Home / Opini

Minggu, 4 April 2021 - 00:15 WIB

Mudah Mengajar Siswa Menulis Puisi dengan Pendekatan Anatomi

Hambatan seorang siswa di sekolah dalam menulis puisi pada umumnya  seputar masalah menemukan ide, mengembangkan gagasan, merangkai kalimat, atau memilih kata. Di samping itu, kesulitan dalam menulis puisi juga dapat juga disebabkan oleh faktor kurangnya minat dan latihan dalam menulis puisi.

Menulis puisi semestinya menjadi kegiatan yang menyenangkan karena dengan menulis puisi siswa dapat mengekspresikan diri. Siswa dapat mengkomunikasikan gagasan dan perasaannya dalam bahasa yang indah dan kata – kata yang terpilih sehingga bisa dinikmati oleh orang lain. Untuk membantu agar lebih mudah dalam menulis puisi, salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan pendekatan anatomi.

Pendekatan anatomi dalam penulisan puisi hanyalah sebagai alat bantu, sebuah cara berpikir. Pendekatan anatomi dalam menulis puisi adalah upaya menulis puisi dengan terlebih dahulu menguraikan atau membagi objek penulisan puisi menjadi bagian – bagian kecil yang menyusun kesatuan. Objek puisi akan diuraikan berdasarkan bagian – bagian yang terkecil selayaknya anatomi tubuh manusia, binatang, atau tumbuhan. Dari proses ini,  akan muncul berbagai alternatif bagian yang dapat dituliskan ke dalam puisi.

Sebagai contoh adalah menulis puisi dengan objek pengamen tua. Dengan pendekatan anatomi, pertama – tama yang dapat dilakukan adalah membagi pengamen tua menjadi bagian – bagian kecil. 

Pengamen tua sebagai objek penulisan puisi dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu kepala, badan, dan kaki. Pembagian ini tidak sebatas pada anggota tubuh, tetapi juga secara mendetail pada bagian – bagiannya seperti kelengkapan atau aksesoris yang dipakai.  

Pada tahap pembagian struktur pengamen tua ini, dapat mempergunakan imajinasi dan pengalaman murid terhadap pengamen tua yang pernah ditemui. Hal ini dimaksudkan untuk menekankan bahwa puisi memang bersifat personal. Ungkapan khas dari penyair yang berkepribadian unik, berbeda satu dengan yang lainnya.

Baca Juga:  10 Trik Jitu Mengajar Masa Kini

Berikutnya adalah mempergunakan hasil anatomi terhadap pengamen tua tersebut dalam kegiatan menulis puisi. Kegiatan penulisan bisa dimulai dari bagian kepala. Bagian kepala bisa diuraikan berdasarkan hasil pengamatan yang meliputi warna rambut yang mungkin sudah memutih, dahi yang penuh kerutan, mata yang seperti menahan rasa sedih, mulut yang tidak berhenti menyanyi, bibir yang kering, penutup kepala, ekspresi yang tergambar pada raut wajahnya, keringat yang menetes  di dahinya.

Penggunaan hasil anatomi bagian kepala ini tidak sebatas mengungkapkan ciri – ciri fisiknya. Murid dapat mempergunakan kepekaan dan imaginasi untuk membuat pencitraan tentang rasa yang sedang berkecamuk sehingga dapat susun menjadi bait seperti berikut ini: 

Di bawah penutup kepala

Menahan terik mentari

Rambutnya memutih

Keringat menjelma hujan

Mata pedih diabaikan

Mulut senantiasa bernyanyi

Penuh asa

Selanjutnya anatomi bagian badan. Pada bagian ini, badan pengamen tua bisa dibagi meliputi keadaan bahu, dada, perut, tangan, otot, punggung, kulit tangan, jemari tangan, jantung, hati, paru – paru. Dalam proses anatomi ini tetap melibatkan unsur imajinasi dan pengalaman yang pernah ditemui. Bahunya yang kelihatan lemah, tangannya yang kurus dan gemetar sedang memegang gitar yang sudah usang, kulit tangannya yang terbakar, nafasnya yang berat, hatinya yang sedang galau. Dari hasil anatomi bagian badan tersebut dapat tersusun bait seperti berikut ini: 

Dengan gitar usang

Ia katakan isi hati

Tentang nasib

Dan doanya sejak pagi

Terakhir adalah anatomi bagian kaki. Bagian ini bisa meliputi paha, lutut, betis, telapak kaki, alas kaki, atau cara berjalan. Hasil anatomi tersebut bisa berupa ia berjalan dengan lunglai karena lelah, ia memakai sandal atau sepatu, sepatunya mungkin sudah ada yang sobek dan kotor. Hasil anatomi pada bagian ini dapat disusun bait sebagai berikut:

Baca Juga:  Menjadi Pribadi yang Menyenangkan di Tempat Bekerja

Entah berapa jarak sudah ia lalui

Dengan alas kaki yang menipis

Tak kuasa menahan panas

Aspal meleleh menembus ke kaki

Tentu saja pendekatan ini tidak mengikat karena hanya sebagai alat bantu. Jika muncul ide yang lain tentu saja akan sangat bagus dalam proses kreatif penulisan puisi. Ide atau penemuan – penemuan baru di luar anatomi tadi tetap dapat dipergunakan. Semisal temuan dengan menambahkan sebait penekanan akan perjuangan pengamen tua tersebut. Adapun tambahannya bisa seperti ini:

Dan kau terus bernyanyi

Untuk doa, asa, dan piring rejeki di hari ini

Dari bagian per bagian yang sudah disusun berdasarkan anatomi tadi lalu disatukan menjadi satu kesatuan. Dalam penyatuan ini bisa ditambahkan judul yang dapat mengikat keseluruhan bait. 

Judul dapat dipilih atau dirumuskan sedemikian rupa sehingga menjadi lebih menarik atau bermakna. Dalam contoh ini, judul yang bisa dipilih semisal Balada Pengamen Tua, Sang Pengamen, Pengamen Tua, Kisah Pengamen Tua. Ketika semua bait disatukan, puisi yang bisa tersusun dengan memperhatikan tipografi adalah sebagai berikut:

Kisah Pengamen Tua

 

Keringat menjelma hujan

Mata pedih diabaikan

Mulut senantiasa bernyanyi

Penuh asa

 

Dengan gitar usang

Ia katakan isi hati

Tentang nasib

Dan doanya sejak pagi

 

Entah berapa jarak sudah ia lalui

Dengan alas kaki yang menipis

Tak kuasa menahan panas

Aspal meleleh menembus ke kaki

 

Dan kau terus bernyanyi

Untuk doa, asa, dan piring rejeki di hari ini

Pendekatan anatomi hanya salah satu pilihan untuk membantu agar murid mendapatkan bahan atau ide yang dapat dituliskan ke dalam bentuk puisi. Pendekatan anatomi mengisi ruang kosong antara murid dengan objek puisinya. 

Dengan pendekatan ini keluhan tidak adanya ide atau tidak ada inspirasi dapat diminimalkan. Penerapan pendekatan anatomi disertai dengan perhatian terhadap diksi, rima, pencitraan, penggarapan tema, serta penyampaian amanat yang jelas akan menghasilkan puisi yang lebih berkualitas.

Ditulis oleh: Yoannes Bowo Prasetiyanto, S. Pd, Guru di SD Tarakanita Citra Raya

Share :

Baca Juga

orang tua idola anak

Opini

Menjadi Orang Tua Idola Anak
flat lay photography of vegetable salad on plate

Opini

Pembelajaran Tata Boga yang Efektif

Opini

PTMT Solusi Tepat Menangkal Dampak Negatif Pembelajaran Daring

Opini

Merangkul Anak Putus Sekolah di Daerah Terpencil Dusun Watubambang
adab minum

Opini

Adab Minum sesuai Ajaran Islam
bosan belajar online

Opini

Pendidikan Seksual dan Perkembangan Peserta Didik
panduan bisnis untuk guru

Opini

Teknologi, Guru dan Pandemi
orang tua jadi guru

Opini

Orang Tua Jadi Guru dalam Pembelajaran di Masa Corona