Home / Opini

Senin, 14 Juni 2021 - 01:37 WIB

Menghilangkan Persepsi Buruk pada Matematika dari Pikiran Siswa

Matematika merupakan mata pelajaran yang wajib dipelajari oleh semua peserta didik dari jenjang yang paling rendah sampai ke jenjang yang paling tinggi. Pembelajaran Matematika akan mendorong siswa untuk dapat berpikir kritis, sistematis, logis dan kreatif.

Matematika sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan hampir tidak dapat dipisahkan. Melalui kebiasaan berhitung, berlatih deret, dan sejenisnya, secara tidak sadar sebenarnya siapa saja telah berpikir secara matematis. Dan hal tersebut akan membuatmu mudah dalam mengorganisasi segala sesuatu. Kemampuan ini yang juga sangat mendukung untuk menjadi seorang pemimpin yang handal.

Logika berpikir matematika berbicara tentang hal-hal yang logis. Tidak ada asumsi, praduga, atau tebak tebakan. Semua harus dihasilkan melalui penghitungan yang tepat. Menurut Johnson dan Rising (1972), matematika dibentuk atas dasar kebutuhan pembuktian yang logis berdasarkan logika yang benar.  

Dengan belajar Matematika akan melatih otak menggunakan logika berpikir secara optimal. Setidaknya, Anda akan menjadi generasi yang lebih banyak berpikir dengan logika sebelum bertindak. 

Dengan belajar Matematika, maka Anda akan terlatih dalam berhitung. Siapa yang tidak membutuhkan kemampuan berhitung? Tidak ada, bukan? Semua orang butuh keterampilan berhitung tersebut. Bahkan dalam skala yang sangat sederhana seperti menghitung uang kembalian. Sayangnya, hal ini kurang disadari oleh sebagian peserta didik.

Kebutuhan berhitung memang tidak perlu ahli, namun jika Anda menguasai matematika setidaknya mampu melakukannya dengan tepat dan cepat. Apalagi, jika kelak Anda adalah seorang pebisnis.

Menyadari begitu pentingnya Matematika, diharapkan disiplin ilmu ini dapat dikuasai dengan baik oleh peserta didik. Namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak peserta didik yang tidak menyukai Matematika. Peserta didik sering berpendapat bahwa Matematika merupakan mata pelajaran yang sangat sulit dipahami dan sungguh tidak menyenangkan. Akibatnya sebagian peserta didik mendapat nilai buruk untuk mata pelajaran Matematika.  Bukan karena tidak mampu, melainkan sejak awal sudah merasa takut.

Baca Juga:  Tak Ada Kata Terlambat bagi Guru Senior untuk Belajar Teknologi

Ada beberapa penyebab yang mungkin membuat Matematika dianggap sebagai momok bagi peserta didik. Pertama, pelajaran Matematika tidak menyenangkan bagi peserta didik, sehingga pada saat guru menyampaikan materi pelajaran tersebut, banyak siswa menunjukkan rasa malas belajar. Kedua, pembelajaran Matematika diberikan pada siang hari di mana anak-anak sudah merasa lelah, bosan, mengantuk, dan lain sebagainya. Semua itu membuat anak tidak dapat konsentrasi menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru dengan baik.

Matematika bisa jadi tidak menyenangkan mungkin juga karena bahasa guru dalam menyampaikan materi sulit dimengerti dan penyajian materi yang kurang menarik. Sehingga hal tersebut membuat peserta didik sulit menerima pesan yang ingin disampaikan oleh guru. Kegagalan penyampaian pesan dalam pelajaran Matematika ini akan berujung pada kejenuhan dan rasa bosan. Mungkin juga guru yang mengajar Matematika menyeramkan dan galak. Sehingga peserta didik merasa takut dan kurang simpatik untuk menerima pelajaran.

Langkah–langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di antaranya:

1. Guru harus dapat menguasai kelas dan bisa mengondisikan kelas. Sebaiknya guru mencari cara pembelajaran yang sesuai dengan keadaan dan situasi yang ada. Apabila pembelajaran Matematika dilaksanakan pada siang hari dan cuaca sangat panas, maka guru memberi kesempatan kepada siswa duduk dengan tenang dan bisa mengajak siswa untuk menyanyi atau tepuk tangan dulu agar siswa dapat konsentrasi pada pembelajaraan.

Setelah itu kita pancing dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada hubungan dengan pelajaran. Guru bisa memulai pelajaran dengan apa saja yang penting itu mendidik, tidak harus dengan ketegangan dan disiplin yang ketat. Disiplin juga bisa dilakukan dengan santai dan menyenangkan.

2. Jika awal pembelajaran siswa sudah terlihat jenuh dan tidak bersemangat, guru harus dapat meningkatkan keaktifan siswa. Caranya siswa diajak terlibat langsung dalam pembelajaran, misalnya guru melakukan proses tanya jawab dengan anak.

Baca Juga:  Sisi Positif dan Negatif Teknologi  terhadap Karakter Siswa

Ada baiknya jika guru tidak hanya melibatkan siswa yang menunjuk tangan, tetapi guru juga perlu mengajak siswa yang duduk di belakang. Tujuannya agar siswa yang di belakang juga ikut antusias dan fokus pada pembelajaran. Karena biasanya pembelajaran yang dilakukan pada siang hari, khususnya pelajaran Matematika, membuat siswa mengantuk.

3. Ketika belajar di siang hari ketika anak-anak sudah mulai merasa lelah sehingga tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, kita sebagai guru harus menyiapkan strategi yang dapat membuat siswa lebih berkonsentrasi ketika belajar. Strategi yang dapat digunakan antara lain yaitu guru harus membuat pelajaran Matematika tersebut menyenangkan atau menarik. Caranya, mungkin bisa dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan mengaitkan materi dengan dunia nyata atau kehidupan sehari-hari

4. Anak-anak  seringkali tidak fokus, capek, ngantuk dan ingin pulang pada waktu pembelajaran di siang hari, bukan hanya di mata pelajaran Matematika saja akan tetapi di mata pelajaran yang lainnya.

Yang harus dilakukan guru agar peserta didik bisa fokus pada pembelajaran, yaitu dengan menumbuhkan semangatnya lagi dengan cara seperti meneriakkan yel- yel. Dengan begitu, peserta didik akan semangat lagi dan perhatiannya  kembali terpusat pada pelajaran. Bisa juga dengan membuat suasana belajar yang nyaman seperti  belajar sambil mendengarkan musik. Dengan suasana belajar yang nyaman, anak tidak akan mudah bosan, ngantuk sehingga betah di kelas walaupun sudah siang hari.

Kesimpulannya yang dapat diambil dari sini bahwa tugas utama guru Matematika adalah merobohkan semua informasi yang kurang baik mengenai matematika serta menghilangkan perasaan takut dalam diri peserta didik. Kemudian jangan menciptakan kesan yang buruk bahwa Matematika itu sulit tetapi ajaklah mereka mulai menyukai Matematika karena sebenarnya Matematika itu asyik dan menyenangkan.

Ditulis oleh Paulina Rince Wunu,S.Pd, Guru SMAN I BOLA

Share :

Baca Juga

Opini

Tetap Belajar Meskipun Sudah Mengajar

Opini

Mengukur Probabilitas Ganjar Pranowo Menjadi Presiden 2024

Opini

Merdeka Belajar Mengikis Kebosanan Siswa dalam Belajar IPA
persiapan pembelajaran tatap muka

Opini

Persiapan Menjelang Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Covid-19

Opini

Potensi Wisata Pulau Kodingareng
text on shelf

Opini

Media Pembelajaran Game Word Wall: Solusi Menciptakan Pembelajaran Interaktif di Masa Pandemi

Opini

Mendesain Pembelajaran yang Menarik, Menyenangkan, dan Berkesan

Opini

Tumbuhnya Literasi Digital di Kalangan Guru