Home / Opini

Rabu, 28 April 2021 - 00:02 WIB

Adil dalam Menilai Siswa

Adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus,dan tulus. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran.

Menjadi seorang guru tidak semudah yang dibayangkan, mulai dari mengajar sampai pada proses pemberian nilai kepada peserta didik. Ada aturan yang harus dipedomani oleh seorang guru terutama dalam memberikan nilai kepada peserta didik. Memberikan nilai yang sama antara peserta didik yang pintar dan yang kurang pintar adalah bentuk ketidakjujuran seorang guru kepada peserta didik.

Bagaimana caranya agar seorang guru dapat berlaku adil kepada peserta didik khususnya dalam pemberian nilai? Tentunya seorang guru harus mengetahui teknik penilaian ketika hendak melakukan penilaian terhadap peserta didik.

Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilain adalah suatu hal yang sangat penting dalam satuan pendidikan. Seorang guru dapat mengetahui tingkat pencapaian atau ketuntasan belajar peserta didik melalui nilai yang diperoleh oleh peserta didik.

Penilaian setiap mata pelajaran meliputi tiga kompetensi yaitu kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan. Untuk mengukur kemampuan peserta didik melalui penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan, seorang guru harus memperhatikan bunyi kompetensi dasar (KD) yang ada pada silabus untuk selanjutnya dibuatkan indikator atau rubrik penilaian.

Metode Penilaian Sikap

Penilaian sikap adalah penilaian terhadap kecenderungan perilaku peserta didik sebagai hasil pendidikan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.  Teknik penilaian sikap dapat dilakukan dengan cara observasi, penilaian diri sendiri, dan penilaian antar teman. Teknik observasi dapat dilakukan dengan mengamati kebiasaan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Seorang guru hendaknya menyediakan jurnal untuk mencatat peristiwa atau kejadian yang dilakukan oleh peserta didik. Asumsinya setiap peserta didik pada dasarnya berperilaku baik sehingga yang perlu dicatat hanya perilaku yang sangat baik (positif) atau kurang baik (negatif) yang muncul dari peserta didik.

Penilaian diri dilakukan dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam berperilaku. Penilaian diri untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dalam berperilaku dapat dilakukan dengan membuat rubrik penilaian tentang bagaimana sikap peserta didik tersebut saat kerja kelompok maupun dalam diskusi dengan kelompok lain. Selain itu penilaian diri juga dapat digunakan untuk membentuk sikap peserta didik terhadap mata pelajaran. penilaian diri untuk membentuk sikap peserta didik terhadap mata pelajaran dapat dilakukan dengan membuat rubrik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar. Dari analisis KD tersebut seorang guru harus mampu menentukan sikap apa yang ingin dibangun untuk peserta didik, apakah sikap rasa ingin tahu, tanggung jawab, menghargai, dan lain-lain.

Baca Juga:  Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Ekonomi pada Siswa

Penilaian antarteman adalah penilaian dengan cara peserta didik saling menilai perilaku temannya. Penilaian antarteman dapat dilakukan pada saat peserta didik melakukan kegiatan di dalam atau di luar kelas. Misalnya pada kegiatan kelompok setiap peserta didik diminta mengamati dan menilai dua orang temannya, dan dia juga dinilai oleh dua orang teman lainnya dalam kelompoknya.

Metode Penilaian Pengetahuan

Penilaian pengetahuan merupakan penilaian untuk mengukur kemampuan peserta didik berupa pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif, serta kecakapan berpikir tingkat rendah sampai tinggi. Tingkat keberhasilan penilaian peserta didik dapat dapat diukur dari kemampuan peserta didik memecahkan indikator yang dibuat oleh guru. Indikator yang dibuat oleh seorang guru seyogyanya menggunakan indikator pendukung, indikator kunci, dan kalau kelas diajar kemampuannya di atas rata-rata maka boleh menyiapkan indikator pengayaan.

Indikator pendukung ibarat anak tangga untuk melangkah ke indikator kunci. Umumnya indikator pendukung bertujuan untuk membantu peserta didik memahami indikator kunci. Kata kerja operasional (kko) yang digunakan di indikator pendukung biasanya setingkat lebih rendah dari kata kerja operasional (kko) di indikator kunci. Indikator kunci adalah indikator yang sangat memenuhi kriteria untuk mengukur ketercapaian standar minimal dari KD. Sementara indikator pengayaan mempunyai tuntutan kompetensi yang melebihi dari tuntutan kompetensi dari standar minimal kompetensi dasar. Pada indikator pengayaan seorang guru dapat menaikkan level kognitif dari kata kerja operasional (kko) yang ada.

Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai dengan karakteristik masing-masing KD. Teknik yang biasa digunakan adalah tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Tes tertulis adalah tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta didik. Tes tertulis menuntut respons dari peserta didik yang dapat dijadikan sebagai representasi dari kemampuan yang dimiliki. Instrumen tes tertulis dapat berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian.

Tes lisan merupakan pemberian soal atau pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal ketika pembelajaran. Jawaban peserta didik dapat berupa kata, frasa, kalimat maupun paragraf. Tes lisan menumbuhkan sikap peserta didik untuk berani berpendapat. Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur dan/atau meningkatkan pengetahuan. Penugasan yang digunakan untuk mengukur pengetahuan (assessment of learning) dapat dilakukan setelah proses pembelajaran sedangkan penugasan yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan (assessment for learning) diberikan sebelum dan/atau selama proses pembelajaran. Penugasan dapat dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.

Baca Juga:  Guru Wajib Tahu! Keuntungan Kurikulum Merdeka Bagi Guru

Metode Penilaian Keterampilan

Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu. Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik antara lain penilaian praktik/kinerja, proyek, portofolio, atau produk.

Penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Pada penilaian unjuk kerja/praktik seorang guru harus terlibat langsung menyaksikan para peserta didik. Contoh kegiatan unjuk kerja/praktik yaitu praktikum di laboratorium, praktik ibadah, praktik olahraga, presentasi, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, dan membaca puisi/deklamasi.

Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, dan penyajian data.

Penilaian produk melibatkan keterampilan konkret yang meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan/atau seni, seperti: makanan (contoh: tempe, kue, asinan, baso, dan nata de coco), pakaian, sarana kebersihan (contoh: sabun, pasta gigi, cairan pembersih, dan sapu), alat-alat teknologi (contoh: adaptor ac/dc dan bel listrik), hasil karya seni (contoh: patung, lukisan, dan gambar), dan barang-barang terbuat dari kain, kayu, keramik, plastik, atau logam.

Portofolio merupakan penilaian berkelanjutan berdasarkan kumpulan informasi yang bersifat reflektif-integratif yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Portofolio adalah kumpulan tugas terbaik peserta didik selama 1 semester.

Penggunaan teknik penilaian keterampilan disesuaikan dengan bunyi KD karena ada beberapa KD yang bentuk tagihannya hanya berupa praktikum tanpa produk, proyek begitu pula sebaliknya. Apabila KD dengan materi yang padat dan membutuhkan praktik, proyek, dan produk maka untuk penilaiannya dirata-ratakan. Apabila dalam satu KD terdapat kegiatan yang sama misalnya praktikum dilakukan dua kali dalam satu KD maka tidak perlu dirata-ratakan tapi ambil nilai tertinggi dari kegiatan praktikum kemudian dijumlahkan dengan nilai proyek dan produk kemudian dirata-ratakan.

Semua guru di Indonesia adalah guru yang hebat, tapi ketidaktahuan teknik penilaian untuk para peserta didik membuat sebagian guru memberikan nilai tanpa dasar kepada peserta didik. Memberikan nilai yang sesuai dengan pencapaian peserta didik adalah bentuk keadilan. Memberi nilai peserta didik adalah sedekah, namun memberi nilai tanpa dasar atau nilai abal-abal kepada peserta didik adalah bentuk ketidakadilan.

Ditulis oleh: Jamaluddin, S.Pd, Guru di MAN Enrekang

Share :

Baca Juga

kendala dalam pembelajaran jarak jauh

Opini

Berbagai Kendala dalam Pembelajaran Daring

Opini

Akhir Perjuangan Seorang Guru Honorer
solidaritas untuk palestina

Opini

Pentingnya Kehidupan Penuh dengan Spiritualitas bagi Pelajar

News

5 Persiapan Calon Guru Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

Opini

Menyiapkan Strategi Mengajar di Abad 21

Opini

Mengenal Perisai (Portal Elektronik Register Informasi Jabatan Fungsional Satu Instansi)

Opini

Kenali Tipe Kecerdasan Anak, Hindari Stereotype Si Bodoh dan Si Pintar

Opini

Membangkitkan Minat Siswa Membaca Buku di Rumah