Menanam dan Merdeka dalam Berkarakter

- Editor

Sabtu, 28 Mei 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Adriningsih Adwir. S.Sos, M.Pd.E

Guru SMKN 1 Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat

 

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memberikan ruang kepada siswa untuk memiliki keterampilan sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Setelah menyelesaikan studi pada satuan pendidikan formal, mereka nanti akan siap untuk memasuki dunia kerja sesuai dengan keahlian yang mereka miliki. Keterampilan yang harus mereka asah tidak saja pada bidang akdemik namun juga bidang-bidang lain yang akan mendukung mereka nanti saat berada tengah-tengah masyarakat. Bisa dikatakan tidak hanya hard skill yang harus mereka kuasi namun soft skill juga perlu mereka miliki.

Kita harus mengikuti perkembangan zaman terutama teknologi. Dari waktu ke waktu teknologi berkembang dengan pesat.  Jika kita tidak memiliki filter yang mumpuni, mustahil kita akan dapat menguasainya alih-alih kitalah yang akan dikuasainya. Hal ini dapat dilihat pada saat ini begitu besar pengaruh teknologi yang tidak sesuai fungsi dan kurang dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif di mana hal itu membuat siswa kecanduan akan hal-hal yang merusak mental mereka.

Siswa sekarang lebih bersifat individualis, kurang peduli, dan saling bullying. Bullying ini dilakukan tidak saja secara fisik namun juga melalui media sosial. Ini yang sangat parah yang membuat mereka kehilangan akhlak. Kita lihat hanya gara-gara sebuah obrolan di WhatsApp dapat berakibat fatal sampai-sampai berakibat bunuh diri dan main hakim sendiri.

Apa yang salah? Apakah sudah tidak berharga lagi yang namanya hospitality (keramah-tamahan). Kita sebagai bangsa timur yang kental dengan keramah-tamahan seakan kehilangan identitas. Masyarakat Minang Kabau punya prinsip kato nan ampek yaitu kato mandata, kato malereng, kato manurun, dan kato madaki yang merupakan bentuk berkomunikasi yang harus diterapkan.

Krisis mental mengakibatkan kurangnya resilience di dalam diri siswa, mereka cenderung mencari sesuatu yang gampang, tanpa berpikir dalam bertindak. Jika dimunculkan sebuah tantangan yang sedikit menguras pikiran dan keterampilan,  mereka cenderung diam dan sibuk dengan pikiran sendiri, apakah ini menjadi bagian dari karakter zaman sekarang?

Karakter dapat diartikan  sebagai jati diri seseorang yang meliputi keseluruhan sikap atau tingkah laku seseorang yang dapat dikenali dalam berbagai situasi. Karakter juga dapat diartikan sifat atau karakteristik dari seseorang yang sangat menonjol sehingga merupakan trade mark orang tersebut.

Nah, sekarang kita harus mulai dari mana untuk membentuk karakter atau mengatasi krisis mental ini?

Keluarga merupakan pondasi awal yang meletakan norma dan kebiasaan positif terhadap siswa kita. Setelah keluarga baru lingkungan tempat tinggal, lebih luas lagi adalah lingkungan negara. Diyakini bahwa bidang kebudayaan, bidang pendidikan, dan bidang agama merupakan nilai-nilai yang harus dimiliki orang manusia untuk menuntut mereka menjadi sukses. Ketiga bidang tersebut saling berintegrasi satu sama lain. Budaya mencakup nilai-nilai luhur yang menjadi panutan di tengah masyarakat, pendidikan mencakup proses transfer dan transmisi ilmu pengetahuan, sedangkan agama mengandung ajaran tentang berbagai nilai luhur dan mulia bagi manusia untuk mencapai harkat kemanusiaan dan kebudayaan.

Demikian untuk memenuhi ketiga tuntunan tersebut, saat ini diberlakukan program sekolah dengan pengintegarsian Profil Pelajar Pancasila pada setiap mata pelajaran. Diharapkan sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantoro yang terkenal dengan semboyannya: Tut wuri handayani (memberi semangat), ing madya mangun karsa (terus menerus membangun  semangat dan memberikan ide-ide ), ing ngarsa sungtulada (menjadi panutan dan menjadi tauladan). Ketiga dasar semboyan ini yang menjadi dasar pendidikan di Indonesia.

Diyakini bahwa pendidikan lewat sekolah merupakan salah satu fokus untuk mengatasi krisis watak secara cepat. Dalam hal ini Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ada enam ciri dasar   Profil Pelajar Pancasila yaitu:

1) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. 2)  Berkebinekaan global.

3) Bergotong royong.

4) Mandiri.

5) Bernalar kritis.

6) Kreatif.

Keenam ciri dasar Profil Pelajar Pancasila ini harus dimiliki oleh setiap pelajar di Indonesia diharapkan akan membantu mengurangi krisis mental yang saat ini terjadi.

SMKN 1 Lembah Gumanti merupakan salah satu sekolah pusat keunggulan yang memiliki program hospitality yang sejalan dengan program pemerintah. Dengan program ini siswa diajak untuk menerapkan semboyan 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun) dan selalu menerapkan  nilai-nilai luhur karakter lainnya seperti tanggungjawab, komunikatif, dan lain sebagainya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana pengaplikasiannya. Di sekolah, guru sangatlah  berperan untuk mengatasi krisis metal ini,  yang dapat dilakukan adalah melakukan pendekatan secara individual kepada siswa jika ada kejanggalan pada siswa maka diajak berbicara secara terbuka  dan menerapkan  disiplin positif terhadap seluruh siswa. Selanjutnya memberikan ruang gerak kapada siswa untuk saling mengenal lagi satu sama lain.

Pembelajaran aktif menyenangkan harus diberlakukan selama proses pembelajaran. Dengan menerapkan model-model pembelajaran aktif menyenangkan,  proses pembelajaran dua arah senantiasa dapat berjalan sehingga menimbulkan antusias, saling berinteraksi, dan komunikatif.

Yang perlu dipahami lagi bahwa setiap siswa itu memiliki perbedaan individu. Perbedaan tersubut ditinjau dari kognitifnya, kecakapan bahasanya, kecakapan motoriknya, latar belakang keluarganya, bakatnya, kesiapan belajarnya dan banyak lagi perbedaan lain yang ada pada diri setiap siswa. Perbedaan ini yang harus dipertimbangkan dengan memberikan mereka ruang dan kesempatan khusus untuk mempelajari perbedaan karakter.

Seyogyanya kita harus melakukan merdeka berkarakter dalam konteks pembelajaran karakter yang bermakna dan tersirat. Yang harus menjadi perhatian bahwa setiap siswa memiliki peran meraka masing-masing untuk mendukukung eksistensinya di tengah masyarakat nanti sehingga memastikan bahwa karakter tersebut mencerminkan jati dirinya.  Perbedaan karakter bukan saja menjadi tanggung jawab sekolah namun secara bersama dengan orang tua dan masyarakat. Dan jangan berpandangan berbeda jika terdapat perbedaan di antara siswa sehingga mengakibatkan kegalauan sendiri.

Mari kita sebagai pendidik memberikan kesempatan kepada siswa kita untuk menemukan bakat dalam dirinya dalam rangka menstranformasi dari yang kurang pecaya diri memiliki tekad dan ketangguhan yang kuat.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud, S.S.

Berita Terkait

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali
Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka
Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 
Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan
Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan
Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan
Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 
Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 13:59 WIB

Tantangan Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 7 di Wilayah Jawa, Madura, dan Bali

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:35 WIB

Memaksimalkan ChatGPT untuk Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 19 Februari 2024 - 15:20 WIB

Dampak Positif Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan di Indonesia 

Jumat, 16 Februari 2024 - 09:32 WIB

Menggali Potensi Kecerdasan Buatan dan Etika Penerapannya di Dunia Pendidikan

Selasa, 13 Februari 2024 - 10:50 WIB

Kecerdasan Buatan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Februari 2024 - 10:35 WIB

Geogebra Media Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan

Senin, 5 Februari 2024 - 10:27 WIB

Apakah  Sosok Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi AI? 

Sabtu, 3 Februari 2024 - 15:55 WIB

Kehadiran ChatGPT dalam Dunia Pendidikan, Bagai  Pedang Bermata Dua

Berita Terbaru