Home / Opini

Sabtu, 17 September 2022 - 04:03 WIB

Praktik Baik A.P. Eka Wahyu Suryadi: Mencegah Siswa yang Hampir Putus Asa

Oleh Antonius Padua Eka Wahyu Suryadi, S.Pd. 

Guru di SDN Jomblang 03

 

 

Tahun 2021, pademi Covid-19 mulai hilang dan pembelajaran di kelas sudah mulai normal meskipun masih sangat dibatasi untuk pembelajaran di dalam kelas. Di masa pemulihan itu, di SDN Jomblang 03 melaksanakan pembelajaran tatap muka satu hari selama 3 jam saja mulai pukul 07.30 sampai 10.30, selebihnya belajar daring.

Di kelas saya, ada siswa bernama Satria dari keluarga kuat ekonominya. Selama hampir 2 tahun terakhir,  anak ini malas untuk sekolah dengan alasan masih pandemi dan sejumlah alasan lain yang tidak jelas. Ironisnya, anak ini tidak bisa membedakan huruf dan cara menulisnya pun terbalik. Singkat kata, anak ini belum bisa baca tulis.  

Pada suatu hari, saya masuk kelas dan saya bacakan daftar hadir anak-anak. Ternyata ada beberapa siswa yang belum masuk, termasuk Satria. 

Kemudian saya mencoba mencari dengan cara mengunjungi di rumahnya sampai berkali-kali. Saya berusaha melakukan pendekatan dengan orang tuanya dan memberi pegertian tentang pentingnya sekolah. 

Orang tua Satria sebenarnya juga mulai putus asa karena malu karena anaknya tidak bisa baca tulis. Saya lantas menjelaskan supaya anaknya tetap masuk sekolah, nanti kami para guru yang akan membimbingnya. Kebetulan  guru kelasnya adalah saya.  

Akhirnya anak itu mau dan keesokan harinya mulai suka sekolah. Setiap pagi, ia diantar orang tua ke sekolah dan saat pulangnya pun dijemput karena masih suka marah dan belum sepenuhnya menyadari pentingnya sekolah untuk masa depannya.  

Baca Juga:  Penyembelihan Ayam yang Halal sesuai Syariat Islam

Walau belum bisa baca tulis dengan lancar, saya berusaha terus memberi motivasi dan harus diberikan perhatian lebih. Saya mencoba memberi pelajaran khusus baca dengan mengeja untuknya agar tidak takut berangkat ke sekolah. 

Masih di tahun 2021, tepatnya di bulan Mei ada beberapa mahasiswa yang ditugaskan di SDN Jomblang 03 untuk mengajar sebagai salah satu implementasi program Kampus Merdeka. Mereka membantu proses belajar mengajar di sekolah kami terutama dalam bidang literasi. 

Kampus Mengajar merupakan salah satu program dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kampus Mengajar ini adalah sebuah program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa selama 1 (satu) semester untuk membantu para guru dan Kepala Sekolah SDN Jomblang 03 dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang terdampak pandemi. Tugas mereka membantu mengajar membaca, menulis, dan berhitung. 

Program Kampus Mengajar juga memiliki tujuan untuk memberikan solusi kepada Kepala Sekolah terkait masalah-masalah yang dihadapi dalam pembelajaran. Dan yang paling menarik adalah para mahasiswa tersebut mampu membuat media pembelajaran yang menarik sehingga siswa senang dengan suasana baru yang dihadirkan.

Daftar mahasiswa yang terlibat dalam pembelajaran di sekolah kami di antarany adalah Haris Damar Bintang, Dara Ayu Prasetyani, Nisfi Dwi Fauziah, Rafa Maritza, dan Zulfa Novia Ningrum. Sementara yang menjadi pamong untuk para mahasiswa tersebut adalah Sarjana S.Pd., A.P. Eka Wahyu S., S.Pd., Theresia Startya N. S.Pd., Sutopo Irianto S.Pd., dan Sujayanti Utami, S.Pd.

Satria langsung belajar kursus membaca dan menulis dengan bermacam-macam cara dengan dibantu beberapa mahasiswa  dengan tetap saya pantau. Selain itu, juga ada pembelajaran keterampilan untuk anak-anak. Mereka diajari oleh para mahasiswa cara membuat eskrim yang merupakan jajanan kesukaan mereka. Anak-anak tampak bersemangat termasuk Satria dan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. 

Baca Juga:  Apakah Anda Setuju? Inilah Masalah Pendidikan di Indonesia yang Harus Dibenahi 

Setelah beberapa bulan, teman-teman mahasiswa meninggalkan kami,  banyak anak-anak yang kecewa termasuk Satria karena merasa belum tuntas belajarnya. Maka setelah itu, mereka kembali belajar dengan  saya dan saya pantau terus. 

Sementara itu, Satria kini mulai tampak kemampuan membaca dan menulisnya. Meski demikian, Satria terus saya latih untuk membaca kata per kata dan cara menuliskannya dengan benar. Setelah membaca per kata  berlanjut ke per kalimat. Metode lain yang saya gunakan menggunakan model kartu A sampai Z dan mengasilkan yang luar biasa. Dan saya tidak berhenti memberi motivasi kepadanya agar terus belajar dan saya arahkan untuk tambahan pelajaran setiap sore hari,

Dengan semangat dan perjuangannya, Satria sekarang bisa naik kelas 4 dengan bisa lancar baca tulis  secara mandiri dan saya bangga dibuatnya. (*)

 

NOTE: Tulisan ini juga dipublikasikan dalam format buku antologi “Praktik Baik”—yang berisi kisah dan pengalaman terbaik para guru dalam mengatasi masalah yang dihadapi dalam proses mendidik siswa. 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

Share :

Baca Juga

pendidikan karakter

Opini

Dilema Penilaian Akhir Tahun di Masa Pandemi, Haruskah Semua Siswa Naik Kelas?

Opini

Menjadi Guru yang Ramah di Sekolah dan di Rumah

Opini

ANBK: Jalan Menuju Peningkatan Mutu Pendidikan

Opini

Pembelajaran Daring Masa Pandemi di Kota Tegal
https://naikpangkat.com/cara-mudah-membuat-brosur-ppdb-online-bagi-pemula/

Opini

Google Classroom Solusi Tepat Pembelajaran Jarak Jauh
pendidikan karakter

Opini

Menyongsong Pembelajaran Tatap Muka di Era New Normal

Opini

7 Tips untuk Orang Tua agar Anak Semangat dan Nyaman Belajar Online

Opini

Berbakti dan Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua