Pembelajaran Kontekstual : Mengaitkan Pembelajaran dengan Kehidupan Sehari-Hari

- Editor

Senin, 6 Desember 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembelajarn kontekstual merupakan konesep belajar mengajar yang membantu guru dalam menghubungkan isi materi pembelajaran dengan situasi yang ada di dunia nyata; memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan nyata.

Pembelajaran kontekstual membantu siswa dalam menghubungkan isi materi pembelajaran yang mereka pelajari dengan konteks kehidupan nyata dimana isi pembelajaran itu digunakan. Dengan materi pelajaran yang disusun terpadu, multidisipliner dan dalam konteks yang baik, siswa dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dalam konteks yang sesuai.

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi ketimbang pemberian informasi seperti halnya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama-sama guna menemukan sesuatu yang baru bagi siswa.

Tujuan penerapan pembelajaran kontekstual adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan pemahaman materi yang telah dipelajari dengan mengaitkannya kedalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu, anggota keluarga, masyarakat dan bangsa.

Konsep Dasar

Pendekatan pembelajaran kontekstual mendasarkan mendasarkan diri pada beberapa kecenderungan pemikiran tentang belajar, antara lain adalah sebagai berikut.

Proses belajar

  1. Belajar tidak hanya sekadar menghafal, namun juga siswa harus mampu mengaktualisasikan pengetahuannya di benak mereka sendiri.
  2. Siswa belajar dari mengalami. Siswa mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan tentunya guru tidak memberikan begitu saja.
  3. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsisi yang terpisah, akan tetapi dapat mrncerminkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupannya.
  4. Manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam menyikapi suatu situasi.
  5. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Struktur tersebut akan terus berjalan seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan keterampilan.
  6. Siswa perlu dibiasakan untuk melakukan pemecahan masalah, menemukan sesuatu yang berguna pada dirinya, dan terampil dalam mengelola ide-ide.
  7. Pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan

Transfer belajar

  1. Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan merupakan pemberian dari orang lain.
  2. Keterampilan dan pengetahuan itu diperoleh dan diperluas dari konteks yang terbatas, artinya sedikit demi sedikit.
  3. Siswa harus tahu dan memahami untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan tersebut.

Siswa

  1. Manusia mempunyai mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, sedangkan siswa cenderung untuk belajar hal-hal baru dengan cepat.
  2. Pentingnya strategi belajar. Siswa mudah memperlajari hal-hal baru, akan tetapi tidak dengan pelajaran tertentu, maka dari itu pemilihan strategi belajar yang relevan sangat penting untuk diterapkan oleh guru.
  3. Peran guru sebagai orang dewasa akan membantu menghubungkan antara hal yang baru dan yang sudah diketahui.
  4. Tugas guru adalah memfasilitasi siswa agar informasi baru menuai kebermaknaan, membantu siswa menemukan ide mereka sendiri, dan berusaha menyadarkan siswa untuk menerapkan strateginya masing-masing.

Lingkungan belajar

  1. Pembelajaran yang dikatakan efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada siswa (student centre learning). Lingkungan belajar yang nyaman akan membuat proses transfer pengetahuan menjadi lebih efektif.
  2. Pengajaran harus terfokus pada bagaimana siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi harus dimaksimalkan dan menjadi hal yang dipentingkan dibanding dengan hasilnya.
  3. Umpan balik menjadi hal yang sangat penting bagi siswa, yang berasal dari penilaian bersekala besar.

Esensi dari pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa mengaitkan antara materi yang dipelajarinya dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, proses belajar mengajar akan lebih konkret. lebih bermakna, dan lebih realistis. Pembelajaran kontekstual terbagi kedalam beberapa pendekatan, antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Pembelajaran berbasis masalah

Pendekatan pembelajaran kontekstual dapat dimulai dengan masalah nyata atau masalah yang disimulasikan. Siswa harus menggunakan keterampilan berpikir kritis dan pendekatan pendekatan sistemik untuk menemukan masalah atau isu-isu yang muncul.

 Pendekatan pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang melibatkan siswa dalam pengkajian pemecahan masalah yang memadukan keterampilan dan konsep dari berbagai isi pelajaran. Perolehan informasi yang dalam pendekatan ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masalah, mensintesis informasi, dan menyajikan temuan kepada orang lain.

2. Penggunaan keragaman konteks

Menurut teori koginsi, pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari konteks fisik dan sosial dimana manusia itu berkembang. Pengalaman pembelajaran kontekstual dapat diperkaya apabila siswa belajar keterampilan diberbagai lingkungan, misalnya di sekolah, tempat kerja, keluarga, dan masyarakat.

3. Pengelompokan siswa

Esensi dari pegelompokan siswa adalah agar mereka mampu berbagi informasi dan pengalaman terhadap sesamanya. Oleh karena itu, dalam pengelompokan siswa anggotanya terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari kebiasaan, pengetahuan, kemampuan, dan sejenisnya.

Kolaborasi tim di suatu kelompok dalam kegiatan belajar juga akan belajar saling menghormati keragaman, memiliki sudut pandang yang beragam (luas), dan dapat membangun keterampilan hubungan interpersonal.

4. Dukungan belajar siswa mengatur diri sendiri

Dalam pembelajaran kontekstual, diharapkan siswa dapat mendorong untuk dirinya untuk belajar sepanjang hayat. Dalam hal ini, siswa mampu mencari, menganalisis, dan menggunakan informasi dengan sedikit atau tanpa bimbingan dari orang lain.

Pengalaman pembelajaran kontekstual juga dapat memberikan peluang kepada siswa untuk melakukan percobaan, menyediakan waktu dan struktur kegiatan untuk melakukan refleksi atas kegiatan belajarnya, dan menyediakan dukungan untuk membantu mereka mengubah diri dari individu yang belajar dengan bimbingan orang lain menjadi individu yang belajar secara mandiri.

5. Pembentukan kelompok belajar saling bergantung

Kelompok belajar atau komunitas belajar yang dibangun di sekolah dimaksudkan untuk berbagi pengetahuan, terfokus pada tujuan, dan memberikan peluang untuk saling memberlajarkan antara satu dengan yang lain. Apabila suatu komunitas belajar dibangun di sekolah, maka peran guru hendaknya sebagai fasilitator taupun sebagai pembimbing belajar.

Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan pembelajaran kontekstual memiliki beberapa karakteristik yang akan membedakan dengan karakteristik pembelajaran yang lain. Karakteristik pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut.

  1. Proses pembelajaran

Proses pembelajaran kontekstual mencakup berbagai disiplin pengetahuan sehingga siswa memperoleh perspektif terhadap kehidupan nyata. Melalui penggabungan berbagai disiplin ilmu pengetahuan itu siswa dapat memahami situasi kehidupan nyata, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah secara efektif, membuat keputusan secara tepat dan bijak, serta dapat membangun kreativitas berpikir.

Situasi atau masalah dalam kehidupan nyata jarang direpresentasikan oleh satu disiplin pengetahuan. Apabila siswa terlibat dalam poyek penelitian di kelas, misalnya meneliti tentang perencanaan kota, maka mereka perlu belajar dan menerapkan seni bernegosiasi, memaksimalkan pengetahuan matematika, dan pengetahuan ilmiah lainnya.

2. Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran kontekstual berbasis pada (a) standar disiplin yang ditetapkan secara nasional maupun lokal atau asosiasi profesi; (b) pengetahuan dan keterampilan yang ditetapkan dalam tujuan yang ditetapkan untuk daya guna dan kompetensi tertentu, dan (c) untuk mencapai tujuan pembelajaran, siswa tidak perlu berpikir tingkat tinggi seperti memecahkan masalah, berpikir kritis, dan pembuatan keputusan.

3. Pengalaman belajar

Pengalaman berlajar dalam pembelajaran kontekstual mampu mendorong siswa dalam memnbuat hubungan konteks internal dan eksternal. Siswa memulainya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, dari pengalaman masa lalu, dan situasi tertentu, serta melaksanakan kegiatan dalam ranah eksternal seperti di sekolah, rumah, maupun internet.

Prinsip Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual akan berhasil apabila sasaran utamanya adalah mencari makna dengan menghubungkan pekerjaan akademik dengan kehidupan sehari-hari. Hal demikian akan terjadi apabila siswa memahami tiga prinsip yang akan dijelaskan sebagai berikut.

  1. Prinsip kesaling-bergantungan

Prinsip kesaling-bergantungan mendukung adanya komunitas belajar. Dengan bekerja sama, siswa terbantu dalam menemukan persoalan, merancang persoalan dan memecahkan masalah.

2. Prinsip diferensiasi

Guru yang melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual, siswa akan melihat pentingnya kelas itu tercipta suasana yang memacu kreativitas, keunikan, keragaman, dan kerja sama.

Pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa juga mendukung prinsip deferensiasi untuk menuju keunikan tersebut.

3. Prinsip pengaturan diri

Prinsip pengaturan diri meminta peserta didik untuk mendorong setiap siswa untuk memaksimalkan seluruh potensi yang dimilikinya.

Sasaran dalam pendekatan pembelajaran kontekstual adalah guru membantu siswa untuk mencapai keunggulan akademik, memperoleh keterampilan, dan mengembangkan karakter yang dimiliki mereka dengan cara menghubungkan materi ataupun tugas dengan pengalaman dan pengetahuan mereka.

Berita Terkait

Gaji Guru dan Pensiunan Naik, BKN Sosialisasikan Peraturan BKN Tahun 2024
Bersiap Tanggal Penting untuk Semua Guru TK, SD, SMP, SMA/SMK Sederajat, Mulai Maret 2024
MenPANRB dan Mendikbudristek Sepakat, Formasi Guru pada CASN 2024 Ditambah
PGRI Berhasil Gugat Permendikbud Nomor 26 Tahun 2024, Bagaimana dengan Pengelolaan Kinerja di PMM?
Sebentar Lagi! Berikut Tanggal Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan
Terbaru! Secara Resmi Menteri Keuangan Bagikan Info THR dan Gaji Ke-13 untuk Guru Tahun 2024
Respon Pengurus Besar PGRI Tentang e- Kinerja Guru di PMM : Guru Merasa Terbebani!
Peran Penting Guru dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2024
Berita ini 3,829 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Februari 2024 - 11:20 WIB

Gaji Guru dan Pensiunan Naik, BKN Sosialisasikan Peraturan BKN Tahun 2024

Sabtu, 24 Februari 2024 - 11:32 WIB

Bersiap Tanggal Penting untuk Semua Guru TK, SD, SMP, SMA/SMK Sederajat, Mulai Maret 2024

Sabtu, 24 Februari 2024 - 10:43 WIB

MenPANRB dan Mendikbudristek Sepakat, Formasi Guru pada CASN 2024 Ditambah

Jumat, 23 Februari 2024 - 17:02 WIB

PGRI Berhasil Gugat Permendikbud Nomor 26 Tahun 2024, Bagaimana dengan Pengelolaan Kinerja di PMM?

Jumat, 23 Februari 2024 - 11:34 WIB

Sebentar Lagi! Berikut Tanggal Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan

Kamis, 22 Februari 2024 - 10:59 WIB

Respon Pengurus Besar PGRI Tentang e- Kinerja Guru di PMM : Guru Merasa Terbebani!

Kamis, 22 Februari 2024 - 10:25 WIB

Peran Penting Guru dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2024

Rabu, 21 Februari 2024 - 13:08 WIB

Perhatian untuk Guru! Kemenag Keluarkan Pengumuman Penting Pelaksanaan UAMBN dan UN 2024

Berita Terbaru