Home / News

Minggu, 22 Mei 2022 - 19:13 WIB

Sekolah Inklusi untuk Anak Berkebutuhan Khusus: Tanggapan Terhadap Tantangan Kedepannya

Penyelenggaraan sekolah inklusi di Indonesia, dilatarbelakangi oleh hak anak untuk memperoleh pendidikan. Setiap makhluk mempunyai kebutuhan. Sebagai makhluk Tuhan yang dianggap mempunyai derajat tertinggi di antara makhluk lainnya, manusia mempunyai kebutuhan yang paling banyak dan kompleks.

Untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya, anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya. Anak luar biasa disini bukan saja mereka yang memiliki kelainan fisik, sosial, emosional, dan intelektual saja, melainkan mereka yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa juga berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.


Anak berkebutuhan khusus merupakan istilah lain untuk mengartikan Anak Luar Biasa (ALB) yaitu anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya, perbedaan tersebut terletak pada fisik, mental, intelektual, sosial, dan emosional, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

  1. Keuntungan Penyelenggaraan Sekolah Inklusi

            Terlepas dari kenyataan bahwa model inklusi merupakan sekolah yang konsisten dengan gagasan keadilan sosial yang mendukung prinsip normalitas, ada banyak keuntungan yang diperoleh dari sekolah inklusi ini. Sekolah inklusi dianggap dapat memberi berbagai manfaat baik masyarakat umum maupun bagi anak luar biasa sendiri. Masyarakat akan mulai mau menerima keberadaan anak luar biasa. Selain itu di sekolah inklusi juga memungkinkan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak normal, dan diperlakukan selayaknya anak normal.

                Hal tersebut berdampak pada psikologis anak berkebutuhan khusus, yaitu memberikan kesempatan bagi perkembangan kepercayaan diri anak berkebutuhan khusus (self esteem). Self esteem merupakan bagian dari self concept atau konsep diri. Self esteem adalah perasaan seseorang tentang ketidaksesuaian antara dirinya dan ingin menjadi apa nantinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa self esteem adalah penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri baik itu kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Anak yang memiliki self esteem yang tinggi umumnya merasa dirinya berharga, sehingga mereka dapat menghargai dirinya sendiri,tetapi tetap bisa menerima kekurangan yang ada pada dirinya.

            Self esteem dapat dibangun dengan cara rasa penerimaan orang-orang di sekitar terhadap keberadaan dirinya. Anak yang diterima oleh orang-orang di sekitarnya memiliki pandangan yang positif terhadap dirinya sendiri dan merasa lebih dihormati, sehingga mampu mengembangkan potensi diriserta mencapai keberhasilan berdasarkan kekuatannya(Wilson, Ellerbee, dan Christian, 2011, Watkins 2005). Interaksi sosial memberikan kesempatan anak berkebutuhan khusus bagaimana berinteraksi dengan orang yang berbeda dengan diri mereka.

            Kompetensi sosial dikembangkan dengan cara anak berkebutuhan khusus belajar berinteraksi dengan orang yang normal. Peserta didik ditunjukkan situasi hidup yang nyata di dalam kelas (Wilson, Ellerbee, dan Christian, 2011). Interaksi sosial mengajarkan peserta didik untuk meniru strategi, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, memperoleh kecakapan hidup yang lebih baik, dan mengurangi perilaku yang meledak-ledak (Irvine dan Lupart, 2006).

Baca Juga:  Meniti Jalan Menjadi Guru: Medi Aminah 

            Disamping manfaat yang diperoleh dari sekolah inklusi bagi anak berkebutuhan khusus, ada tantangan yang perlu dihadapi dari penyelenggaran sekolah inklusi secara penuh. Tantangan tersebut berasal dari dalam maupun dari luar sekolah.

  • Perasaan guru akan kurangnya kompetensi

            Ward (1987) berpendapat bahwa penolakan dari guru dan lemahnya dukungan terhadap anak berkebutuhan khusus disebabkan karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang anak dengan kebutuhan khusus. Latar belakang pendidikan yang tidak memberikan bekal kepada guru tentang anak berkebutuhan khusus menjadi penyebab guru di sekolah regular menolak adanya kebijakan sekolah inklusi.

Guru menganggap diri mereka tidak memiliki keterampilan untuk mengajar siswa dengan berbagai kebutuhan khusus, namun kebijakan telah menuntut mereka untuk menerima keberadaan anak berkebutuhan khusus di kelas mereka. Hal ini akan berpengaruh terhadap penerimaan guru dan perlakuan guru.

Sikap yang ditunjukkan guru tersebut akan mempengaruhi penerimaan anak berkebutuhan khusus oleh teman-temannya (Paris, 2000). Dengan demikian komitmen guru di sekolah inklusi menjadi salah satu faktor yang paling penting dalam keberhasilan atau kegagalan program inklusif.

  • Keterbatasan sarana dan prasarana

                Penyelenggaran sekolah inklusi memang membutuhkan sarana dan prasarana yang banyak, karena sekolah inklusi harus mampu mengakomodasi semua kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Misalnya kelas untuk bimbingan khusus, jalan khusus anak tuna daksa, alat bantu pendengaran untuk anak tuna rungu, buku braile untuk anak tuna netra, dan sebagainya (Yusraini, 2013). Keterbatasan sarana dan prasarana berdampak pada kurangnya pelayanan yang diberikan sekolah bagi anak dengan kebutuhan khusus. Masalah utama minimnya sarana dan prasarana yang dimiliki adalah faktor biaya.

  • Perlunya kolaborasi

            Banyak guru atau dokter khusus untuk mengangani anak berkebutuhan khusus, sehingga menimbulkan pertanyaan bagimana guru berkolaborasi dengan yang lain? Guru dikenal karena memiliki kemampuan untuk mengontrol kelas mereka sendiri. Kehadiran atau keberadaan guru lain di dalam kelas merupakan masalah baru bagi beberapa guru (Chandler, 2000). Beberapa guru tidak mau menghabiskan waktu untuk berkolaborasi dalam mengembangkan program inklusi, ketidak cocokan antara guru kelas dan guru pendamping berdampak pada pelayanan yang diberikan.

  • Beban administrasi dan modifikasi kurikulum
Baca Juga:  Menjadi Guru yang Dirindukan

                Seorang guru hendaknya mengetahui program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Pola pembelajarannya harus disesuaikan dengan anak berkebutuhan khusus, biasa disebut dengan Individualized Educational Program (IEP) atau Program Pembelajaran Individual (PPI), perbedaan karateristik yang dimiliki anak berkebutuhan khusus membuat pendidik harus memiliki kemampuan khusus.

            Pada kenyataannya hasil monitoring sekolah inklusi yang dilakukan oleh Direktorat PSLB menemukan bahwa sebagian besar guru sekolah inklusi mengalami kesulitan dalam memodifikasi kurikulum dan melakukan asesmen akademik dan non akademik (Sutji Harijanto, 2011). Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap pelayanan anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi.

            Selain itu, guru juga masih terbebani dengan adanya tuntutan administrasi dari sekolah. Tuntutan aadministrasi sekolah yang berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus antara lain, beban pengumpulan data yang diperlukan untuk prosedur penilaian fungsional, administrasi untuk pendanaan, laporan untuk guru khusus, dan laporan pelayanan yang diberikan (Folin, 1997). Beban yang dirasakan itulah yang menyebabkan ketidaksanggupan guru untuk memasukkan siswa berkebutuhan khusus di kelas mereka.

  • Rendahnya kesadaran orang tua dan masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus.

            Orang tua dari anak berkebutuhan khusus memiliki peranan yang besar, baik dalam pengambilan keputusan untuk pendidikan sampai pada dukungan kepada anak. Dukungan orang tua adalah keterlibatan orang tua dalam berbagai bentuk termasuk mengasuh di dalam rumah, menciptakan situasi yang aman dan stabil, dan model pengasuhan yang tepat. Seorang anak berkebutuhan khusus dapat mencapai potensiny secara maksimal apabila mendapat dukungan penuh dari orang tuanya. Dukungan dari ibu dapat memunculkan perasaan berharga pada anak, sementara dukungan dari ayah dapat mengembangkan kompetensi anak (Danielsen, 2009).

                Selain orang tua tokoh penting yang mempengaruhi perkembangan anak berkebutuhan khusus adalah masyarakat. Penerimaan orang tua dan masyarakat terhadap kondisi anak akan mempengaruhi sikap mereka kepada anak. linggkungan yang mampu menerima ketunaan anaknya, akan berusaha mencari jalan untuk mengurangi pengaruh ketunaan tersebut dan mendorong pembelajaran anak semaksimal mungkin. Sebaliknya lingkungan yang belum bisa menerima kondisi anak akan cenderung merasa malu dan kurang terbuka terhadap perkembangan anak.

Bergabunglah bersama dengan menjadi member e-Guru.id untuk meningkatkan skill dan pengetahuan Anda agar menjadi pendidik yang hebat dan dapatkan berbagai macam pelatihan gratis dan bonus lainnya. Daftarkan diri Anda sekarang juga!

10. Pelatihan Ice Breaking Seru, No Boring dan Anti Garing Agar Pembelajaran #4 - 2

Penulis: WDS

Share :

Baca Juga

News

Resmi, Siswa SMP dan SMA Bisa Lulus Hanya Dalam Waktu 2 Tahun di Kurikulum 2022

Karya Inovatif

Inilah Contoh Jenis Karya Inovatif untuk Syarat Kenaikan Pangkat Guru

News

100% GRATIS! Seminar Nasional Bersertifikat : Pemanfaatan Rapor Pendidikan dalam Evaluasi Kualitas Mutu Sekolah

News

Cara Mendownload Sertifikat dan Fasilitas Diklat Gratis 40 JP : Meningkatkan Kompetensi Guru Menyongsong Kurikulum Paradigma Baru

News

Syarat Dapat Memilih Formasi PPPK Guru Tahap 3 Tahun 2022, Cek Segera !
http://bit.ly/Daftar-Member-Semester

News

Download Materi Pertemuan Kedua: Implementasi Platform Merdeka Mengajar untuk Mewujudkan Merdeka Belajar

News

Download Materi ke-4 : Diklat Nasional E-Guru.Id “Menguatkan Kompetensi Guru Menyongsong Kurikulum Paradigma Baru”
penggunaan google form untuk pembelajaran

News

Penyusunan Bahan Ajar dan Manfaatnya