKM
blue background with text overlay

Opini

Media Pembelajaran “KARMILA”  untuk Meningkatkan Hasil Belajar Hitung Bilangan Pecahan

Opini

Potensi Penyalahgunaan Dana BOS 2021 di Tahun Pandemi
mudik lebaran 2021

Opini

Mudik 2021 di Era Pandemi Covid-19, Jadikah Dilema Lagi?

Opini

Tradisi Sifon Menjadi Sebab Penularan Penyakit Kelamin?
bosan di pembelajaran daring

Opini

Mengatasi Problem Orang Tua Siswa dalam Pembelajaran Daring