Home / Opini

Jumat, 16 September 2022 - 10:54 WIB

Praktik Baik Sri Susilawati: Tamparan untuk Mengantar Siswa Meraih Cita-Cita

Oleh Sri Susilawati, S.Pd

 

 

Pagi itu, seperti biasa bel tanda masuk kelas berbunyi pada pukul 07.15.  Kebetulan hari itu guru yang bertugas piket adalah saya sendiri. Kegiatan dimulai dengan membariskan siswa, membaca al Quran surat-surat pendek, sampai akhirnya masuk dalam kelas masing-masing.

Ketika semua siswa kelas VI B sudah masuk,  saya heran ada siswa yang tidak ada. Namanya Imam, padahal saat baris di lapangan siswa tersebut ada. Awalnya saya berpikir bahwa siswa tersebut  sedang ke toilet. Tapi setelah selesai jam pelajaran pertama, siswa itu belum kembali juga. Guru bidang studi melaporkan pada saya bahwa ada siswa yang bolos saat pelajarannya.

Akhirnya saya mencari tahu keberadaan siswa tersebut. Belum juga rasa cemas itu hilang, tiba-tiba anak yang saya cari itu sudah ada dalam kelas. Saya diam dan mencoba tetap tersenyum padanya seperti tidak ada kejadian apa-apa.

Saat jam istirahat tiba, saya memperhatikan Imam mengeluarkan uang Rp.50 000,- dari dalam sakunya dan dia mengajak beberapa temannya untuk pergi ke kantin sekolah. Saya pikir biasalah mereka jajan bersama, tapi tidak biasa ada siswa yang membawa uang saku secara berlebihan. 

Keesokan harinya, hal yang sama terjadi kembali. Imam saat jam pertama tidak masuk. Kali ini saya yang mengajar di kelasnya dan ketika saya bertanya pada temannya, mereka bilang Imam sedang ke toilet. Sepuluh menit berlalu, Imam tidak kunjung datang. Saya minta tolong Satpam agar memantau Imam saat nanti masuk dari gerbang depan sekolah.Ternyata Imam kembali saat jam istirahat. Saya  sengaja menunggunya dalam kelas. Dan ketika saya tanya, dia pikir saya tidak tahu kalau dia bolos dari sekolah.

Baca Juga:  Pentingnya Penggunaan Digital Marketing Dalam Pembelajaran Online

Pada hari berikutnya, saya tidak piket.  Tapi sengaja ingin mengikuti ke mana Imam pergi dengan membawa uang saku yang lumayan banyak untuk anak seusianya. Dengan sigap Imam berjalan setengah berlari menghindari guru depan kelas, hingga dia berhasil lolos melewati gerbang sekolah. Dia tidak tahu kalau saya dan Satpam sudah punya rencana akan mengikuti ke mana dia pergi. 

Pak Satpam mengikutinya dari arah belakang. Akhirnya kami melihat Imam berhenti pas di depan penjual tiket laga ikan hias. Dia ikut main taruhan laga ikan hias tersebut. Dengan ringannya dia mengeluarkan uang selembar senilai Rp,50.000,-. Tanpa sadar tangan saya menariknya dan satu tamparan mendarat tepat  di pipinya sebelah kanan. Dengan dibonceng sepeda motor, kami bawa Imam ke sekolah lagi.

Saya mencari tahu dengan menghubungi orang tua Imam, apakah ada memberi uang saku sebanyak itu tiap hari. Dan ternyata tidak pernah.

Saya menunggu waktu yang tepat untuk bicara pada Imam. Sebagai pembina pramuka sekaligus wali kelasnya, saya menyadari bahwa Imam harus segera dibina. Akhirnya ketika ekskul pramuka, saya menyuruh anak-anak membacakan Dasa Dharma. Satu per satu mereka membacakan dan Imam membaca Dasa Dharma yang ke-10 yang berbunyi: “Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.”

Baca Juga:  Meniti Jalan Menjadi Guru: Arifah Pratikayani

Saya memperhatikan dengan seksama saat Imam mengucapkan Dasa Dharma tersebut dengan terbata-bata. Sengaja saya suruh mengulangi beberapa kali pada poin tersebut. Tapi Imam tidak mampu. Sambil menundukkan kepala, Imam mengakui semua perbuatannya dan meminta maaf. Kemudian setelah itu ia tak pernah mengulangi perbuatan buruknya tersebut. 

Sekian tahun berlalu, pada saat ulang tahun saya yang mungkin tidak diingat oleh semua orang, tiba-tiba ada yang mencari saya dan ingin berjumpa dengan saya. Ternyata dia adalah Imam. Ia berdiri di hadapan saya, gagah sekali dengan seragam TNI. Ia tersenyum dan menyalami  tangan saya sambil berkata, ”Terimakasih, atas tamparan yang sudah Bunda berikan karena itu yang membuat saya sadar bahwa saya punya cita-cita.”

Tidak terasa 8 tahun peristiwa itu sudah berlalu, saya sendiri nyaris melupakannya namun Imam masih mengingatnya. Tangan gurunya ini bukan hanya membimbingnya menulis dan membaca, tapi juga yang menamparnya di saat dia melakukan kesalahan. Hingga akhirnya membuatnya sukses meraih cita-cita. (*)

NOTE: Tulisan ini juga dipublikasikan dalam format buku antologi “Praktik Baik”—yang berisi kisah dan pengalaman terbaik para guru dalam mengatasi masalah yang dihadapi dalam proses mendidik siswa

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

Share :

Baca Juga

bosan belajar online

Opini

Cara Mengatasi Bosan Belajar Online

Opini

WhatsApp untuk Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Covid-19
light city building bridge

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru: Nia Kurniati

Opini

Berbakti dan Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua

Opini

3 Tahap dalam Mendidik Anak sesuai Usia

Opini

Peranan Guru dan Orang Tua dalam Menanamkan Karakter pada Peserta Didik di Masa Pandemi Covid-19

Opini

Menelisik Kurikulum Merdeka

Opini

Kunci Keberhasilan Pelaksanaan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19