Home / News

Sabtu, 28 Mei 2022 - 22:56 WIB

Strategi Mengelola Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Kurikulum Merdeka

prinsip pembelajaran kurikulum merdeka

prinsip pembelajaran kurikulum merdeka

Projek Penguatan Profil Pelajar PancasilaProfil Pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya satuan pendidikan, pembelajaran intrakurikuler, projek penguatan Profil Pelajar Pancasila, maupun ekstrakurikuler.

Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab satu pertanyaan besar, yaitu “Pelajar dengan profil (kompetensi) seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia?”.

Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.

Pernyataan ini berkaitan dengan dua hal, yaitu kompetensi untuk menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan untuk menjadi manusia unggul dan produktif di Abad ke-21.

Dalam hal ini, peserta didik Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.

Sekilas Tentang Projek Profil Pancasila

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya.

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis projek (project-based learning), yang berbeda dengan pembelajaran berbasis projek dalam program intrakurikuler di dalam kelas.

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar dalam situasi tidak formal, struktur belajar yang fleksibel, kegiatan belajar yang lebih interaktif, dan juga terlibat langsung dengan lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila.

Prinsip-prinsip Kunci Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila memberikan ruang bagi semua anggota komunitas satuan pendidikan untuk dapat mempraktikkan dan mengamalkan Profil Pelajar Pancasila.

1. Holistik

Holistik bermakna memandang sesuatu secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial atau terpisah-pisah. Dalam konteks perancangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, kerangka berpikir holistik mendorong kita untuk menelaah sebuah tema secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sebuah isu secara mendalam.

Oleh karenanya, setiap tema projek yang dijalankan bukan merupakan sebuah wadah tematik yang menghimpun beragam mata pelajaran, namun lebih kepada wadah untuk meleburkan beragam perspektif dan konten pengetahuan secara terpadu.

2. Kontekstual

Prinsip kontekstual berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian.

Prinsip ini mendorong pendidik dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran.

Oleh karenanya, satuan pendidikan sebagai penyelenggara kegiatan projek harus membuka ruang dan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat mengeksplorasi berbagai hal di luar lingkup satuan pendidikan.

3. Berpusat pada peserta didik

Prinsip berpusat pada peserta didik berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri.

Pendidik diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi.

Sebaliknya, pendidik sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri.

4. Eksploratif

Prinsip eksploratif berkaitan dengan semangat untuk membuka ruang yang lebar bagi proses inkuiri dan pengembangan diri. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tidak berada dalam struktur intrakurikuler yang terkait dengan berbagai skema formal pengaturan mata pelajaran.

Oleh karenanya, projek ini memiliki area eksplorasi yang luas dari segi jangkauan materi pelajaran, alokasi waktu, dan penyesuaian dengan tujuan pembelajaran.

Namun demikian, diharapkan pada perencanaan dan pelaksanaannya, pendidik tetap dapat merancang kegiatan projek secara sistematis dan terstruktur agar dapat memudahkan pelaksanaannya.

Mengelola Projek

Projek adalah serangkaian kegiatan untuk mencapai sebuah tujuan tertentu dengan cara menelaah suatu tema menantang.

Projek didesain agar peserta didik dapat melakukan investigasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Peserta didik bekerja dalam periode waktu yang telah dijadwalkan untuk menghasilkan produk dan/atau aksi.

1. Mengawali kegiatan projek

Tujuannya adalah membuat peserta didik terlibat dalam kegiatan belajar sejak  awal projek digulirkan. Sebagai fasilitator pembelajaran, pendidik dapat memulai pelaksanaan projek dengan mengajak peserta didik melihat situasi nyata yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari  (menghadirkan situasi nyata di kelas).

Mengawali kegiatan projek dengan realitas faktual dalam keseharian dapat memancing perhatian dan keterlibatan peserta didik sejak pertama kali projek digulirkan. Adapun strategi mengawali kegiatan projek adalah:

  • Memulai dengan pertanyaan pemantik

Pertanyaan pemantik dalam kegiatan projek adalah pertanyaan yang dapat memancing ketertarikan dan rasa ingin tahu peserta didik.

Pertanyaan ini mendorong peserta didik untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut atau melakukan proses inkuiri untuk menjawabnya. Oleh karenanya, pertanyaan ini harus berjenis pertanyaan terbuka (open-ended question) yang jawabannya tidak tersedia di dalam buku atau internet.

  • Mulai dengan permasalahan autentik
Baca Juga:  Profil Pelajar Pancasila di PAUD: Belajar dan Bermain

Permasalahan autentik adalah permasalahan nyata yang dialami oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pendidik dapat menyajikan permasalahan tersebut ke dalam kelas melalui paparan informasi dari berbagai media, mengundang narasumber, atau mengajak peserta didik langsung mengamatinya di lapangan.

2. Mengoptimalkan Pelaksanaan Projek

Tujuannya dalah untuk membantu peserta didik terlibat secara optimal sepanjang kegiatan projek berlangsung. Dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, peserta didik, pendidik, dan satuan pendidikan harus sama-sama memiliki ruang dan kesempatan yang cukup untuk mengembangkan diri sesuai dengan semangat merdeka belajar.

Hal ini menjadi prasyarat bagi upaya pengembangan  projek yang berkelanjutan. Adapun strategi dalam mengoptimalkan pelaksaan projek adalah sebagai berikut.

  • Mendorong keterlibatan belajar peserta didik

Kunci dari implementasi kegiatan projek adalah keterlibatan belajar peserta didik (student engagement) dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, pendidik sebagai fasilitator pembelajaran perlu terus berkreasi untuk meningkatkan partisipasi belajar seluruh peserta didik dalam serangkaian kegiatan yang sedang dilaksanakan.

Beberapa hal dapat diupayakan pendidik untuk mendorong partisipasi peserta didik yang mengarah pada peningkatan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran.

  • Menyediakan ruang dan kesempatan untuk berkembang

Satuan pendidikan perlu melihat bahwa setiap upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan projek adalah proses belajar yang memerlukan waktu panjang untuk mencapai keberhasilan. Peserta didik, pendidik, dan bahkan satuan pendidikan dapat berkembang secara bertahap sesuai dengan tahapan belajarnya.

Untuk mengoptimalkan hal tersebut, setiap pihak harus dapat saling mengomunikasikan pendapatnya dan memberikan umpan balik yang berkesinambungan dalam sebuah dialog yang reflektif.

Dalam konteks tersebut, pemberian ruang dan kesempatan harus dilengkapi dengan dukungan agar setiap individu dapat memberikan suara dan menentukan pilihan bagi setiap tantangan yang dihadapinya.

  • Membudayakan nilai kerja yang positif

Budaya yang positif di satuan pendidikan mewujud dalam sikap pembelajar pada aktivitas sehari-hari. Ketika misalnya terdapat pandangan bahwa melakukan kesalahan yang tidak disengaja bukanlah sesuatu hal yang buruk, maka peserta didik tentu saja tidak akan segan untuk bisa selalu mencoba.

Sebagai bentuk dari sebuah nilai, kemampuan yang diharapkan muncul dalam diri setiap pembelajar tidak dihadirkan sebagai sebuah instruksi, namun sebagai sebuah pembiasaan yang rutin dilakukan dalam keseharian.

Membudayakan nilai bukanlah sebuah upaya yang bisa dilakukan secara instan, sehingga diperlukan konsistensi dan komitmen untuk dapat membangunnya secara berkelanjutan.

  • Membudayakan nilai kerja yang positif

Optimalisasi pelaksanaan projek secara teknis berkaitan dengan kemampuan pendidik dan satuan pendidikan untuk dapat mengelola berjalannya rangkaian kegiatan projek secara efektif dan efisien.

Setidaknya kita dapat melihat efektivitas tersebut dalam tiga hal: alur kegiatan, alokasi waktu, dan kolaborasi tim pengajar.

3. Menutup rangkaian kegiatan projek

Tujuannya adalah untuk mengakhiri projek dengan kegiatan yang optimal. Kegiatan projek yang sudah berjalan melalui berbagai  rangkaian aktivitas perlu diakhiri dengan sesuatu yang tidak  kalah bermakna.

Dalam hal ini setidaknya terdapat dua kegiatan yang dapat diupayakan pendidik sebagai fasilitator pembelajaran untuk mendorong peserta didik menggenapkan beragam hal yang telah dipelajarinya, yakni merancang perayaan belajar dan melakukan refleksi tindak lanjut.

Strateginya adalah dengan merancang perayaan belajar. Perayaan belajar adalah kegiatan di mana peserta didik dapat menampilkan proses atau produk hasil belajarnya dalam sebuah acara yang melibatkan berbagai pihak sebagai partisipan.

Pihak tersebut dimulai dari orang tua dan keluarga lainnya, pendidik-pendidik dan staf satuan pendidikan, hingga masyarakat umum atas nama individu, instansi, atau komunitas tertentu.

Perayaan belajar umumnya berupa kegiatan pertunjukan atau pameran di mana peserta didik dapat membagikan pengalaman belajarnya kepada orang lain. Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi bagi peserta didik atas upaya yang telah dilakukannya selama melaksanakan projek.

Perayaan belajar adalah acara yang dimiliki oleh peserta didik, bukan pendidik. Dalam hal ini pendidik berperan sebagai mentor yang mendampingi peserta didik selama proses pelaksanaannya.

Selain itu pendidik juga dapat meyakinkan peserta didik jika perayaan belajar adalah ajang untuk saling mengapresiasi, bukan saling mengevaluasi dan melakukan penilaian.

Oleh karenanya, kegiatan ini sebisa mungkin dapat dilakukan dengan perasaan sukacita sehingga Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dapat terus dilaksanakan secara maksimal. (mfs)

Segera daftarkan diri Anda dalam Diklat bersertifkat 64 JP “Penyusunan Raport Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila” yang akan dilaksanakan mulai tanggal 8-13 Juni 2022, pukul 13.30 WIB melalui Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube. Ayo daftar sekarang juga sebelum kuota penuh!

Klik di sini untuk mendaftar diklat

 

Share :

Baca Juga

News

7 Tren Pendidikan yang Berlanjut di Tahun 2022
tunjangan honorer

News

Kemendikbud Berhentikan TPG, Berikut ini Penyebabnya

News

Kemendikbud Menyelenggarakan Apresiasi GTK Inspiratif Tahun 2022 : Semua Guru Bisa Mendaftar!

News

Segera Daftar! Pelatihan 32JP : Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Memenuhi Kebutuhan Murid dalam Merdeka Belajar

News

Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045, Peran Penting Guru untuk Mewujudkannya

News

Cara Mendapat Tunjangan bagi Guru Honorer dan Cara Memperoleh NUPTK

News

Resmi! Jokowi Cairkan THR PNS dan Gaji ke-13 beserta Tukin 50 persen

News

Meningkatkan Soft Skill Guru dengan Pelatihan Bersertifikat 32 JP!