Home / Opini

Rabu, 7 Juli 2021 - 06:12 WIB

Harapan Belajar yang Pupus

Awal memasuki sekolah pada tahun ajaran baru pada bulan Juli 2020 tahun lalu, adalah momen yang sangat menggembirakan bagi para siswa. Mereka mengharapkan akan memasuki lingkungan sekolah baru setelah lulus dari tingkat sekolah sebelumnya. Untuk lulusan Sekolah Dasar (SD) misalnya, mereka mengharapkan kegiatan belajar mengajar yang berbeda di Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena yang pasti cara belajar, lingkungan, teman, dan banyak hal yang berbeda di sekolah baru tersebut.

Namun yang menyedihkan, masa belajar yang sangat diimpikan bagi para siswa tersebut segera pupus karena harus belajar di rumah dan secara daring karena hantaman badai pandemi Covid-19. Pemerintah pusat meminta kegiatan di sekolah ditutup sementara untuk menghindari penularan virus tersebut di kalangan siswa dan guru.

Dalam kondisi seperti itu, siswa dan guru mengalami perubahan dalam menerima dan menyampaikan materi pelajaran. Siswa diarahkan untuk berdiam diri di rumah dan belajar melalui aplikasi belajar online. Sementara itu di pihak guru dituntut untuk meningkatkan keterampilan dalam penggunaan teknologi informasi (IT) agar mampu melaksanakan pembelajaran online yang efektif dan menarik.

Baca Juga:  Cukupkah Literasi dengan Membaca 15 sebelum KBM?

Produk teknologi yang kemudian bisa digunakan untuk melaksanakan pembelajaran daring di antaranya  aplikasi Zoom, Google Classroom, WhatsApp, dan lain sebagainya.  

Guru tidak cukup memperlajari terkait keterampilan penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut namun guru juga dituntut bisa membuat pembelajaran melalui media tersebut menyenangkan dan tidak membosankan.

Para pendidik perlu melakukan penyesuaian diri dengan belajar secara mandiri dengan cara melihat video tutorial atau membaca informasi sebagai referensi digital agar bertambah wawasan untuk menyampaikan materi pelajaran dengan cara yang menyenangkan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran digital ini banyak sekali kendala yang harus dihadapi, salah satu kendalanya adalah kurangnya kuota untuk mengakses ke internet dan juga sinyal yang tidak maksimal. Maka guru harus kembali memikirkan alternatif yang lainnya salah satunya menggunakan referensi pembelajaran menggunakan buku perpustakaan yang dipinjamkan kepada siswa agar mereka tetap bisa belajar di rumah.

Baca Juga:  Pembelajaran Kolaboratif pada Era Revolusi 4.0

Itu pun tidak bertahan lama karena materi yang disampaikan kepada siswa tidak digunakan dengan baik. Siswa yang belajar dengan baik hanyalah siswa yang punya semangat dan berada di lingkungan keluarga yang mendukung.

Penggunaan referensi belajar digital sebenarnya dapat sangat membantu siswa dan guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara daring dengan segala kemudahan-kemudahannya. Dan yang perlu dicarikan solusinya adalah bagaimana agar semua siswa dapat mengakses materi digital tersebut agar pembelajaran di masa pandemi tetap dapat berjalan.

Ditulis oleh Indah Wulandari, Guru SMPN 1 Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.

Share :

Baca Juga

Opini

Keunggulan WhatsApp sebagai Media Pembelajaran Online
cara pintar berbahasa inggris

Opini

Pintar Berbahasa Inggris

Opini

Menariknya Gadget sebagai Media Belajar Siswa SD pada Masa Pandemi

Opini

Menumbuhkan Kemampuan Menulis bagi Guru dengan 3M Plus K

Opini

Permasalahan Pendidikan Online di tengah Pandemi Covid-19

Opini

Membangun Karakter Anak melalui Pendidikan

Opini

Guru Tak Takut Mencoba, Guru Tak Boleh Berhenti Belajar

Opini

Alat Peraga “BAPER” untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Materi Perhitungan Perkalian  Bilangan Cacah