Home / Opini

Jumat, 29 Oktober 2021 - 02:24 WIB

Jalan Menuju PTM Nyaman untuk Jenjang Pendidikan SMK

 

Oleh Sugeng Iryanto

Guru SMK Negeri 1 Malang

Status Covid-19 secara umum di Indonesia sudah mulai menurun dari level IV ke level yang lebih rendah. Dan di beberapa wilayah sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas dengan kombinasi shift sesuai urut absen atau ganjil genap untuk setiap rombongan belajar (rombel). Sehingga masing-masing rombel dalam seminggu akan menjalani dua kali pertemuan dan dua kali pembelajaran daring serta sekali secara bersamaan melakukan pembelajaran daring. 

Pembelajaran yang diimplementasikan dengan sistem seperti ini populer disebut blended learning, di mana pembelajaran dilakukan secara daring maupun luring. Ketika pembelajaran dilakukan dengan tatap muka tetap tidak mengabaikan protokol kesehatan. Mulai dari tetap wajib memakai masker, mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak, mengecek suhu badan serta penggunaan desinfektan untuk benda-benda di lingkungan belajar maupun melakukan fogging ruangan. 

Misalnya di SMK Negeri 1 Malang, kapasitas kelas yang dalam kondisi normal bisa diisi sebanyak 36 peserta didik, disesuaikan menjadi berkapasitas 50% atau sebanyak 18 peserta didik. Jarak aman antar bangku peserta didik di dalam kelas diatur kurang lebih 1.5 meter. Kondisi ini tetap dipantau oleh guru pengajar saat melaksanakan proses pembelajaran. 

Persiapan dilakukan oleh manajemen sekolah khususnya terkait dengan protokol kesehatan dan membentuk Satgas Covid-19 untuk memberikan layanan kepada seluruh peserta didik dan tenaga pendidik kependidikan. Selain itu persiapan juga dilakukan oleh seluruh guru dengan mempersiapkan perangkat pembelajaran baik untuk tatap muka maupun untuk yang mengikuti pembelajaran daring. 

Pembelajaran dengan blended learning memang menjadikan pekerjaan guru menjadi ganda yakni harus menangani peserta didik yang hadir di kelas  dan yang melakukan pembelajaran dari rumah. Di sini guru dituntut untuk bekerja keras semaksimal mungkin untuk melakukan evaluasi terhadap pembelajaran. 

Baca Juga:  Teknologi dan Pendidikan

Di sekolah kami, PTM pada kali pertama dilaksanakan dengan durasi waktu maksimal 4 jam saja dari pembelajaran normal 8 jam. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi waktu temu antar peserta didik agar tidak terlalu banyak melakukan kontak fisik. 

Saat hari pertama PTM itu, kurang lebih 750 peserta didik yang terbagi dalam sembilan kompetensi keahlian berdatangan secara bersamaan di waktu menjelang masuk kelas, sehingga agak terjadi penumpukan peserta didik saat mencuci tangan. Tempat cuci tangan tersedia di lima titik dengan perlengkapan tisu berada di meja berada di jalur masuk utama. Sehingga saat terjadi kerumunan, Satgas Covid-19 yang terdiri dari tenaga pendidik dan anggota OSIS membantu memberi layanan prima antara lain dengan mengarahkan peserta didik menuju ke tempat cuci tangan dengan mengatur jarak ideal sesuai prokes. 

Peserta didik setelah cuci tangan bisa langsung mengambil tisu dan menuju lokasi cek suhu. Sampah tisu harus dibuang di tempat sampah yang telah tersedia yang menyebar di sepanjang jalan masuk. 

Masing-masing jalur yang dilewati siswa dipecah dengan tiga meja di mana satu meja untuk tiga sampai empat kelas per kompetensi keahlian. Sehingga dengan cara itu tidak terjadi penumpukan saat peserta didik mencatat hasil cek suhu tubuh di daftar nama yang telah disediakan. Kemudian mereka langsung diarahkan untuk segera masuk ke ruang belajar masing-masing sesuai jadwal dari bagian kurikulum. 

Memang selama jam efektif masih ditemukan beberapa peserta didik yang tidak patuh prokes. Masih terdapat siswa yang tampak berkerumun atau tidak memakai masker. Padahal situasi sekarang ini masih sangat dimungkinkan kembali terjadi penyebaran Covid-19. 

Baca Juga:  Guru yang Baik Adalah Motivasi Siswa untuk Terus Belajar

Ini menunjukkan bahwa masih perlu adanya perhatian serius terhadap pandemi saat dilakukan PTM di satuan pendidikan mengingat migrasi peserta didik secara bergantian dari masing-masing shift sangat dimungkinkan menjadi media penularan virus dari pihak-pihak luar satuan pendidikan. Sedangkan sulit untuk mengontrol peserta didik ketika mereka sudah tidak berada di sekolah. Apalagi ketika mereka menganggap  bahwa pandemi telah berakhir serta masih kurangnya kesadaran untuk tertib prokes. 

PTM yang diterapkan di SMK lebih menekankan pada pembelajaran yang bersifat praktis terhadap peningkatan kompetensi psikomotorik peserta didik dengan memanfaatkan waktu efektif selama berada di satuan pendidikan dengan bimbingan guru pengajar. Sedangkan peserta didik yang belajar melalui daring lebih diarahkan pada materi yang bersifat kompetensi kognitif, sehingga saat PTM sudah memiliki dasar pengetahuan untuk menunjang saat mereka praktik. 

Dengan demikian proses pembelajaran dengan blended learning tetap dapat menunjang dalam pencapaian tujuan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dalam struktur kurikulum. Memang di jenjang pendidikan SMK memiliki karakteristik tersendiri bila dibandingkan dengan SMU sehingga selama pandemi tenaga pendidik khususnya bagian kurikulum harus selalu kreatif dalam menghadapi setiap perubahan atau situasi dan kebijakan pemerintah. Pada dasarnya dengan tanpa mengurangi substansi target capaian kurikulum, dengan teknik atau sistem pembelajaran yang adaptif tetap dapat memberi bekal kompetensi kepada peserta didik secara maksimal. 

Dapatkan info terbaru dan ikuti seminar atau diklat untuk guru secara gratis yang dapat menunjang profesionalitas serta kompetensi dengan cara menjadi anggota e-Guru.id. Klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Share :

Baca Juga

solidaritas untuk palestina

Opini

Solidaritas Palestina dan Identitas Beragama

Opini

Menyambut Datangnya PAS Ganjil di Masa PTM Terbatas
https://naikpangkat.com/ruang-lingkup-program-sekolah-penggerak/

Opini

IB Tricks, Solusi Belajar Daring Anti Boring untuk Mapel Bahasa Inggris

Opini

Meningkatkan Minat Baca Anak SD dengan Membuat Komik di Aplikasi Android

Opini

Meniti Jalan Menjadi Guru

Opini

Pembelajaran Jarak Jauh tanpa Koneksi Internet di Desa Terpencil

Opini

Wajah Pendidikan Kita di Masa Pandemi
sekolah ramah anak

Opini

Solusi Pembelajaran Daring untuk Daerah Lemah Koneksi Internet