Home / Opini

Kamis, 28 Oktober 2021 - 01:39 WIB

Antara Harapan dan Kenyataan dalam Pembelajaran Daring di Masa Pandemi

 

Oleh Sugeng Iryanto

Guru SMK Negeri 1 Malang

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran daring merupakan salah satu solusi jitu di masa pandemi Covid-19 agar peserta didik tetap bisa belajar. Guru Indonesia di manapun berada sangat responsif terhadap perubahan yang terjadi. 

Hal itu bisa dibuktikan dengan ratusan atau bahkan ribuan guru yang mengikuti workshop, webinar maupun diklat yang diselenggarakan baik oleh lembaga pemerintah maupun lembaga swasta. Para guru tersebut tak lain ingin belajar cara paling efektif dalam melaksanakan pembelajaran di masa pandemi. Sebab faktanya, pembelajaran model seperti ini memang masih sangat baru bagi mayoritas guru. 

Namun demikian, masih perlu adanya evaluasi secara komprehensif terkait hasil yang dicapai dalam pembelajaran selama masa pandemi Covid-19, baik dari sisi guru maupun dari sisi peserta didik. 

Dari pihak guru yang jelas telah berupaya semaksimal mungkin bagaimana caranya supaya peserta didik dapat terlayani kebutuhan belajarnya sesuai dengan program pembelajaran yang telah disusun. Walaupun mungkin juga masih ada guru yang belum memaksimalkan kompetensinya dalam menjalankan tugas. Mulai dari penyiapan materi ajar, memeriksa daftar hadir, penugasan, evaluasi, membuat media ajar, lembar kerja, tugas proyek hingga memberi motivasi belajar. 

Meskipun guru telah belajar cara menangani siswa dalam pembelajaran online dan melakukan usaha terbaik, kenyataannya kepatuhan peserta didik dalam proses pembelajaran seringkali tidak sesuai dengan yang diharapkan para guru. Misalnya, untuk hadir saja dalam sebuah pertemuan virtual seperti via Zoom atau Google Meet guru harus menghubungi peserta didik berkali-kali. Itupun masih banyak yang tidak hadir atau bahkan tidak mau bergabung tanpa alasan yang jelas. Selain itu seringkali ditemukan siswa terlambat hadir atau bergabung dalam forum temu maya tersebut dengan berbagai alasan. 

Baca Juga:  SEMINAR NASIONAL GRATIS: Bikin Kelas Daring Anti Boring

Adapun yang sudah tergabung dalam kelas tatap maya mereka tidak mau mengaktifkan kamera dan pasif selama pembelajaran. Ada siswa yang penampilannya yang tidak rapi di hadapan guru, ada yang mau mengaktifkan kamera tetapi tidak konsentrasi atau kurang fokus selama pembelajaran berlangsung. 

Yang tak kalah menjengkelkan adalah ketika siswa dalam pengumpulan tugas seringkali tidak tepat waktu, mengerjakan tugas secara asal-asalan dan bahkan ketika mereka tidak mengumpulkan tugas sepertinya tidak menjadi beban bagi mereka. 

Banyak siswa yang menyalin pekerjaan milik temannya tanpa adanya sentuhan atau pemikiran sendiri dari siswa tersebut. Sehingga hal ini dapat membuat pengembangan daya nalar siswa sangat lemah. Padahal aspek kognitif mereka merupakan landasan pengetahuan sebagai faktor fundamental dalam memahami dan memaknai suatu konsep sebagai bekal literasi. 

Peserta didik terkesan datar saja ketika menerima sajian menu belajar berupa handout, PPT, video pembelajaran tutorial atau video inspiratif, berbagai variasi penugasan yang diberikan, saat diskusi, 

Pembelajaran sinkron atau tatap muka maya melalui Zoom Meet atau Google Meet memang merupakan salah satu solusi pembelajaran terbaik dalam pembelajaran online. Namun dalam kesempatan tersebut seringkali siswa mengutarakan berbagai kendala dan menyampaikan alasan klasik. Dan semua itu harus “dipahami” oleh guru. Sebab, guru tidak bisa atau sulit membuktikan kendala itu, akhirnya menerima begitu saja alasan-alasan yang diberikan. 

Baca Juga:  Berkarier tanpa Harus Melupakan Kodrat sebagai Ibu Rumah Tangga

Sementara itu guru telah bersusah payah dan bekerja secara maksimal mempersiapkan materi dan media pembelajaran untuk disajikan kepada peserta didik—bagaikan menyajikan sebuah menu makanan lezat untuk dihidangkan kepada sang tuannya. 

Di sisi lain dengan sistem pembelajaran daring ini membuat pengembangan kompetensi psikomotorik peserta didik juga tidak bisa sepenuhnya terimplementasi sebagaimana jika pembelajaran dilakukan dengan PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Walaupun mungkin peserta didik dapat dibelajarkan melalui media video tutorial. Namun jika durasi tayang yang lumayan panjang terkadang membuat minat untuk menonton semakin menurun. Sehingga hal ini akan memperparah sisi psikomotorik siswa. 

Jika kondisi demikian terus berlangsung dalam waktu yang lama maka akan sangat membahayakan bagi pola pikir peserta didik terhadap makna pembelajaran pada tingkat pembelajaran di jenjang yang harus mereka tempuh. Artinya satu jenjang pembelajaran akan hilang begitu saja di masa mereka seharusnya bertumbuh daya nalar dan psikomotoriknya. 

Hasil akhir dari proses pembelajaran online hanya berupa angka sebagai konversinya dan predikat hanyalah sebatas formalitas belaka. Itu semua tidak bisa dijadikan tolok ukur yang mencerminkan pencapaian sebuah kompetensi nyata sebagaimana tujuan yang diharapkan dalam proses pendidikan sebenarnya. 

Dapatkan info terbaru dan ikuti seminar atau diklat untuk guru secara gratis yang dapat menunjang profesionalitas serta kompetensi dengan cara menjadi anggota e-Guru.id. Klik pada link INI atau poster berikut untuk gabung menjadi member e-Guru.id!

Share :

Baca Juga

persiapan pembelajaran tatap muka

Opini

Persiapan Menjelang Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Covid-19

Opini

Meningkatkan Karier dan Kompetensi Guru dengan Mengikuti Diklat Online

Opini

Momen Idul Fitri di Aceh 
mempercantik presentasi

Opini

Memanfaatkan Akun Belajar.id untuk Memudahkan Pembelajaran Jarak Jauh
akm

Opini

Mengenal Lebih Dalam tentang Asesmen Kompetensi Minimum atau AKM
pembelajaran online

Opini

Nasib Buruk Guru Honorer dari Dulu sampai Saat Ini
Google Classroom

Opini

Google Classroom sebagai Solusi Pembelajaran Jarak Jauh

Opini

Pengertian Supervisi Guru dan Teknik Pelaksanaannya