Home / Sosok

Jumat, 20 Januari 2023 - 14:15 WIB

I Dewa Gede Trinandita: Ir. Soekarno Sang Proklamator, Saya Bagian Mengajar

Oleh I Dewa Gede Trinandita, S.Pd

Guru SMP Negeri 2 Banjarangkan. 

 

Di masa kecil itu, saya merasakan sebuah kehidupan yang sederhana. Sebagai anak desa yang lugu dan bisa dikatakan cukup rajin dan pintar, orang tua mendidik saya dengan penuh disiplin.

Ayah adalah seorang PNS di Kantor Agraria (Badan Pertanahan Nasional) dengan gaji yang tidak begitu besar. Setelah pulang dari kantor, beliau bekerja di sawah milik orang lain dengan istilah yang kami kenal dengan “nyakap”. Ayah juga memelihara beberapa ekor sapi. Jadilah saya dan saudara sudah diajar menyabit sejak kelas tiga sekolah dasar. 

Mencari rumput adalah tugas saya dan adik yang ke-4 yang kami lakukan selepas pulang sekolah. Tugas itu saya kerjakan hingga menginjak bangku SMA. Tugas ini secara tidak langsung membentuk jiwa kedisiplinan dan rasa tanggung jawab dalam diri saya. Saya bersyukur karena sudah dididik bekerja keras sejak kecil. Sementara itu ibu memiliki usaha warung. 

Saya sangat terbuka dengan orang tua. Terutama kepada ayah, apa pun yang terjadi saya lapor kepadanya termasuk melaporkan hasil ulangan sekolah. Juga dalam urusan minta uang,  beda dengan teman pada umumnya yang minta uang ke ibu, saya lebih sering meminta pada ayah.  

Saya menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Banjarangkan setamat SD. Kemudian setelah SMP, saya melanjutkan ke SMA Negeri 2 Klungkung (Sekarang SMA N 1 Dawan). Sekolahnya ada di kecamatan Dawan, sekitar 10 Km dari tempat tinggal saya. Sempat kos namun hanya 6 bulan. Hidup di kos mengajarkan saya hidup mandiri. Di kos tersebut, saya  berdua dengan teman yang menjadikan saya belajar tentang berbagi, saling menghargai, dan memahami. 

Tahun 1990 ketika tamat dari SMA,  saya ingin meraih gelar insinyur dan ingin menjadi direktur. Gagah rasanya gelar itu. Terobsesi dengan gelar Sang Proklamator Ir. Soekarno. 

Di saat di mana saya tumbuh menjadi manusia dewasa belum ada media sosial atau akses informasi digital seperti saat ini. Apalagi akses internet. TV saja saat itu belum ada remotenya. 

Soal remote ini saya pernah mengalami kejadian unik. Saat itu saya sedang melancong ke rumah seorang teman. Saya kaget karena saat sedang nonton TV di sana, tiba-tiba acara TV berubah sendiri. Padahal tak ada yang mendekati TV tersebut. Saya heran dan bertanya dalam hati, tetapi akhirnya terjawab karena ternyata ada yang memegang remote. Mengingat kejadian itu membuat saya geli sendiri. 

Saya buta warna, ini yang menghambat saya meraih gelar insinyur. Hingga untuk masuk di perguruan tinggi di jurusan kesehatan dan teknologi tidak memenuhi syarat. Hanya di FKIP yang masih memungkinkan, itu pun untuk jurusan selain Kimia dan Biologi. Maka atas saran orang tua terutama ayah yang meyakinkan untuk menempuh pendidikan di FKIP. Suatu saat nanti, kata ayah, saya bisa menjalani profesi guru. Hingga akhirnya saya kuliah di FKIP UNUD Singaraja. 

Baca Juga:  Eka Widiastuti: Status Guru Honorer Tak Membuat Berkecil Hati sebab Mengajar adalah Hobi

Saat itu masalah apakah akan menjadi guru atau tidak, tidak saya pikirkan karena setelah tamat kuliah bisa saja saya kerja di bidang lainnya, bukan sebagai guru. 

Dalam perjalanan menempuh pendidikan di perguruan tinggi tersebut, tetap ada keraguan di hati kecil apakah di masa yang akan datang saya bisa menjadi seorang guru. Tapi akhirnya di tahun 1994, saya tamat dan selanjutnya mengajar di SMP N 3 Banjarangkan yang terletak kurang lebih 4 Km dari rumah. 

Tahun 1997,  berawal melihat lowongan di koran, saya pindah mengajar di sebuah kelompok belajar di Jalan Jayagiri, Denpasar. Di sanalah saya mengajar les sejumlah mata pelajaran untuk siswa SD hingga SMP. Dari pukul 07.30 sampai pukul 17.30 WIB dari hari Senin hingga Jumat saya gunakan untuk mengajar. 

Untuk tingkat SD, saya mengajar seluruh mata pelajaran. Sedangkan untuk SMP saya hanya mengajar Matematika. Uang yang saya terima tidak seberapa tapi tetap bersyukur. Saya juga mengajar les privat setelah selesai mengajar di tempat les tersebut untuk mendapat penghasilan tambahan. 

Tahun 2004, saya sempat mengajar di SD 5 Saraswati, Denpasar. Namun hanya bertahan setahun. Meski demikian sangat berkesan karena saya bertemu dengan murid-murid yang sangat disiplin. Beda dengan di tempat les yang lebih santai anak didiknya. Di sekolah ini siswa betul-betul berdisiplin tinggi. 

Tahun 2005 saya harus meninggalkan sekolah tersebut karena diterima sebagai CPNS di sekolah tempat saya mengajar saat ini. Setahun setelah diangkat jadi PNS, saya melanjutkan pendidikan S1 di IKIP PGRI Bali (kini Universitas PGRI Mahadewa). 

Semua babak dalam hidup ini saya jalani dengan ikhlas atas dasar pengabdian dan kesabaran. Semua sudah ada jalannya masing-masing. Pada akhirnya memang saya tidak bisa menjadi seperti Soekarno dengan gelar insinyurnya, tapi jalan yang terbaik untuk saya adalah mengajar, sebagai guru untuk anak-anak generasi masa depan. (*)

 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud

Share :

Baca Juga

Sosok

Jhoni Asmara: Pemandu dan Tim Penilai Kenaikan Pangkat Guru

Sosok

Eka Widiastuti: Status Guru Honorer Tak Membuat Berkecil Hati sebab Mengajar adalah Hobi

Sosok

Sugeng Iryanto: 20 Tahun Penantian untuk Menjadi Guru PNS

Sosok

Hikmawati Usman: Dari Pegawai Asuransi, Jadi Dosen, hingga Menulis Buku

Sosok

Nasruddin: Mau Mengajar Berkat Pesan Guru

Sosok

Deny Susilowati: Sempat Gagal Jadi Guru Berprestasi, Belajar Lagi bersama e-Guru.id

Sosok

Eko Iskandianto Prastowo: Tegar di Tiap Babak Kehidupan untuk Menjadi Guru PJOK

Sosok

Sofyan Andi: Bantu Guru Mahir Membuat Media Belajar dengan PowerPoint dan Canva