Home / Opini

Rabu, 14 September 2022 - 05:16 WIB

Praktik Baik Vuri Putri Yonatin: Cara Asyik Berliterasi

Oleh Vuri Putri Yonatin, S.Pd. 

Guru di SD Negeri Banjarharjo

 

 

Peserta didik memerlukan sejumlah keterampilan agar mampu bertahan di abad XXI, di antaranya yakni literasi dasar yang berfungsi agar bagaimana peserta didik mampu menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari. Kemampuan literasi peserta didik berpengaruh terhadap kemampuan mereka menyelesaikan masalah di dalam kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal mereka dalam mempersiapkan diri menghadapi persaingan di era global. Akan tetapi pada kenyataannya kemampuan literasi peserta didik di Indonesia masih rendah.

Penilaian literasi Indonesia berdasarkan hasil hasil survei terbaru PISA, berada pada peringkat 64 dari 65 negara peserta. Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi peserta didik di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan oleh pemerintah. Literasi belum menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia, begitu pula bagi peserta didik di  sekolah. 

Membudayakan literasi pada peserta didik di sekolah tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak tantangan dan halangan dalam membudayakan literasi agar peserta didik gemar berliterasi. Menurut Yuliyati (2014), banyak faktor yang diduga mempengaruhi keberhasilan kegiatan literasi di antaranya faktor internal dan eksternal salah satunya yaitu siswa dan guru sebagai pelaku pendidikan 

Kegiatan literasi yang dilakukan pada umumnya masih monoton dan membosankan sehingga membuat peserta didik tidak antusias. Dalam hal ini kemampuan guru untuk menciptakan inovasi dalam kegiatan literasi sangat dibutuhkan. Inovasi yang dilakukan guru akan membuat kegiatan literasi menjadi menyenangkan dan menarik minat peserta didik sehingga kebiasaan peserta didik dalam berliterasi meningkat. 

Contohnya di Kelas 6 SD Negeri Banjarharjo, Kulon Progo, kegiatan literasi dilakukan dengan menerapkan Fun Literacy Activity (FLA). Program ini merupakan aktivitas pengembangan literasi yang disajikan dalam bentuk permainan yang menyenangkan dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Prinsip kegiatan FLA yaitu menyajikan konsep literasi dari materi pembelajaran, belajar sambil bermain, kegiatannya berpusat pada siswa, dan bersifat fleksibel.

Kegiatan FLA ini didapatkan sebagai implementasi kegiatan POP SLI dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kulon Progo yang bekerjasama dengan Dompet Dhuafa, di mana SDN Banjarharjo sebagai salah satu sekolah sasaran. Salah satu permainan yang digunakan dalam literasi di kelas adalah TOMEDO (Topeng Media Dongeng). 

Baca Juga:  Lulus PG Belum Menjamin Diangkat PPPK

TOMEDO adalah media bercerita menggunakan karakter yang dibuat sendiri oleh anak. Media ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan melatih imajinasi anak dalam memainkan peran. Peserta didik membuat topeng karakter sesuai dengan tema yang ditentukan. Tema yang dipilih bisa disesuaikan dengan materi pembelajaran yang sedang dipelajari peserta didik di kelas. Setelah menentukan karakter, peserta didik diminta untuk membuat cerita yang nantinya akan dipresentasikan di depan kelas. 

FLA dengan TOMEDO mampu meningkatkan keterampilan peserta didik dalam menulis dan berbicara. Selain itu, TOMEDO dapat melatih peserta didik agar dapat mengomunikasikan dan mengartikulasikan gagasannya secara verbal di depan teman-temannya. Dan dengan praktik mendongeng menggunakan topeng, dapat membantu peserta didik mengatasi rasa malu dan tidak percaya diri saat berbicara di dalam kelas. 

Dari pembiasaan kegiatan literasi dengan TOMEDO, peserta didik kelas 6 SD Negeri Banjarharjo menjadi lebih rajin membaca buku. Saat dilakukan wawancara terhadap beberapa peserta didik, alasan mereka rajin membaca agar mendapatkan lebih banyak inspirasi saat membuat dongeng. Tentu saja hal ini menjadi angin segar bagi guru, bahwa inovasi dalam kegiatan literasi yang menyenangkan memberikan efek  signifikan. 

TOMEDO adalah satu dari sekian banyak permainan yang dapat diaplikasikan sebagai kegiatan literasi yang menyenangkan di kelas. Guru dapat mempraktikkan permainan-permainan lain dalam kegiatan literasi. Kegiatan literasi yang menyenangkan dan ramah anak akan meningkatkan budaya literasi di sekolah. (*)

 

NOTE: Tulisan ini juga dipublikasikan dalam format buku antologi “Praktik Baik”—yang berisi kisah dan pengalaman terbaik para guru dalam mengatasi masalah yang dihadapi dalam proses mendidik siswa

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

 

Share :

Baca Juga

Opini

Aplikasi AZ Screen, Media Alternatif untuk Pembelajaran Matematika secara Online
pembelajaran online

Opini

Sisi Positif Pembelajaran Online bagi Wali Murid

Opini

Penerapan Metode PjBL pada Mata Pelajaran PKK secara Online
pendidikan karakter

Opini

Membangun Karakter Positif sejak Usia Dini
https://naikpangkat.com/materi-pertemuan-ketiga-pelatihan-penilaian-interaktif-dan-koreksi-jawaban-ujian-secara-mudah-gratis-32jp--scanning-jawaban-ujian-tatap-muka-dengan-zipgrade/

Opini

Pembelajaran Kolaboratif pada Era Revolusi 4.0
pembelajaran di masa pandemi

Opini

Pembelajaran di Masa Pandemi yang Menguras Emosi dan Energi

Opini

Dongeng Orang Tua untuk Anak
guru

Opini

Integritas Guru di Masa Pandemi