Home / Opini

Senin, 23 Januari 2023 - 12:35 WIB

Guru Senior Generasi X yang Kian Tersingkir

Oleh Hendi Syahmadi, M.Pd.

Praktisi dan Pemerhati Pendidikan

 

Guru yang lahir sebagai generasi veteran sebelum tahun 1945 atau pada masa perang kemerdekaan saat ini hampir punah. Selanjutnya muncul generasi guru yang dikenal dengan baby boomers yang lahir antara tahun 1946-1965 atau pada masa orde lama di mana mereka saat ini telah menjadi guru senior dan kebanyakan dari mereka sudah purna bakti. Adapun, guru yang terlahir sebagai generasi X yang lahir di tahun 1966-1982 atau pada masa orde baru memiliki porsi terbesar dalam piramida struktur guru saat ini. Ini disebabkan adanya pengangkatan guru besar-besaran melalui program inpres yang pernah terjadi di masa lalu.  

Kemudian terlahir guru generasi Y atau generasi milenial yang lahir pada tahun 1983-1999 atau pada masa reformasi. Selanjutnya, generasi Z atau generasi Gen N yang lahir setelah 2000 yang terlahir sebagai penduduk asli era digital. Mulai dari generasi Y hingga Z ini mayoritas memiliki kemampuan teknologi yang mumpuni, menjadikan mereka sebagai tulang punggung akselerasi di Program Sekolah Penggerak di lembaga pendidikan masing-masing. 

Saat ini di dunia pendidikan kita masih banyak guru dari kalangan generasi X ke bawah yang diputus kariernya dengan munculnya Permendikbudristek Nomor 40 Tahun 2021 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah. Peraturan ini menegaskan bahwa jalur kepemimpinan pendidikan ke depan adalah dari jalur Guru Penggerak

Program Guru Penggerak ini memerlukan usaha yang benar-benar ekstra di mana seorang calon Guru Penggerak harus mengikuti  pelatihan selama sembilan bulan yang diawali dengan  seleksi administrasi yang sangat ketat. 

Gen X ke bawah dipastikan tidak akan lolos, gugur sebelum berperang, karena ada ketentuan batas usia. Ini merupakan peraturan yang sulit ditembus oleh generasi X ke bawah dikarenakan syarat mutlak untuk ikut pelatihan Guru Penggerak adalah  memiliki usia maksimal 50 tahun. Oleh karena faktor usia ini, mereka guru dari generasi X ke bawah tidak dapat dilibatkan secara utuh dalam program ini. Dikarenakan kariernya sudah ditutup oleh peraturan ini –yang dapat dikategorikan pelanggaran terhadap peraturan di atasnya yaitu Pasal 4 Sisdiknas tentang sistem pendidikan yang non-diskriminasi. 

Namun demikian, terdapat pilihan lain untuk guru-guru senior yang berusia di atas usia 50 tahun. Jika ingin berkontribusi dapat menjadi Guru Praktik yang merupakan partner dan tempat bertanya bagi Guru Penggerak. Tapi sayangnya, untuk mengikuti Program Guru Penggerak pintu sudah ditutup sehingga untuk pengembangan karier menuju jabatan kepala sekolah, misalnya, dipastikan tidak bisa. Sedikit atau banyak, hal ini bisa dikatakan masuk dalam istilah diskriminasi. 

Diskriminasi lain yang tampak untuk guru senior adalah  saat terjadi pembubaran P4TK yang awalnya diperuntukkan untuk semua guru. Kemudian saat ini dibuat Balai Besar Pelatihan Guru Penggerak hampir di semua provinsi yang spesifik bagi Guru Penggerak yang usianya pasti di bawah 50 tahun. Hal ini menunjukkan perlakuan diskriminasi terhadap guru non penggerak. 

Melihat fenomena ini, ada beberapa hal yang patut generasi X ke bawah lakukan di dunia pendidikan saat ini agar tetap berkontribusi positif dalam menunjang program pemerintah dengan caranya sendiri. Mengutip dari pakar pendidikan Ki Darmaningtyas, setidaknya terdapat empat hal yang bisa dilakukan. 

Baca Juga:  Praktik Baik Medi Aminah: Mengatasi Kenakalan Ardan dan Halil di Masa PTM Terbatas

Pertama, tetap optimis dan terus berdoa agar sistem pendidikan di negeri tercinta ini lebih baik  di tahun baru ini yakni di tahun 2023 dengan lahirnya kebijakan-kebijakan baru yang menguntungkan guru lintas generasi. Diharapkan kebijakan-kebijakan yang dibuat memiliki dasar tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Agar Indonesia memiliki daya saing SDM yang berkualitas dan dapat bersaing di kancah internasional.

Kedua, mari kita sebagai guru-guru generasi X ke bawah selalu berupaya mempelajari hal-hal baru dan selalu up to date mengenai perkembangan pendidikan. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memahami Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) secara mandiri melalui modul-modul gratis yang dikeluarkan oleh Kemendikbudristek. Dengan menguasai ilmunya dan menerapkan dalam keseharian serta berusaha sharing dalam bentuk tulisan maupun lisan yang mudah dipahami, akan meningkatkan kapasitas guru senior

Ketiga, menjadi contoh buat siswa dan teman-teman praktisi pendidikan yang lain. Serta berupaya semaksimal mungkin menjadi guru praktik di IKM yang dapat memberikan masukan yang membangkitkan semangat para generasi muda.

Keempat, prioritaskan waktu untuk hal yang penting. Contohnya, meluangkan waktu untuk mendalami ilmu-ilmu baru atau menggali kemampuan yang ingin dikuasai. 

Jika merujuk poin-poin di atas dapat disimpulkan generasi X ke bawah harus lebih bersabar dan harus selalu mau mempelajari hal-hal baru. Misalnya, belajar lagi terkait ilmu pendidikan terkini atau ilmu psikologi anak. 

Dunia pendidikan memang harus mengikuti zaman, jangan sampai muncul pameo bahwa mengajar siswa era industri 4.0 namun gurunya berlatar belakang era industri 30 dan masih menggunakan metode pembelajaran pada era industri 2.0 atau bahkan menggunakan media pembelajaran di era industri 1.0.  

Kita harus memiliki pemahaman menyeluruh bagaimana teknologi mengubah secara dramatis pada aspek sosial, ekonomi, ekologi, dan kehidupan berbudaya serta pola komunikasi. Revolusi industri 4.0 yang terjadi saat ini telah mengubah secara total wajah pendidikan. Oleh sebab itu,  para pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah sebagai regulator dituntut bereaksi cepat terhadap evolusi lanskap industri untuk pendidikan yang berkelanjutan. 

Fenomena yang nampak di depan mata di dunia pendidikan mengharuskan kita sadar akan adanya gelombang pengangguran massal yang melanda dunia. Serta muncul juga jurang kemiskinan yang terus menganga dengan terjerembabnya kita pada arus perubahan teknologi di era kecanggihan era industri  4.0 seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence-AI). (*)

 

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulan untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik. Caranya, klik pada link ini atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Editor: Moh. Haris Suhud

Share :

Baca Juga

Opini

Membangkitkan Minat Siswa Membaca Buku di Rumah
women having a conversation

Opini

Pentingnya Keterbukaan antara Pihak Sekolah dan Orang Tua Siswa dalam Proses Pendidikan

Opini

Dinamika Pembelajaran di SMP Negeri 3 Satu Atap Sambirejo pada Masa Pandemi Covid-19

Opini

Moda Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Opini

Menjadi Guru Berbekal Masa Lalu, Mengajar di Masa Kini, Mengantar Siswa ke Masa Depan
https://naikpangkat.com/terbaru-struktur-kurikulum-merdeka/

Opini

Upaya Meningkatan Minat Baca dan Pengetahuan Anak melalui Ensiklopedia
pembelajaran di masa pandemi

Opini

Efektifkah Pembelajaran Daring selama Pandemi?

Opini

Mengajar Belum Tentu Mendidik