Home / Opini

Kamis, 16 Juni 2022 - 01:41 WIB

Pandemi dan Pembelajaran PJOK di Daerah Terpencil

Ditulis oleh Eko Iskandianto Prastowo, S.Pd.

Guru di SD Negeri 001 Tanjung Perepat, Biduk – Biduk, Berau, Kalimantan Timur

 

Pada awal tahun 2020, dihebohkan dengan berita di berbagai media tentang virus Corona atau lebih dikenal dengan Covid-19. Dengan adanya berita tersebut, saya sebagai tenaga pendidik, awalnya kurang tertarik dengan banyaknya pemberitaan di televisi maupun di media sosial. Padahal virus Corona menimbulkan dampak yang begitu kompleks di bidang kesehatan hingga bidang pendidikan.

Tidak berselang lama, akhirnya Covid-19 sampai juga di daerah tempat saya mengajar. Saya mengajar di SD Negeri 001 Tanjung Perepat yang berlokasi di kampung Tanjung Perepat, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Jarak tempat saya mengajar dengan ibukota kabupaten kurang lebih 230 kilometer. 

Di daerah saya tersebut, listrik PLN hanya menyala 12 jam dan sinyal internet boleh dikatakan kurang layak. Sehingga  saya sebagai tenaga pendidik bisa merasakan dampak pada kegiatan pembelajaran yang dulunya pembelajaran tatap muka, kemudian diubah dengan pembelajaran dalam jaringan (daring). 

Pembelajaran tersebut memiliki tantangan tersendiri dan pembelajaran daring nyaris tidak mungkin dilakukan di tempat saya mengajar. Karena pembelajaran jarak jauh diperlukan telepon seluler, jaringan internet yang bagus, dan pulsa data yang mencukupi.  

Bagaimanapun perubahan dalam kegiatan pembelajaran di situasi pandemi Covid-19 dengan sangat terpaksa harus saya ikuti. Sebenarnya peserta didik di tempat saya mengajar dapat dikategorikan tidak banyak, selalu berkisar antara 60 sampai 70 peserta didik mulai dari kelas satu sampai kelas enam. 

Dalam situasi pandemi Covid-19, awalnya saya dan rekan-rekan melakukan kegiatan pembelajaran dengan cara memberikan penugasan datang dari rumah ke rumah. Namun dari kegiatan tersebut, hasil yang didapat kurang maksimal, peserta didik seringkali tidak berada di tempat atau pada saat saya mengambil tugas, siswa belum mengerjakan. 

Dengan kondisi pandemi Covid-19 makin parah, akhirnya pembelajaran diubah dalam jaringan penuh dan hasil yang diperoleh pun tetap kurang maksimal. Ketika diberikan materi dan tugas, siswa yang mampu mengikuti tidak pernah lebih dari 50% dari jumlah peserta didik. Mereka beralasan tidak memiliki ponsel, tidak memiliki pulsa data, jaringan internet susah, HP dibawa orang tua bekerja, dan alasan-alasan lainnya. 

Baca Juga:  Solusi Pembelajaran Daring untuk Daerah Lemah Koneksi Internet

Di daerah tempat saya mengajar, mayoritas pekerjaan orang tua atau wali peserta didik adalah sebagai pekebun atau nelayan. Kebetulan sekolah tempat saya mengajar hanya berjarak 200 meter dari pantai dan juga tidak jauh dari area perkebunan, baik milik sendiri atau milik perusahaan sawit. 

Setelah kasus Covid-19 melandai dan belum diperkenankan melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah, akhirnya pihak sekolah memutuskan pembelajaran dilakukan dengan cara berkelompok. Dalam pembelajaran berkelompok ini dalam satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah peserta didik per kelompoknya empat sampai lima. Penentuan kelompok berdasarkan lokasi tempat tinggal terdekat. Jadi saya sebagai tenaga pendidik harus menjelaskan materi yang sama berulang-ulang lebih dari dua kali di setiap kelasnya. 

Dalam kegiatan pembelajaran berkelompok ini, saya berlatih sabar karena mengajar di rumah milik warga. Kurang elok rasanya mengajar dengan suara lantang atau keras di rumah. Apalagi saya mengajar bidang studi Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) yang terbiasa dengan suara seperti itu di luar kelas. Ternyata dengan kegiatan pembelajaran seperti itu juga kurang maksimal. Apalagi kalau ada yang sakit, otomatis tidak mengikuti kegiatan pembelajaran berkelompok karena takut menularkan penyakit yang tidak diinginkan. 

Dengan metode belajar dengan cara pemberian materi, tugas, dan melakukan evaluasi pembelajaran yang diantar dari rumah ke rumah dan secara daring, hasil nilai belajar siswa pernah di luar dugaan, yaitu sangat bagus sekali. Tetapi anehnya, ketika kegiatan pembelajaran dilakukan secara berkelompok hasil nilai belajarnya kurang maksimal. Apalagi saat sudah diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, level pengetahuan peserta didik ketika dilakukan evaluasi dengan materi yang sudah pernah diberikan, hasilnya kurang maksimal, terutama dalam kategori pengetahuan. Dapat diduga bahwa selama pembelajaran jarak jauh atau daring, dalam mengerjakan tugas, mereka dibantu oleh orang tua, kakak, atau siapapun yang ada di rumahnya. 

Pada semester genap tahun pelajaran 2021-2022 digalakkan kegiatan vaksinasi Covid-19 bagi anak usia 6 sampai 11 tahun. Pro dan kontra terhadap vaksinasi terjadi. Awalnya tidak sedikit orang tua atau wali peserta didik ragu dan menolak jika anaknya divaksin. Setelah mereka paham bahwa ini demi kebaikan dan kelancaran dalam kegiatan pembelajaran tatap muka, akhirnya kegiatan vaksinasi dapat terlaksana dengan baik.

Baca Juga:  Inilah Alasan Pemerintah Hapus Tenaga Honorer Dan PNS Mulai 2023

Setelah pembelajaran tatap muka terlaksana walau dengan terbatas, ada hal yang mencolok yang terjadi karena terlalu lama tidak masuk sekolah. Misalnya dalam hal pengetahuan, sikap disiplin, dan lain sebagainya. Hal ini karena berkurangnya penanaman karakter pada  siswa selama pembelajaran di masa pandemi, seperti sikap mencium tangan guru tidak dilakukan dengan dalih mencegah dari penularan virus Covid-19. 

Dalam konteks studi Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan saya coba laksanakan setelah Kepala Sekolah sudah mengizinkan. Memang terlihat jauh keterampilan peserta didik sebelum dan setelah pandemi. Contohnya dalam kegiatan bola voli, dari segi fisik jelas menurun, keterampilan bermain berkurang, dan pemahaman terkait peraturan dasar pada permainan bola voli pun kurang dipahami dengan baik. Mereka melakukan servis dengan menginjak garis, tidak memahami perputaran pemain, dan lain sebagainya. Ini menjadi hal yang ironis karena di sekolah saya untuk cabang olahraga sepakbola mini dan bola voli mini sebenarnya termasuk yang diperhitungkan ketika mengikuti perlombaan di wilayah kami.

Dari fenomena ini dapat diambil kesimpulan bahwa bimbingan, kedekatan, kehadiran guru secara langsung kepada peserta didik sangat penting. Eksistensi guru akan memberikan perubahan yang berarti pada siswa. 

Saya tidak menolak pembelajaran daring yang didukung perkembangan teknologi, yang disebut-sebut sebagai model pendidikan masa depan. Tapi bagi saya pribadi,  Pembelajaran Tatap Muka (PTM) belum dapat tergantikan. Apalagi bagi saya dan rekan – rekan guru di daerah terpencil. (*)

 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

Share :

Baca Juga

Opini

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Iman Anak

Opini

Mendidik Karakter Anak sejak Dini Menciptakan Akhlak Mulia
pembelajaran open ended

Opini

Open-ended Learning: Jalan Menuju Keberhasilan AKM
bahaya learnig loss

Opini

Pusing Menjalani Pembelajaran di Masa Pandemi
dampak pandemi covid-19 pada pendidikan

Opini

Dampak Covid-19 pada Dunia Pendidikan dan Fenomena Pembelajaran Jarak Jauh
bahaya game online

Opini

Game Online: Ancaman Era Digital pada Dunia Pendidikan

Opini

Urgensi Video sebagai Media Pembelajaran Daring untuk Pelajaran Praktik

Opini

Perencanaan Pajak yang Baik Dapat Mengurangi Kerugian dan Memaksimalkan Keuntungan