Sebagai informasi, Jilly merupakan anak dari seorang tukang becak asal Purworejo. Walaupun ia memiliki keterbatasan, Jilly tetap memiliki semangat tinggi dalam mengenyam pendidikan.
Meski Jilly penyandang disabilitas, dirinya tetap mempunyai prestasi yang bagus. Pada semester 5 lalu, ia meraih IPK 3,79. Bahkan ketika di bangku SMK ia mampu menduduki peringkat 10 besar.
Perlu diketahui, salah satu pemicu emosinya yang tidak stabil gara-gara banyaknya tugas yang ia peroleh. Di samping tugas yang menumpuk, ia juga mengemban tanggung jawab di kegiatan lain yang cukup padat, salah satunya organisasi mahasiswa.
Kesibukan Jilly membuatnya tertekan. Karena kelelahan fisik, kondisi emosinya menjadi berubah secara ekstrem.
“Kalau sudah begitu, solusinya saya tinggalkan semuanya sementara, menyendiri, pulang ke kost-an,“ terangnya.
Lalu pihak kampus menyediakan layanan bimbingan dan konseling untuk Jilly. Melalui layanan itu, ia mendapatkan pembimbingan mengontrol mood diri.
“Saya juga punya beberapa teman dekat yang tahu betul kondisi saya dan saya percayai ketika suasana hati saya tiba-tiba berubah,” katanya.
Dalam pergaulan bersama teman-temannya, Jilly lebih banyak mendengar daripada aktif berbicara. Namun, ketika gangguan emosinya muncul, dia memutuskan menyendiri atau pulang ke kos.
“Terkadang ada teman yang berbicara soal kondisi mental, saya meresponsnya dengan diam dan langsung memisahkan diri serta menyendiri,“ ungkap Jilly.
Melansir mayoclinic.org., Bipolar Affective Disorder adalah salah satu gangguan mental di mana penderitanya kerap mengalami perubahan suasana hati yang seringkali tidak terdeteksi dan terkontrol. Si penderita merasa bahagia atau sedih tiba-tiba atau bahkan kedua perasaan itu seringkali tercampur aduk menjadi satu.
Selain Jilly, penyandang disabilitas lain yang memperoleh KIP Kuliah adalah Helda Wati. Helda merupakan mahasiswa prodi Pendidikan Guru Anak Usia Dini Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin pada tahun 2020.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya